Pengaruh Media Sosial terhadap Literasi
Salah satu alasan utama
rendahnya tingkat literasi di Indonesia adalah pengaruh besar media sosial
terhadap kebiasaan membaca masyarakat. Pesatnya perkembangan platform digital
telah mengalihkan perhatian orang dari membaca buku kepada konsumsi konten digital
yang singkat dan cepat. Perubahan ini mengurangi kemampuan mereka untuk
terlibat dalam membaca yang mendalam dan analisis kritis. Penggunaan media
sosial yang berlebihan menyebabkan remaja menghabiskan sebagian besar waktu
mereka secara online tanpa tujuan tertentu, sehingga mengurangi keterlibatan
mereka dengan buku dan bahan tulisan [1]. Kebiasaan konsumsi media sosial telah
berubah secara signifikan, di mana kaum muda Indonesia menghabiskan berjam-jam
di media sosial namun meluangkan waktu paling sedikit untuk membaca buku.
Akibatnya, meskipun media sosial menyediakan akses informasi yang mudah, hal
ini juga mengikis kebiasaan membaca tradisional, yang turut berkontribusi pada
krisis literasi di Indonesia.
Keterbatasan Akses pada Bahan Bacaan Berkualitas
Kekhawatiran penting
lainnya yang memengaruhi tingkat literasi di Indonesia adalah keterbatasan
akses terhadap bahan bacaan berkualitas. Banyak wilayah, terutama daerah
pedesaan, kekurangan perpustakaan, toko buku, dan sumber daya literasi digital
yang memadai. Tanpa akses ke buku yang menarik, surat kabar, dan bahan
edukatif, individu kesulitan mengembangkan kebiasaan membaca yang konsisten.
Rasio buku terhadap pembaca di Indonesia sangat rendah, hanya terdapat satu
buku untuk setiap 90 orang, jauh di bawah rasio yang direkomendasikan oleh
UNESCO, yaitu satu buku per tiga orang [2]. Selain itu, PISA 2022 menunjukkan
bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-72 dari 80 negara dalam skor membaca,
yang mengindikasikan adanya gangguan signifikan dalam akses terhadap sumber
bacaan berkualitas.
Peran Pemerintah, Komunitas, dan Keluarga
Untuk mengatasi
rendahnya tingkat literasi, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah,
komunitas, dan keluarga. Pemerintah memainkan peran penting dalam pembuatan
kebijakan dan pendanaan program literasi, sementara komunitas dan keluarga
berkontribusi dengan membangun budaya membaca. Salah satu tantangan terbesar
dalam meningkatkan literasi adalah kurangnya dukungan keluarga dan komunitas
terhadap kebiasaan membaca, yang menyebabkan ketidakminatan terhadap buku [3].
Selain itu, meningkatkan keterlibatan keluarga dan inisiatif membaca berbasis
komunitas, seperti klub buku atau program literasi di sekolah, dapat memberikan
dampak yang mendalam terhadap budaya membaca [1]. Dengan menggabungkan
kebijakan pemerintah dengan inisiatif yang berasal dari masyarakat, Indonesia
dapat menciptakan lingkungan yang mendukung literasi secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Singkatnya, peningkatan
literasi di Indonesia memerlukan komitmen bersama dari pemerintah, komunitas,
dan keluarga untuk mengatasi gangguan digital serta keterbatasan akses terhadap
bahan bacaan. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kapasitas
intelektual yang mendorong kemajuan bangsa. Dengan mendorong budaya yang
menghargai membaca melalui reformasi kebijakan, keterlibatan komunitas, dan dukungan
keluarga, Indonesia dapat mengatasi krisis literasinya dan membangun masyarakat
yang lebih berpengetahuan dan terinformasi.
Referensi:
[1] A. Rahmadanita, “Rendahnya literasi remaja di Indonesia:
Masalah dan solusi,” Jurnal Pustaka Ilmiah, vol. 8, no. 2, pp. 55–62, 2022,
doi: 10.20961/jpi.v8i2.66437.
[2] A. D. Permatasari,
K. N. Iftitah, Y. Sugiarti, dan E. O. M. Anwas, “Peningkatan literasi Indonesia melalui buku elektronik,” Jurnal
Teknologi Pendidikan, vol. 10, no. 2, 2022, doi: 10.31800/jtp.kw.
[3] T. I. Awalyah, D.
N. Maghfiroh, dan I. F. Rahman, “Faktor-faktor
yang menyebabkan rendahnya tingkat literasi di kalangan remaja,” Cendikia:
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, vol. 2, no. 5, pp. 329–339, 2024.