Tokoh masyarakat bersama pemuda dan pemudi Numbei
yang terlibat sebagai panitia sedang memperlihatkan bahwa sebuah pesta bukan
sekadar tempat merayakan kebahagiaan dua insan. Pesta juga merupakan ruang
untuk memperlihatkan siapa kita, nilai apa yang kita pegang, dan warisan
seperti apa yang hendak kita tinggalkan kepada generasi berikutnya.
Di antara kemeriahan itu, berdiri sebuah semboyan
sederhana: “No Minuman Keras.” Dua kata yang mungkin terlihat sederhana, tetapi
menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar larangan, melainkan
sebuah pilihan. Pilihan untuk menjaga sukacita agar tidak berubah menjadi luka,
menjaga tawa agar tidak berakhir menjadi pertengkaran, dan menjaga persaudaraan
agar tidak pecah hanya karena sesaat kehilangan kesadaran.
Sebab kebahagiaan sejati tidak membutuhkan mabuk
untuk menjadi indah. Ia cukup hadir melalui senyum, sapaan, tarian, musik,
makanan yang dibagikan, dan terutama melalui hati yang masih mampu mengenali
batas antara kegembiraan dan kehilangan kendali. Kebahagiaan yang benar-benar
bermakna adalah kebahagiaan yang dapat dirasakan bersama tanpa harus
meninggalkan luka bagi siapa pun.
Di sinilah gotong royong menemukan maknanya yang
paling sederhana sekaligus paling luhur. Tokoh masyarakat hadir membawa
keteladanan, sementara pemuda dan pemudi hadir membawa tenaga, semangat, dan
keberanian. Yang tua memberikan arah, yang muda memberikan langkah. Mereka
bekerja bersama, menjaga bersama, dan bertanggung jawab bersama.
Tidak ada yang terlalu besar untuk melayani, dan
tidak ada yang terlalu muda untuk belajar bertanggung jawab. Karena kampung
tidak dibangun hanya oleh mereka yang berbicara di depan, tetapi juga oleh
mereka yang diam-diam bekerja di belakang layar—mengatur kursi, menjaga
ketertiban, menyambut tamu, memastikan acara berjalan baik, hingga pulang
ketika semuanya telah selesai.
Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang paling
ramai pestanya, melainkan masyarakat yang mampu menjaga martabat di tengah
keramaian.
Mungkin ada yang berpikir bahwa pesta tanpa minuman
keras akan terasa kurang meriah. Namun mungkin kita perlu membalik cara pandang
itu. Sebab apa artinya pesta yang berlangsung meriah jika esok harinya
meninggalkan penyesalan? Apa artinya tawa yang tinggi jika akhirnya berubah
menjadi air mata? Apa artinya kebersamaan jika berakhir dengan permusuhan?
Bukankah jauh lebih indah ketika malam berlalu dan
semua orang masih dapat pulang dengan kepala tegak, hati tenang, dan kenangan
yang baik? Malam boleh panjang, musik boleh bergema, tawa boleh memenuhi halaman,
tetapi kesadaran jangan pernah kehilangan tempatnya.
Sebab pesta hanya berlangsung beberapa jam. Namun
sebuah teladan dapat hidup jauh lebih lama. Ia dapat diceritakan kepada
anak-anak, diwariskan kepada pemuda-pemudi, dan perlahan menjadi kebiasaan baru
di tengah masyarakat.
Tanpa kita sadari, sebuah keputusan sederhana hari
ini sedang menanam benih bagi masa depan. Anak-anak muda dapat belajar bahwa
keberanian bukan selalu tentang berani minum, tetapi juga berani berkata tidak.
Kedewasaan bukan tentang seberapa banyak seseorang mampu menghabiskan minuman,
tetapi tentang seberapa kuat ia mampu menjaga dirinya dan orang lain.
Persaudaraan tidak membutuhkan mabuk untuk menjadi erat, dan kegembiraan tidak
harus dibayar dengan kehilangan kesadaran.
Dari Numbei, sebuah pesan kecil sedang menemukan
jalannya.
Kebahagiaan tidak membutuhkan botol untuk menjadi
indah. Ia membutuhkan hati yang tulus untuk merayakannya. Persaudaraan tidak
membutuhkan mabuk untuk menjadi dekat. Ia membutuhkan tangan yang saling menggenggam.
Sebuah pesta tidak harus kehilangan kesadaran untuk disebut meriah, sebab
kemeriahan yang paling indah adalah ketika semua orang dapat pulang membawa
sukacita, bukan penyesalan.
Maka “No Minuman Keras” bukan sekadar tulisan yang
dipasang dan dikumandangkan di sebuah pesta. Ia adalah sebuah pernyataan sikap bahwa masyarakat
masih peduli pada ketenangan, bahwa tokoh masyarakat masih mau memberi teladan,
bahwa pemuda dan pemudi masih memiliki keberanian untuk menjaga nilai, dan
bahwa tradisi dapat berjalan berdampingan dengan kesadaran zaman.
Karena itu, mari kita jadikan semangat ini sebagai
gerakan bersama. Mari para orang tua memberikan teladan kepada anak-anak. Mari
tokoh masyarakat terus menjadi penjaga nilai di tengah kampung. Mari pemuda dan
pemudi menjadi generasi yang bukan hanya kuat dalam tenaga, tetapi juga kuat
dalam prinsip.
Mari kita dukung setiap keluarga di Numbei dan
wilayah sekitarnya yang memilih menyelenggarakan pesta tanpa minuman keras.
Jangan melihatnya sebagai sesuatu yang mengurangi kemeriahan, tetapi sebagai
keberanian untuk membangun kebiasaan yang lebih baik. Mari kita jaga pesta agar
tetap menjadi tempat bertemunya keluarga, bukan tempat lahirnya permusuhan.
Mari kita jaga kebersamaan agar setelah pesta selesai, tidak ada keluarga yang
membawa pulang luka.
Kepada generasi muda Numbei, jadilah generasi yang
berani mengatakan bahwa bersenang-senang tidak harus mabuk, bahwa menjadi keren
tidak harus minum, dan bahwa persaudaraan jauh lebih berharga daripada
kesenangan sesaat. Sebab perubahan sebuah kampung tidak selalu dimulai dari
keputusan besar. Kadang ia dimulai dari sebuah pesta, dari sebuah panitia, dari
sebuah semboyan sederhana, dan dari keberanian bersama untuk berkata: “Kami
ingin bergembira, tetapi kami tidak ingin kehilangan persaudaraan.”
Maka mari kita rawat semangat ini. Bukan hanya untuk
satu pesta, bukan hanya untuk satu keluarga, tetapi untuk setiap pesta, setiap
keluarga, dan setiap generasi yang akan datang. Karena kampung yang baik bukan
kampung yang tidak pernah berpesta. Kampung yang baik adalah kampung yang tahu
bagaimana merayakan kebahagiaan tanpa melukai sesama.
Dan jika hari ini Numbei memilih jalan itu, semoga
pilihan tersebut menjadi benih yang tumbuh semakin kuat—dari satu pesta ke
pesta berikutnya, dari satu keluarga ke keluarga lainnya, hingga menjadi budaya
kebersamaan yang diwariskan kepada anak cucu.
Sebab pada akhirnya, pesta akan selesai. Musik akan
berhenti. Lampu akan dipadamkan. Kursi akan dirapikan. Tamu akan pulang. Tetapi
nilai yang ditanamkan malam itu akan tetap tinggal.
Dan jika suatu hari anak-anak Numbei bertanya, “Mengapa
dulu pesta-pesta kita memilih tanpa minuman keras?” mungkin jawabannya
sederhana: karena orang-orang sebelum kami pernah memilih untuk menjaga kampung
ini dengan cara yang mereka yakini baik.
Dari pilihan kecil itulah, sebuah generasi belajar
bahwa menjaga kebahagiaan adalah bagian dari menjaga persaudaraan.
Numbei, Desa Kateri, Kecamatan Malaka Tengah,
Kabupaten Malaka, tidak hanya sedang menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan.
Numbei sedang menulis sebuah pesan untuk masa depan: bahwa kampung yang besar
bukan hanya kampung yang ramai ketika berpesta, tetapi kampung yang mampu
menjaga martabat ketika semua orang sedang bergembira.
Bersama menjaga nilai, merajut masa depan.
