Sebuah Narasi tentang Bangsa yang Enggan Menyelami Pengetahuan (Senandung Akar Rumput)

Sebuah Narasi tentang Bangsa yang Enggan Menyelami Pengetahuan (Senandung Akar Rumput)

rat

Suara Numbei News - Kutipan ini menggema dengan suasana di Indonesia, di mana minat baca masih sangat rendah. Menurut UNESCO, hanya 0,001% orang Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca, artinya dari setiap 1.000 orang, hanya satu orang yang secara rutin membaca. Sayangnya, dominasi budaya lisan, keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, dan kehadiran hiburan digital yang begitu besar menghambat perkembangan literasi. Oleh karena itu, artikel ini akan mengkaji faktor-faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya tingkat literasi di Indonesia dan mengusulkan solusi konkret untuk mendorong budaya membaca di era digital.

Pengaruh Media Sosial terhadap Literasi

Salah satu alasan utama rendahnya tingkat literasi di Indonesia adalah pengaruh besar media sosial terhadap kebiasaan membaca masyarakat. Pesatnya perkembangan platform digital telah mengalihkan perhatian orang dari membaca buku kepada konsumsi konten digital yang singkat dan cepat. Perubahan ini mengurangi kemampuan mereka untuk terlibat dalam membaca yang mendalam dan analisis kritis. Penggunaan media sosial yang berlebihan menyebabkan remaja menghabiskan sebagian besar waktu mereka secara online tanpa tujuan tertentu, sehingga mengurangi keterlibatan mereka dengan buku dan bahan tulisan [1]. Kebiasaan konsumsi media sosial telah berubah secara signifikan, di mana kaum muda Indonesia menghabiskan berjam-jam di media sosial namun meluangkan waktu paling sedikit untuk membaca buku. Akibatnya, meskipun media sosial menyediakan akses informasi yang mudah, hal ini juga mengikis kebiasaan membaca tradisional, yang turut berkontribusi pada krisis literasi di Indonesia.

Keterbatasan Akses pada Bahan Bacaan Berkualitas

Kekhawatiran penting lainnya yang memengaruhi tingkat literasi di Indonesia adalah keterbatasan akses terhadap bahan bacaan berkualitas. Banyak wilayah, terutama daerah pedesaan, kekurangan perpustakaan, toko buku, dan sumber daya literasi digital yang memadai. Tanpa akses ke buku yang menarik, surat kabar, dan bahan edukatif, individu kesulitan mengembangkan kebiasaan membaca yang konsisten. Rasio buku terhadap pembaca di Indonesia sangat rendah, hanya terdapat satu buku untuk setiap 90 orang, jauh di bawah rasio yang direkomendasikan oleh UNESCO, yaitu satu buku per tiga orang [2]. Selain itu, PISA 2022 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-72 dari 80 negara dalam skor membaca, yang mengindikasikan adanya gangguan signifikan dalam akses terhadap sumber bacaan berkualitas.

Peran Pemerintah, Komunitas, dan Keluarga

Untuk mengatasi rendahnya tingkat literasi, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan keluarga. Pemerintah memainkan peran penting dalam pembuatan kebijakan dan pendanaan program literasi, sementara komunitas dan keluarga berkontribusi dengan membangun budaya membaca. Salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan literasi adalah kurangnya dukungan keluarga dan komunitas terhadap kebiasaan membaca, yang menyebabkan ketidakminatan terhadap buku [3]. Selain itu, meningkatkan keterlibatan keluarga dan inisiatif membaca berbasis komunitas, seperti klub buku atau program literasi di sekolah, dapat memberikan dampak yang mendalam terhadap budaya membaca [1]. Dengan menggabungkan kebijakan pemerintah dengan inisiatif yang berasal dari masyarakat, Indonesia dapat menciptakan lingkungan yang mendukung literasi secara berkelanjutan.

Kesimpulan

Singkatnya, peningkatan literasi di Indonesia memerlukan komitmen bersama dari pemerintah, komunitas, dan keluarga untuk mengatasi gangguan digital serta keterbatasan akses terhadap bahan bacaan. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kapasitas intelektual yang mendorong kemajuan bangsa. Dengan mendorong budaya yang menghargai membaca melalui reformasi kebijakan, keterlibatan komunitas, dan dukungan keluarga, Indonesia dapat mengatasi krisis literasinya dan membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan dan terinformasi.

Referensi:

[1] A. Rahmadanita, “Rendahnya literasi remaja di Indonesia: Masalah dan solusi,” Jurnal Pustaka Ilmiah, vol. 8, no. 2, pp. 55–62, 2022, doi: 10.20961/jpi.v8i2.66437.

[2] A. D. Permatasari, K. N. Iftitah, Y. Sugiarti, dan E. O. M. Anwas, “Peningkatan literasi Indonesia melalui buku elektronik,” Jurnal Teknologi Pendidikan, vol. 10, no. 2, 2022, doi: 10.31800/jtp.kw.

[3] T. I. Awalyah, D. N. Maghfiroh, dan I. F. Rahman, “Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat literasi di kalangan remaja,” Cendikia: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, vol. 2, no. 5, pp. 329–339, 2024.



 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama