banner Di Bawah Naungan yang Terlalu Rindang : Catatan Kecil dari Sebuah Pohon Tua

Di Bawah Naungan yang Terlalu Rindang : Catatan Kecil dari Sebuah Pohon Tua



Suara Numbei NewsDi sebuah kota yang tak pernah sepi dari baliho dan janji, tumbuh pohon tua bernama kekuasaan. Akarnya menjalar ke mana-mana, dahannya menaungi banyak kepala, dan batangnya dipeluk oleh beragam makhluk. Ada yang berteduh, ada yang berlindung, dan ada pula yang hidup sepenuhnya dengan menempel.

Mereka yang menempel itu tidak menanam akar. Mereka tidak merawat tanah. Mereka hidup dari getah pohon—getah yang mengalir dari jabatan, proyek, dan akses. Orang-orang menyebut mereka pendukung setia, relawan, atau tim sukses. Namun di antara mereka, ada yang lebih jujur menyebut dirinya: penumpang.

Hidup sebagai penumpang menuntut kecerdikan. Mereka belajar membaca arah angin politik, tahu kapan harus memuji, kapan harus diam, dan kapan harus menyerang musuh penguasa atas nama kesetiaan. Mereka menggugat siapa pun yang berani mengkritik pohon itu, bukan demi kebenaran, melainkan demi menjaga aliran getah agar tak terputus.

Ironisnya, gugatan itu selalu dibungkus bahasa moral. Mereka berkata sedang membela stabilitas, persatuan, bahkan negara. Padahal yang mereka lindungi hanyalah tempat mereka bergantung. Kritik dianggap ancaman, bukan karena salah, tetapi karena bisa menggoyahkan dahan tempat mereka bertengger.

Para parasit itu sering mengaku paling berani. Mereka lantang di media, garang di mimbar, dan agresif di ruang digital. Namun keberanian mereka selalu bersyarat: berani selama ada pohon yang menjamin hidup. Tanpa kekuasaan, suara mereka mendadak lirih, bahkan hilang. Sebab yang mereka perjuangkan bukan nilai, melainkan posisi.

Di hadapan penguasa, mereka tunduk. Di hadapan rakyat, mereka menggugat. Setiap kritik rakyat dijawab dengan tudingan: tidak tahu terima kasih, tidak nasionalis, atau tidak paham politik. Gugatan itu bukan dialog, melainkan tameng. Dengan menggugat, mereka berharap terlihat penting; dengan menyerang, mereka berharap diingat.

Filsafat lama mengajarkan bahwa makhluk parasit tidak pernah benar-benar hidup; ia hanya memperpanjang hidup dari tubuh lain. Begitu pula dalam politik: hidup menumpang melahirkan keberanian palsu dan moral yang mudah dibeli. Mereka berbicara tentang pengorbanan, tetapi takut kehilangan fasilitas. Mereka bicara tentang ideologi, tetapi berganti bendera tanpa rasa malu.

Pohon kekuasaan pun perlahan melemah. Bukan karena serangan dari luar, melainkan karena terlalu banyak yang menghisap dari dalam. Getah mengering, daun menguning, dan tanah di sekitarnya retak. Namun para penumpang tetap bertahan, seolah tak ada yang berubah. Mereka lupa satu hal: ketika pohon tumbang, parasit tidak punya tempat untuk mengadu.

Pada akhirnya, sejarah jarang mencatat mereka. Nama-nama itu menghilang bersama robohnya pohon. Yang tersisa hanyalah pelajaran sunyi: bahwa menggugat tanpa menanam, membela tanpa berpikir, dan hidup tanpa akar, adalah cara paling cepat menjadi bayangan—ramai sesaat, lalu lenyap tanpa makna.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama