| Rapat bersama Orang tua Wali Peserta didik SD Katolik Naibone bersama Kepala Sekolah dan Dewan Guru sebelum penerimaan raport semester ganjil Tahun Pelajaran 2025/2026 |
Dari sudut pandang
filsafat, analogi ini berangkat dari asumsi deterministik: jika tanah subur dan
air cukup, bunga pasti mekar. Logika ini berbahaya ketika diterapkan pada
manusia. Siswa bukan objek alam, melainkan subjek eksistensial. Ia memiliki
kebebasan, kehendak, dan kemampuan menolak. Dalam kerangka eksistensialisme,
manusia tidak “ditumbuhkan”, melainkan memilih untuk tumbuh. Ketika siswa
gagal, metafora ini secara halus menyalahkan tanah dan air, seolah siswa tak
punya peran apa pun atas hidupnya sendiri.
Guru pun sering
terjebak dalam beban moral yang berlebihan. Dengan menjadikan guru sebagai
tanah, sistem pendidikan menuntutnya selalu subur: sabar tanpa batas,
inspiratif tanpa lelah, berhasil tanpa dukungan struktural. Secara filosofis,
ini adalah bentuk ketidakadilan etis. Guru direduksi menjadi medium, bukan
manusia yang juga rapuh, tertekan oleh kurikulum, birokrasi, dan tuntutan
pasar. Tanah yang terus dipaksa subur tanpa dipupuk akan tandus—dan sistem
jarang mau mengakui itu.
Sementara itu, orang
tua sebagai air kerap dipahami secara simplistik: asal mengalir, tugas selesai.
Psikologi justru menunjukkan sebaliknya. Air bisa menyuburkan, tetapi juga bisa
menenggelamkan. Pola asuh yang penuh tekanan prestasi, kekerasan verbal, atau
perbandingan sosial adalah air yang beracun. Namun dalam wacana publik,
kegagalan siswa lebih sering ditimpakan kepada guru dan sekolah, sementara
kualitas “air” dari rumah jarang dikritisi secara serius.
Dari perspektif
psikologi, metafora ini juga bermasalah karena mengabaikan agensi dan
resiliensi siswa. Banyak anak tumbuh di tanah yang miskin dan air yang keruh,
tetapi tetap mampu bertahan dan berkembang. Ini membuktikan bahwa siswa bukan
sekadar bunga pasif, melainkan subjek psikologis yang aktif membangun makna,
mengelola luka, dan memilih arah hidupnya. Pendidikan yang sehat harus mengakui
kapasitas ini, bukan meniadakannya demi metafora yang rapi.
Lebih jauh, analogi ini
sering dipakai sebagai alat moral untuk menghindari pertanyaan struktural. Jika
bunga layu, kita sibuk memeriksa tanah dan air, tetapi lupa bertanya: bagaimana
iklim sosialnya? Bagaimana kebijakan pendidikannya? Bagaimana ketimpangan
ekonomi dan budaya memengaruhi seluruh ekosistem? Filsafat kritis mengingatkan
bahwa kegagalan pendidikan bukan semata soal relasi personal, tetapi juga soal
sistem yang timpang.
Maka, metafora tanah,
air, dan bunga harus dibaca ulang secara kritis. Guru bukan tanah yang bisa
dieksploitasi tanpa henti. Orang tua bukan air netral yang bebas dari evaluasi
moral. Dan siswa bukan bunga pasif yang tak memiliki suara. Pendidikan adalah
perjumpaan manusia dengan manusia, penuh risiko, kegagalan, dan kemungkinan.
Menggugat metafora ini
bukan berarti menolaknya sepenuhnya, melainkan membebaskannya dari kepalsuan
romantik. Pendidikan tidak akan menjadi manusiawi jika terus disederhanakan.
Sebab manusia tidak tumbuh hanya karena tanah dan air, tetapi karena ia berani
bertanya, melawan, dan mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri.