![]() |
| Aprialus John Punuf menunjukkan jagung gorengnya yang dijual di kampus |
Mahasiswa Semester IV Program Studi (Prodi)
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
IAKN Kupang, Aprialus John Punuf, mengungkapkan hal itu saat diwawancarai
korantimor.com pada Sabtu (23/5/2026).
“Saya jual jagung goreng karena kondisi ekonomi
keluarga saya yang tidak menentu. Orang tua saya hanya petani, dan penghasilan
tergantung hasil bumi seperti jagung dan asam. Jadi saya harus bantu diri
sendiri supaya tetap bisa kuliah,” ungkap Aprialus yang akrab disapa Allo.
Ia menegaskan, usaha kecil yang dijalaninya menjadi
penopang utama kebutuhan hidup dan pendidikan, mulai dari biaya registrasi,
fotokopi, hingga kebutuhan harian.
“Kalau saya tidak jual jagung goreng, mungkin saya
tidak bisa lanjut kuliah karena tidak ada alternatif lain. Usaha ini 100 persen
menopang kehidupan saya,” tegasnya.
Dalam keseharian, Aprialus memanfaatkan waktu luang
di sela-sela perkuliahan untuk berjualan di kampus, bahkan tetap menjalankan
usahanya saat mengikuti kuliah daring.
“Kalau sudah selesai mata kuliah pertama, saya jual
sambil tunggu kelas berikut. Bahkan saat kuliah online, saya tetap ke kampus
sambil jualan,” jelasnya.
Meski harus bekerja keras, ia tetap memprioritaskan
tanggung jawab akademik dan tidak pernah mengabaikan kewajibannya sebagai
mahasiswa.
“Saat kuliah, saya tetap fokus kuliah. Tugas tetap
saya kerjakan. Saya tidak pernah abaikan salah satu,” katanya.
Ia juga mengaku mendapat dukungan penuh dari para
dosen, yang tidak hanya membeli dagangannya tetapi juga memberikan motivasi.
“Bapak/Ibu dosen selalu kasih semangat supaya saya
tetap kuat jalani kuliah dan usaha ini,” tambahnya.
Perjuangan tersebut, menurutnya, bukan sekadar untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter,
kemandirian, dan ketahanan mental.
“Ini cara saya belajar berdiri di atas kaki sendiri.
Saya dilatih jadi kuat, mandiri, dan tidak mudah menyerah,” ujarnya.
Ia mengaku sempat berada di titik lelah dan hampir
menyerah, namun dukungan dari orang tua, dosen, dan teman-teman membuatnya
bangkit kembali.
“Saya hampir menyerah, tapi saya ingat kondisi saya
dan motivasi dari orang-orang sekitar. Itu yang bikin saya bangkit lagi,”
katanya.
Dari pengalaman tersebut, ia belajar membangun
mental, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta bertanggung jawab
terhadap setiap pilihan hidupnya.
Aprialus pun berpesan kepada mahasiswa lain yang
mengalami kesulitan ekonomi agar tidak merasa malu dan tetap berjuang.
“Jangan malu dengan keterbatasan. Itu bukti kalau
kita punya semangat lebih besar dari keadaan. Selagi masih bisa berdiri di kaki
sendiri, jangan pernah gengsi,” pesannya.*** korantimor.com
