Ada
sebuah kursi kosong.
Diam.
Tak bergerak.
Tak pernah berjanji.
Tak pernah berpidato.
Namun
anehnya,
sebuah kursi kosong
bisa membuat manusia saling berebut.
Mereka
berebut tempat duduk,
bukan selalu karena ingin bekerja,
tetapi karena kursi itu
menjanjikan kekuasaan.
Di
negeri ini,
kadang kursi lebih dihormati
daripada manusia yang kelaparan.
Jabatan
lebih cepat dikenali
daripada wajah rakyat.
Seragam
lebih mudah dipercaya
daripada kejujuran.
Dan
tanda tangan
kadang lebih berharga
daripada jeritan mereka
yang tak punya akses
untuk mengetuk pintu kekuasaan.
Lalu
rakyat bertanya:
Ke
mana suara kami?
Pertanyaan
itu menggantung
di udara seperti kabut.
Sebab
negeri ini tidak benar-benar sunyi.
Suara
ada di pasar.
Suara ada di sekolah.
Suara ada di sawah.
Suara ada di jalan berlubang.
Suara ada di rumah-rumah sederhana
yang setiap malam menghitung
berapa rupiah yang tersisa untuk esok.
Tetapi
suara-suara itu
sering kalah keras
oleh suara mesin kekuasaan.
Maka
jangan heran
jika suatu hari rakyat berhenti berbicara.
Bukan
karena mereka tidak punya keluhan.
Mungkin
karena mereka telah belajar
bahwa berbicara tanpa didengar
adalah bentuk lain dari kesunyian.
Kursi
itu tetap kosong.
Dan
kita terus sibuk mencari
siapa yang pantas duduk di atasnya.
Padahal
mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa
yang akan dilakukan
setelah seseorang duduk di sana?
Sebab
kursi tidak pernah membuat seseorang menjadi besar.
Yang
membuat seseorang besar
adalah keberanian untuk turun dari kursi
ketika rakyat membutuhkan pertolongan.
Kursi
bukan mahkota.
Kursi
adalah amanah.
Ia
bukan tempat untuk meninggikan diri,
melainkan tempat untuk melihat
lebih jauh ke bawah—
melihat
mereka yang selama ini
tidak pernah masuk dalam kamera,
tidak pernah disebut dalam pidato,
tidak pernah berdiri di panggung,
tetapi pajak dan keringat mereka
ikut menopang negeri ini.
Jangan
sampai
kita membangun gedung-gedung tinggi
sementara nurani kita tinggal di lantai dasar.
Jangan
sampai
kita berbicara tentang kemajuan
sementara rakyat masih harus bernegosiasi
dengan harga kebutuhan pokok.
Jangan
sampai
kita terlalu sibuk merawat citra
hingga lupa merawat manusia.
Sebab
negeri tidak runtuh
hanya karena jalan rusak.
Negeri
runtuh
ketika ketidakadilan dianggap biasa.
Negeri
tidak menjadi sunyi
karena rakyat tidak punya suara.
Negeri
menjadi sunyi
ketika mereka yang memiliki kekuasaan
tidak lagi mau mendengar.
Maka
biarkan kursi itu kosong sejenak.
Biarkan
ia menjadi cermin.
Agar
siapa pun yang hendak duduk di sana
terlebih dahulu bertanya kepada dirinya:
Apakah
aku datang untuk dilayani,
atau untuk melayani?
Sebab
suatu hari nanti
kursi itu akan kosong kembali.
Jabatan
akan selesai.
Nama akan dilupakan.
Foto akan menguning.
Panggung akan dibongkar.
Yang
tersisa hanyalah jejak.
Dan
sejarah tidak akan bertanya
seberapa empuk kursimu.
Sejarah
akan bertanya:
Ketika
engkau diberi tempat,
siapa yang engkau perjuangkan?
Ketika
engkau diberi suara,
siapa yang engkau dengarkan?
Dan
ketika engkau memiliki kuasa,
apakah rakyat merasa lebih manusia?
Barangkali
itulah kesunyian terbesar negeri ini:
Bukan
karena kursinya kosong.
Tetapi
karena terlalu banyak kursi terisi
dan terlalu sedikit hati
yang benar-benar hadir.
Setapak
Rai Numbei
Jernih melihat fakta.
