Saat diwawancarai POS-KUPANG.COM di Puskesmas
Weliman, Paskalia mengatakan, seluruh fasilitas kesehatan harus selalu siap
memberikan pelayanan apabila terjadi kondisi darurat yang membutuhkan
penanganan medis, termasuk terhadap para siswa yang mengalami keluhan kesehatan
setelah mengonsumsi MBG.
"Untuk siswa-siswi yang mengalami kejadian dan
kesakitan karena dugaan keracunan MBG itu, semua fasilitas kesehatan harus
selalu siap," ujar Paskalia.
Penanganan awal terhadap para siswa dilakukan di
Puskesmas Weliman. Para siswa yang sebelumnya dibawa dari SDK Kabukalaran
langsung menjalani pemeriksaan dan observasi untuk mengetahui kondisi kesehatan
masing-masing.
Setelah mendapatkan penanganan medis, sebagian siswa
yang dirawat di Puskesmas Weliman telah menunjukkan kondisi membaik dan
diperbolehkan pulang. Namun, terdapat tiga siswa yang harus dirujuk ke RSUPP
Betun untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
"Semua sudah ditangani di Puskesmas Weliman dan
kondisinya baik. Ada tiga orang yang dirujuk ke RSUPP Betun dan kita sudah
koordinasi dengan Ibu Direktur RSUPP Betun. Semuanya sementara ditangani,"
jelasnya.
Selain tiga siswa yang dirujuk ke RSUPP Betun, satu
pasien masih menjalani perawatan. Kondisi pasien tersebut dilaporkan baik dan
saat ini dipersiapkan untuk diperbolehkan pulang setelah seluruh proses
penanganan medis selesai.
Meski para siswa mengalami keluhan setelah
mengonsumsi makanan MBG, Paskalia menegaskan pihaknya belum dapat memastikan
penyebab pasti kondisi kesehatan yang dialami para siswa tersebut.
Menurutnya, diperlukan pemeriksaan sampel makanan
dan muntahan lasien di laboratorium untuk memastikan apakah keluhan kesehatan
tersebut memang berkaitan dengan makanan MBG atau terdapat faktor lain yang
menjadi penyebab.
"Ini juga kita belum tahu penyebab pastinya.
Kita masih harus lakukan pemeriksaan laboratorium di Kupang," katanya.
Pemeriksaan sampel di laboratorium tersebut dinilai
penting untuk memperoleh kepastian mengenai penyebab keluhan yang dialami para
siswa. Dengan pemeriksaan tersebut, dugaan keracunan tidak hanya didasarkan
pada waktu munculnya gejala setelah para siswa mengonsumsi makanan.
Di tengah penanganan para siswa, Dinas Kesehatan
Kabupaten Malaka juga mengingatkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi
(SPPG) agar memastikan makanan yang disiapkan dan disalurkan kepada para siswa
memenuhi standar keamanan pangan.
Paskalia menekankan bahwa makanan yang diberikan
kepada anak-anak harus benar-benar aman untuk dikonsumsi. Aspek keamanan
pangan, mulai dari proses pengolahan hingga makanan diterima dan dikonsumsi
siswa, perlu menjadi perhatian.
"Yang namanya makanan harus aman untuk
dikonsumsi. Kalau ada kejadian seperti ini, kita lihat supaya ke depannya harus
dijaga," tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 27 siswa SDK
Kabukalaran diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG.
Sejumlah siswa dilaporkan mengalami sakit perut dan muntah-muntah sekitar 30
menit setelah menyelesaikan makanan dan mengembalikan wadah MBG.
Para siswa kemudian dievakuasi ke Puskesmas Weliman
untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Peristiwa tersebut juga
mendapat perhatian dari orang tua siswa, masyarakat, serta aparat kepolisian
yang berada di lokasi.
Hingga kini, kondisi para siswa secara umum
dilaporkan baik setelah mendapatkan penanganan medis. Sementara penyebab pasti
keluhan kesehatan yang dialami para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan
laboratorium dan penelusuran lebih lanjut dari pihak terkait. (ito) *** poskupang.com
