Mereka yang menempel
itu tidak menanam akar. Mereka tidak merawat tanah. Mereka hidup dari getah
pohon—getah yang mengalir dari jabatan, proyek, dan akses. Orang-orang menyebut
mereka pendukung setia, relawan, atau tim sukses. Namun di antara mereka, ada
yang lebih jujur menyebut dirinya: penumpang.
Hidup sebagai penumpang
menuntut kecerdikan. Mereka belajar membaca arah angin politik, tahu kapan
harus memuji, kapan harus diam, dan kapan harus menyerang musuh penguasa atas
nama kesetiaan. Mereka menggugat siapa pun yang berani mengkritik pohon itu,
bukan demi kebenaran, melainkan demi menjaga aliran getah agar tak terputus.
Ironisnya, gugatan itu
selalu dibungkus bahasa moral. Mereka berkata sedang membela stabilitas,
persatuan, bahkan negara. Padahal yang mereka lindungi hanyalah tempat mereka
bergantung. Kritik dianggap ancaman, bukan karena salah, tetapi karena bisa
menggoyahkan dahan tempat mereka bertengger.
Para parasit itu sering
mengaku paling berani. Mereka lantang di media, garang di mimbar, dan agresif
di ruang digital. Namun keberanian mereka selalu bersyarat: berani selama ada
pohon yang menjamin hidup. Tanpa kekuasaan, suara mereka mendadak lirih, bahkan
hilang. Sebab yang mereka perjuangkan bukan nilai, melainkan posisi.
Di hadapan penguasa,
mereka tunduk. Di hadapan rakyat, mereka menggugat. Setiap kritik rakyat
dijawab dengan tudingan: tidak tahu terima kasih, tidak nasionalis, atau tidak
paham politik. Gugatan itu bukan dialog, melainkan tameng. Dengan menggugat,
mereka berharap terlihat penting; dengan menyerang, mereka berharap diingat.
Filsafat lama
mengajarkan bahwa makhluk parasit tidak pernah benar-benar hidup; ia hanya
memperpanjang hidup dari tubuh lain. Begitu pula dalam politik: hidup menumpang
melahirkan keberanian palsu dan moral yang mudah dibeli. Mereka berbicara
tentang pengorbanan, tetapi takut kehilangan fasilitas. Mereka bicara tentang
ideologi, tetapi berganti bendera tanpa rasa malu.
Pohon kekuasaan pun
perlahan melemah. Bukan karena serangan dari luar, melainkan karena terlalu
banyak yang menghisap dari dalam. Getah mengering, daun menguning, dan tanah di
sekitarnya retak. Namun para penumpang tetap bertahan, seolah tak ada yang
berubah. Mereka lupa satu hal: ketika pohon tumbang, parasit tidak punya tempat
untuk mengadu.
Pada akhirnya, sejarah
jarang mencatat mereka. Nama-nama itu menghilang bersama robohnya pohon. Yang
tersisa hanyalah pelajaran sunyi: bahwa menggugat tanpa menanam, membela tanpa
berpikir, dan hidup tanpa akar, adalah cara paling cepat menjadi bayangan—ramai
sesaat, lalu lenyap tanpa makna.
