Orang-orang segera
menunjuk: murid itu malas, katanya. Ada pula yang berbisik: gurunya gagal. Di
dunia yang gemar mencari kambing hitam, kesalahan selalu butuh wajah agar
terasa sederhana. Padahal pendidikan tak pernah sesederhana itu.
Sang guru telah
mengajar sesuai buku, sesuai kurikulum, sesuai jam pelajaran. Ia menulis,
menjelaskan, memberi tugas, lalu mengulang. Namun ia lupa satu hal: bahwa murid
bukan halaman kosong yang bisa diisi sembarang tinta. Setiap anak membawa
sejarah—rumah tanpa buku, orang tua yang buta aksara, meja makan yang lebih
sering kosong daripada penuh, dan hari-hari yang dihabiskan membantu orang tua
sebelum sempat membuka buku. Murid itu datang ke sekolah bukan dari titik nol,
tetapi dari titik yang jauh tertinggal.
Namun murid pun bukan
sepenuhnya tanpa tanggung jawab. Ia diam terlalu lama, menerima
ketidaktahuannya seperti takdir. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa sekolah
hanyalah ruang hadir, bukan ruang harapan. Ketika gagal, ia belajar untuk
pasrah. Di sanalah pendidikan kalah: ketika murid berhenti percaya bahwa
belajar dapat mengubah nasib.
Lalu siapakah yang
salah?
Jika filsafat bertanya,
ia akan menjawab: yang salah adalah sistem yang mengira semua anak berangkat
dari garis start yang sama. Sistem yang menilai kecerdasan dari kecepatan,
bukan dari ketekunan. Yang mengukur keberhasilan dari angka rapor, bukan dari
jarak yang ditempuh seorang anak dari keterbatasannya. Guru dipaksa mengejar
target, murid dipaksa mengejar standar, sementara kenyataan hidup dibiarkan
tertinggal di luar pagar sekolah.
Guru sering lupa bahwa
mengajar bukan sekadar menyampaikan, melainkan menemani. Murid sering lupa
bahwa belajar bukan sekadar kewajiban, melainkan perlawanan terhadap nasib.
Keduanya terjebak dalam ruang kelas yang dibentuk oleh kebijakan yang jauh dari
tanah tempat kaki mereka berpijak.
Suatu hari, sang guru
menurunkan kapur dan duduk di samping murid itu. Ia tidak lagi memulai dari
huruf A atau angka satu, melainkan dari cerita: tentang sawah, tentang pasar,
tentang ibu, tentang hidup yang murid itu kenal. Dari sana huruf-huruf mulai
menemukan makna, angka-angka mulai punya fungsi. Belajar tak lagi terasa asing,
karena ia lahir dari kehidupan itu sendiri.
Murid itu pelan-pelan
bisa membaca. Tidak cepat, tidak sempurna, tetapi bertumbuh. Guru itu
pelan-pelan sadar: bahwa mendidik bukan tentang menjadi paling benar, melainkan
paling peduli.
Maka, ketika kita
bertanya siapa yang salah, mungkin jawabannya adalah: kita semua, jika
pendidikan hanya kita pahami sebagai kewajiban administratif, bukan tanggung
jawab kemanusiaan. Namun sekaligus, kita semua juga bisa benar, ketika guru mau
merendahkan ego, murid mau menumbuhkan harapan, dan sistem mau belajar dari
kenyataan.
Sebab pendidikan
sejatinya bukan tentang siapa yang tertinggal, melainkan siapa yang bersedia
menunggu dan menjemput.
