Sebanyak
3.900 penari dari Kabupaten Belu, termasuk dari Timor Leste tampil dalam satu
panggung alam raksasa yang mengangkat kekayaan budaya masyarakat Pulau Timor.
Festival
yang mengusung tema "Dance for Friendship" itu sukses menghipnotis
ribuan wisatawan dan tamu undangan.
Dalam acara
ini disaksikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian
bersama Ny. Tri Tito Karnavian, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto
bersama istri, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Istri, Wali
Kota Darwin, Australia, delegasi Timor Leste, perwakilan jajaran Kementerian
terkait, Forkopimda, Ketua Organisasi Wanita, Tokoh adat serta ribuan
masyarakat dan wisatawan.
Pantauan
POS-KUPANG.COM, sejak siang hari ribuan pengunjung telah memadati kawasan
Savana Fulan Fehan.
Lereng-lereng
perbukitan dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan budaya dari
berbagai sudut.
Kendaraan
terus berdatangan hingga menjelang acara dimulai, sementara hamparan savana
yang luas berubah menjadi panggung alam yang megah tanpa sentuhan dekorasi
buatan.
Ketika
alunan gong, kendang/tihar, suling bambu, dan musik etnik Timor mulai dimainkan,
suasana savana berubah hening.
Dari balik
perbukitan, ribuan penari dengan balutan tenun khas Belu berjalan perlahan
menuju arena utama, membentuk iring-iringan panjang yang memukau penonton.
Pertunjukan
kemudian membawa penonton menyelami kehidupan masyarakat Belu melalui drama
kolosal yang memadukan narasi adat, ritual budaya, tradisi menenun, musik
tradisional, tari kreasi, hingga tarian Likurai.
Seluruh
adegan yang dikemas dalam koreografi yang dipimpin Eko Supendi, koreografer
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dengan latar panorama Fulan Fehan yang
menjadi panggung alami.
Kolaborasi
ribuan penari dari Indonesia dan Timor Leste menjadi daya tarik tersendiri.
Gerakan yang serempak, iringan musik tradisional, serta perpaduan busana tenun
dari kedua negara menggambarkan eratnya hubungan budaya masyarakat yang hidup
di Pulau Timor.
Sesekali
tepuk tangan riuh dan teriakan menggema dari ribuan penonton saat para penari
membentuk berbagai formasi di tengah padang savana.
Penampilan
generasi muda melalui tari kreasi yang memadukan unsur tradisional dan modern
turut mendapat sambutan meriah yang berlangsung 1,5 jam lebih.
Menjelang
akhir pertunjukan, suasana berubah semakin khidmat ketika para peserta membawa
Bendera Merah Putih, Bendera Timor Leste, dan Bendera Australia memasuki arena.
Ketiga
bendera dikibarkan berdampingan sebagai simbol persahabatan, perdamaian, dan
kolaborasi antarbangsa yang menjadi semangat Festival Fulan Fehan tahun ini.
Kemeriahan
berlanjut dengan Tebe massal yang melibatkan ribuan penari, tamu kehormatan,
dan masyarakat. Mereka bergandengan tangan membentuk lingkaran besar sambil
mengikuti irama musik tradisional Timor.
Atraksi
penutup semakin memukau ketika sejumlah penunggang kuda memasuki arena dan
mengelilingi lingkaran Tebe.
Kehadiran
para penunggang kuda di tengah hamparan Savana Fulan Fehan menghadirkan nuansa
khas budaya Timor.
Pertunjukan
yang memadukan keindahan alam, seni, budaya, serta semangat persahabatan lintas
negara itu mendapat apresiasi meriah dari para tamu undangan dan ribuan
penonton.
Menteri
Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengaku bangga sekaligus takjub
setelah menyaksikan langsung keindahan tenun khas Belu dalam tarian kolosal
likurai dan kemegahan Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026.
Menurut
Tito, acara ini bukan sekadar karya seni, tetapi warisan budaya yang memperkaya
identitas bangsa Indonesia di mata dunia.
"Saya
merasa bangga dan bahkan iri setelah melihat kain adat tenun dari Belu.
Kekayaan tenun dari NTT semakin memperkaya kebanggaan saya sebagai bangsa
Indonesia karena kita memiliki kekayaan budaya dan seni yang luar biasa,"
ujar Tito.
Tito juga
mengaku terpesona dengan keindahan alam Savana Fulan Fehan yang menjadi lokasi
penyelenggaraan festival. Menurutnya, panorama alam tersebut merupakan anugerah
Tuhan yang tidak dapat dibuat oleh manusia.
"Ini
pertama kali saya datang ke Fulan Fehan. Kalau di Jakarta ada Gelora Bung
Karno, di Bandung atau Bali ada berbagai tempat yang dibangun manusia. Tetapi
di sini kita menikmati padang savana yang berbukit-bukit, dikelilingi Gunung
Lakaan, dengan udara yang segar. Semua ini adalah karya Tuhan Yang Maha Kuasa
yang menjadi kebanggaan masyarakat Belu, NTT, dan Indonesia," tuturnya.
(gus) *** poskupang.com
