44 Ekor Sapi di Wilayah Kabupaten Belu NTT Mati Mendadak

44 Ekor Sapi di Wilayah Kabupaten Belu NTT Mati Mendadak

ILUSTRASI SAPI - Sebanyak 44 ekor ternak sapi di Desa Nualain, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu mati yang diduga disebabkan oleh penyakit ngorok atau Septicemia epizootica (SE). Kepala Dinas Peternakan Belu, Yoos Djami melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Veteriner, Gusti menyebutkan kematian ternak sapi tersebut terjadi sejak awal hingga akhir Januari. 



Setapak Rai Numbei (Dalan Inuk) - Sebanyak 44 ekor ternak sapi di Desa Nualain, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu mati yang diduga disebabkan oleh penyakit ngorok atau Septicemia epizootica (SE).

Kepala Dinas Peternakan Belu, Yoos Djami melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Veteriner, Gusti menyebutkan kematian ternak sapi tersebut terjadi sejak awal hingga akhir Januari.

"Kematian ternak ini terjadi secara bertahap sejak awal Januari hingga menjelang akhir bulan. Puncaknya terjadi pada pertengahan hingga akhir Januari, ketika cuaca sangat ekstrem dengan hujan yang sangat deras," ungkapnya, ketika dihubungi Pos Kupang. Rabu, 7 Februari 2024.

Menurutnya, penyebab tingginya angka kematian ternak sapi tersebut adalah karena banyaknya sapi yang tidak dikandangkan saat kondisi cuaca ekstrem tersebut.

Gusti menegaskan bahwa saat vaksinasi dilakukan, sapi-sapi tersebut tidak bisa dikumpulkan untuk mendapatkan vaksin.

Gusti juga menambahkan bahwa berdasarkan investigasi lapangan dan wawancara dengan peternak di daerah sekitar, gejala-gejala yang ditemukan menunjukkan kemungkinan infeksi penyakit ngorok.

"Petugas peternakan sudah melakukan investigasi dan wawancara dengan peternak, dari gejala-gejala yang ditemukan menunjukkan kemungkinan infeksi penyakit ngorok. Gejalanya hampir sama yaitu mulutnya mengeluarkan busa dan pembengkakan dileher. Ini adalah penyakit yang sudah menjadi endemik di Kabupaten Belu ," jelas Gusty.

Pemerintah daerah telah menyiapkan vaksin untuk mencegah penyakit ini, namun memang untuk tahun 2023, karena keterbatasan anggaran hanya 50 persen lebih yang melakukan vaksinasi dari jumlah populasi ternak sapi, sehingga tidak menjangkau seluruh ternak di Kabupaten Belu.

Ia juga menyampaikan bahwa terhadap hal tersebut, tindakan telah diambil dengan melakukan pengobatan maupun vaksinasi terhadap ternak yang masih hidup.

"Hingga saat ini, tidak ada laporan kematian tambahan setelah tindakan pengobatan tersebut. Namun demikian, pemantauan akan tetap dilakukan selama 14 hari ke depan," ujarnya.

Menyikapi hal ini, Gusty mengingatkan masyarakat akan tiga hal penting.

Pertama, pentingnya vaksinasi massal yang biasanya dilakukan pada bulan Agustus hingga November untuk mencegah penyebaran penyakit.

Kedua, saat kondisi cuaca ekstrem seperti hujan deras atau panas yang berlebihan, sebaiknya ternak dikandangkan untuk memastikan pemantauan yang lebih baik.

Ketiga, apabila terjadi kematian ternak secara mendadak, segera laporkan ke petugas untuk mencegah penularan yang lebih luas. *** flores.tribunnews.com



Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama