banner Kecerdasan Buatan dan Anak Desa: Siapa yang Diuntungkan oleh Kemajuan?

Kecerdasan Buatan dan Anak Desa: Siapa yang Diuntungkan oleh Kemajuan?

Siswa/i SD Katolik Naibone, Kabupaten Malaka sedang belajar Senam Pagi Indonesia Hebat


Suara Numbei News  - Di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kita seolah sepakat bahwa masa depan pendidikan, ekonomi, dan peradaban akan ditentukan oleh teknologi. AI dipuji sebagai mesin cerdas yang demokratis: siapa pun, di mana pun, dapat belajar dan berkembang hanya dengan sentuhan layar. Namun pertanyaan mendasarnya jarang diajukan: benarkah kemajuan ini menjangkau semua, termasuk anak-anak desa?

Bagi anak desa, AI sering kali bukan realitas, melainkan wacana. Ia hadir dalam pidato pejabat, kurikulum nasional, dan seminar kebijakan, tetapi absen dalam kehidupan sehari-hari. Ketika akses internet masih rapuh, listrik tak selalu menyala, dan sekolah kekurangan guru, berbicara tentang AI sebagai masa depan pendidikan terasa seperti membangun menara di atas tanah yang belum rata.

Dari perspektif filsafat keadilan, situasi ini problematik. John Rawls pernah menegaskan bahwa kemajuan sosial hanya dapat disebut adil jika menguntungkan mereka yang paling kurang beruntung. Jika AI justru mempercepat laju anak kota sementara anak desa tertinggal lebih jauh, maka teknologi ini gagal memenuhi prinsip keadilan moral. Ia tidak netral; ia memilih pihak, meski tanpa suara.

Secara sosiologis, AI berpotensi memperkuat reproduksi ketimpangan. Pierre Bourdieu menyebut bahwa modal—baik ekonomi, sosial, maupun kultural—menentukan posisi seseorang dalam struktur sosial. AI adalah bentuk baru modal kultural dan simbolik. Anak yang sejak dini akrab dengan teknologi, bahasa global, dan logika algoritmik akan lebih siap memasuki arena persaingan. Anak desa, yang kaya pengalaman hidup namun miskin akses digital, berisiko dipandang “kurang kompeten” oleh sistem yang sejak awal tidak dirancang untuk mereka.

Masalahnya bukan pada kecerdasan anak desa, melainkan pada definisi kecerdasan itu sendiri. AI bekerja dengan logika data, kecepatan, dan efisiensi. Sementara kecerdasan anak desa sering tumbuh dari relasi dengan alam, kerja kolektif, dan pengetahuan lokal yang tidak terdokumentasi dalam server global. Ketika hanya satu jenis kecerdasan yang diakui, maka bentuk kecerdasan lain perlahan disingkirkan.

Di sinilah kebijakan publik diuji. Negara tidak cukup hanya mendorong digitalisasi sekolah atau memperkenalkan AI dalam kurikulum. Tanpa pemerataan infrastruktur, pelatihan guru, dan desain teknologi yang sensitif terhadap konteks lokal, kebijakan itu berisiko menjadi formalitas. AI akhirnya hanya dinikmati oleh mereka yang sejak awal sudah memiliki keunggulan.

Lebih jauh, negara perlu bertanya: AI macam apa yang kita bangun? Apakah AI yang meniru logika pasar—kompetitif dan eksklusif—atau AI yang berfungsi sebagai alat emansipasi sosial? AI yang berpihak pada anak desa seharusnya memperkuat pendidikan kontekstual, mengangkat bahasa dan budaya lokal, serta membantu guru, bukan menggantikannya. Teknologi harus menjadi perpanjangan tangan kemanusiaan, bukan pengganti relasi sosial.

Menolak AI bukanlah solusi. Tetapi menerima AI tanpa kritik adalah bentuk kepasrahan yang berbahaya. Anak desa tidak membutuhkan belas kasihan teknologi, melainkan keadilan struktural. Jika kecerdasan buatan benar-benar ingin disebut sebagai tonggak kemajuan, maka ukurannya bukan pada kecanggihan algoritma, melainkan pada keberpihakannya kepada mereka yang selama ini berada di pinggiran.

Sebab kemajuan yang meninggalkan anak desa bukanlah kemajuan, melainkan cara baru untuk melanggengkan ketimpangan—dengan wajah yang lebih modern dan bahasa yang lebih canggih.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama