banner Pesona Fulan Fehan Kabupaten Belu NTT Tak Terbendung, 3.900 Penari Ciptakan Pertunjukan yang Mengagumkan

Pesona Fulan Fehan Kabupaten Belu NTT Tak Terbendung, 3.900 Penari Ciptakan Pertunjukan yang Mengagumkan


Suara Numbei News - Puncak Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026 di Savana Fulan Fehan, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Sabtu (27/6/2026), menyuguhkan pertunjukan tarian kolosal yang memukau.

Sebanyak 3.900 penari dari Kabupaten Belu, termasuk dari Timor Leste tampil dalam satu panggung alam raksasa yang mengangkat kekayaan budaya masyarakat Pulau Timor.

Festival yang mengusung tema "Dance for Friendship" itu sukses menghipnotis ribuan wisatawan dan tamu undangan.

Dalam acara ini disaksikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama Ny. Tri Tito Karnavian, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto bersama istri, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Istri, Wali Kota Darwin, Australia, delegasi Timor Leste, perwakilan jajaran Kementerian terkait, Forkopimda, Ketua Organisasi Wanita, Tokoh adat serta ribuan masyarakat dan wisatawan.

Pantauan POS-KUPANG.COM, sejak siang hari ribuan pengunjung telah memadati kawasan Savana Fulan Fehan.

Lereng-lereng perbukitan dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan budaya dari berbagai sudut.

Kendaraan terus berdatangan hingga menjelang acara dimulai, sementara hamparan savana yang luas berubah menjadi panggung alam yang megah tanpa sentuhan dekorasi buatan.

Ketika alunan gong, kendang/tihar, suling bambu, dan musik etnik Timor mulai dimainkan, suasana savana berubah hening.

Dari balik perbukitan, ribuan penari dengan balutan tenun khas Belu berjalan perlahan menuju arena utama, membentuk iring-iringan panjang yang memukau penonton.

Pertunjukan kemudian membawa penonton menyelami kehidupan masyarakat Belu melalui drama kolosal yang memadukan narasi adat, ritual budaya, tradisi menenun, musik tradisional, tari kreasi, hingga tarian Likurai.

Seluruh adegan yang dikemas dalam koreografi yang dipimpin Eko Supendi, koreografer Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dengan latar panorama Fulan Fehan yang menjadi panggung alami.

Kolaborasi ribuan penari dari Indonesia dan Timor Leste menjadi daya tarik tersendiri. Gerakan yang serempak, iringan musik tradisional, serta perpaduan busana tenun dari kedua negara menggambarkan eratnya hubungan budaya masyarakat yang hidup di Pulau Timor.

Sesekali tepuk tangan riuh dan teriakan menggema dari ribuan penonton saat para penari membentuk berbagai formasi di tengah padang savana.

Penampilan generasi muda melalui tari kreasi yang memadukan unsur tradisional dan modern turut mendapat sambutan meriah yang berlangsung 1,5 jam lebih.

Menjelang akhir pertunjukan, suasana berubah semakin khidmat ketika para peserta membawa Bendera Merah Putih, Bendera Timor Leste, dan Bendera Australia memasuki arena.

Ketiga bendera dikibarkan berdampingan sebagai simbol persahabatan, perdamaian, dan kolaborasi antarbangsa yang menjadi semangat Festival Fulan Fehan tahun ini.

Kemeriahan berlanjut dengan Tebe massal yang melibatkan ribuan penari, tamu kehormatan, dan masyarakat. Mereka bergandengan tangan membentuk lingkaran besar sambil mengikuti irama musik tradisional Timor.

Atraksi penutup semakin memukau ketika sejumlah penunggang kuda memasuki arena dan mengelilingi lingkaran Tebe.

Kehadiran para penunggang kuda di tengah hamparan Savana Fulan Fehan menghadirkan nuansa khas budaya Timor.

Pertunjukan yang memadukan keindahan alam, seni, budaya, serta semangat persahabatan lintas negara itu mendapat apresiasi meriah dari para tamu undangan dan ribuan penonton.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengaku bangga sekaligus takjub setelah menyaksikan langsung keindahan tenun khas Belu dalam tarian kolosal likurai dan kemegahan Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026.

Menurut Tito, acara ini bukan sekadar karya seni, tetapi warisan budaya yang memperkaya identitas bangsa Indonesia di mata dunia.

"Saya merasa bangga dan bahkan iri setelah melihat kain adat tenun dari Belu. Kekayaan tenun dari NTT semakin memperkaya kebanggaan saya sebagai bangsa Indonesia karena kita memiliki kekayaan budaya dan seni yang luar biasa," ujar Tito.

Tito juga mengaku terpesona dengan keindahan alam Savana Fulan Fehan yang menjadi lokasi penyelenggaraan festival. Menurutnya, panorama alam tersebut merupakan anugerah Tuhan yang tidak dapat dibuat oleh manusia.

"Ini pertama kali saya datang ke Fulan Fehan. Kalau di Jakarta ada Gelora Bung Karno, di Bandung atau Bali ada berbagai tempat yang dibangun manusia. Tetapi di sini kita menikmati padang savana yang berbukit-bukit, dikelilingi Gunung Lakaan, dengan udara yang segar. Semua ini adalah karya Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi kebanggaan masyarakat Belu, NTT, dan Indonesia," tuturnya. (gus) *** poskupang.com



 



Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama