Dalam pernyataannya, Sebby menyebut warga NTT
sebagai saudara bangsa Papua dan mengaku pihaknya telah berulang kali
mengingatkan masyarakat agar tidak datang atau beraktivitas di wilayah yang
masih dilanda konflik bersenjata.
“Itu saudara/i orang NTT sendiri yang salah. Kami
sudah ingatkan berkali-kali ke wilayah konflik bersenjata, tetapi saudara/i
orang NTT selalu abaikan itu,” kata Sebby melalui pesan yang diterima, Jumat
(11/9).
Sebby mengatakan, dirinya memandang masyarakat NTT
memiliki kedekatan dengan masyarakat asli Papua, baik dari sisi cara berbicara
maupun pola kehidupan.
“Sebenarnya orang NTT itu sama dengan orang asli
Papua, karena cara bicara dan cara hidup sama. Tapi orang NTT sendiri yang
tidak menghargai peringatan kami. Siapapun yang tidak menghargai peringatan
kami, termasuk orang Papua pun kami habisi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya masih
memperjuangkan kemerdekaan Papua dan meminta masyarakat, khususnya warga
pendatang, untuk tidak datang ke wilayah yang disebutnya sebagai daerah
konflik.
“Kami masih berjuang untuk merdeka penuh, jadi
alangkah baik jangan datang ke Papua. Anda boleh datang setelah Papua merdeka,”
katanya.
Sebby juga menyampaikan pandangannya terkait
keberadaan ASN dan masyarakat pendatang di Papua. Ia menyebut mereka sebagai
bagian dari kebijakan Pemerintah Indonesia yang menurutnya perlu dihentikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Sebby setelah
insiden yang menewaskan dua warga asal NTT. Ia menyampaikan turut berduka cita
dan meminta masyarakat NTT lainnya untuk tidak mendatangi wilayah yang sedang mengalami
konflik bersenjata.
“Harap maklum dan turut berduka, RIP kepada dua
orang Timor Barat yang korban. Sampaikan kepada semua saudara/i dari NTT untuk
tidak ke wilayah konflik bersenjata,” ujarnya.
Sebby juga menuding Pemerintah Indonesia, TNI dan Polri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas situasi tersebut.(red) *** fajarpapua.com
