Deperti dongeng, negara yang hanya memiliki populasi
524.877 orang, berdasarkan survei World Bank 2024 itu melaju ke babak kedua atau
babak 32 besar turnamen sepakbola paling bergengsi sejagat, sebagai runner-up
grup.
Meski penampilan tim nasional mereka merupakan yang
perdana pada gelaran empat tahunan itu, namun mereka tidak silau oleh nama
besar tim di grup mereka.
Mereka mampu mengumpulkan poin yang cukup untuk
mengamankan tiket ke fase gugur. FIFA bahkan menyebut keberhasilan Tanjung
Verde telah menjadi salah satu kisah paling inspiratif di Piala Dunia 2026.
Pusat Perbudakan
Adapun Tanjung Verde merupakan negara pulau di Afrika,
terletak di sebuah kepulauan di Samudra Atlantik, tepat di lepas pantai barat
negara Guinea-Bissau.
Pemukim tetap pertama di gugusan pulau ini adalah
penjelajah Portugis yang diyakini telah menetap di sana pada tahun 1462.
Secara historis, kepulauan ini digunakan sebagai
tempat persinggahan bagi orang-orang yang diperbudak yang diangkut melintasi
Atlantik, dan untuk kapal-kapal pasokan yang menuju koloni Portugis.
Tanjung Verde tetap berada di bawah kekuasaan
Portugis hingga tahun 1975, seperti dikutip dari laman sejarah Afrika,
Sahistory.
Sejak tahun 1991 Tanjung Verde telah menjadi negara
demokrasi multipartai, dengan perubahan partai penguasa dalam beberapa
pemilihan.
Dalam konteks Afrika, negara ini dikenal karena
pluralisme politik dan stabilitasnya. Pada tahun 2013 Tanjung Verde mengubah
nama resminya di Majelis Umum PBB menjadi Cabo Verde.
Permukiman awal di Tanjung Verde oleh nelayan Arab
dan Afrika hanya diceritakan melalui sejarah lisan, dan tetap menjadi bagian
dari kisah mitologis asal usul kepulauan tersebut.
Secara umum disepakati bahwa Kepulauan tersebut
tidak berpenghuni ketika Portugis pertama kali mendarat pada tahun 1456.
Beberapa penjelajah telah diakui sebagai orang Eropa pertama yang menemukan
Tanjung Verde: Diogo Gomes, Diogo Dias, Diogo Alfonso, dan Alvise Cadamosto.
Tanjung Verde adalah koloni Eropa pertama di iklim
tropis dan dapat dianggap sebagai titik awal Kekaisaran kolonial Portugal.
Permukiman pertama di Tanjung Verde didirikan pada tahun 1462 (30 tahun sebelum
Columbus tiba di Amerika) dan disebut Ribeira Grande.
Pada abad-abad pertama pemerintahan Portugis di
Tanjung Verde, kepulauan tersebut tidak dipandang sebagai koloni melainkan
sebagai perpanjangan Portugal. Hal ini berarti bahwa tidak ada permusuhan yang
besar antara penduduk Tanjung Verde dan otoritas Portugis.
Meskipun penjajah Portugis berusaha membangun
ekonomi berbasis perkebunan, upaya tersebut tidak pernah berhasil secara ekonomi
karena iklim kering tidak kondusif untuk menanam tebu atau kapas.
Oleh karena itu, perbudakan dan perdagangan budak
transatlantik merupakan inti dari perekonomian Tanjung Verde, dan Tanjung Verde
merupakan pos perdagangan bagi orang-orang yang diperbudak yang datang dari
Guinea-Bissau dan menuju Brasil.
Sebab Tanjung Verde terletak strategis di antara
Afrika dan Amerika untuk menjadi pelabuhan pasokan bagi perdagangan budak
transatlantik, baik kapal Portugis maupun kapal asing akan menggunakan pulau-pulau
tersebut untuk mengisi kembali persediaan.
Karena dampak transnasional dari perdagangan budak,
Tanjung Verde menjadi masyarakat yang beragam secara budaya.
Sejumlah orang yang diperbudak yang dibawa ke
Tanjung Verde akan tetap tinggal di sana, dipaksa bekerja di sektor pertanian
di perkebunan Tanjung Verde. Yang lain akan tinggal sebentar di kepulauan
tersebut di mana mereka akan dipersiapkan secara budaya dan material untuk
kondisi kerja dan kehidupan di koloni Portugis lainnya.
Perdana Menteri Tanjung Verde saat ini adalah
Francisco Carvalho. Ia resmi dilantik pada 19 Juni 2026, menggantikan
pendahulunya, Ulisses Correia e Silva, setelah kemenangan partainya (PAICV)
dalam pemilu legislatif. (*)
