banner Modernitas yang Lupa Duduk: Pelajaran Sunyi dari Sirih Pinang Timor

Modernitas yang Lupa Duduk: Pelajaran Sunyi dari Sirih Pinang Timor



Suara Numbei NewsModernitas datang ke Timor bukan sebagai tamu yang duduk, melainkan sebagai arus yang berlari. Ia membawa jalan beraspal, gawai di genggaman, dan janji efisiensi. Namun dalam kecepatan itu, ada satu hal yang perlahan tersingkir: kesediaan untuk berhenti dan mendengar. Di titik inilah sirih pinang berdiri sebagai kritik paling jujur terhadap zaman yang tergesa.

Bagi orang Timor, perjumpaan bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan peristiwa moral. Setiap tamu adalah manusia yang harus diakui martabatnya sebelum dipertanyakan kepentingnya. Karena itu, sirih pinang disuguhkan lebih dulu. Ia menunda pertanyaan, memperlambat penilaian, dan memaksa manusia duduk sejajar. Dalam dunia modern yang gemar mengklasifikasi—jabatan, status, pengaruh—sirih pinang menolak hierarki. Semua yang duduk adalah setara.

Modernitas memuja kecepatan dan hasil. Sirih pinang memuliakan proses. Mengunyah sirih pinang membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesediaan menanggung rasa pahit. Ia adalah latihan etis: bahwa relasi tidak bisa dipercepat tanpa kehilangan kedalaman. Dunia hari ini ingin solusi instan, perdamaian cepat, dan dialog singkat. Orang Timor tahu: damai yang tergesa sering menyimpan luka yang ditunda.

Sirih pinang juga mengkritik budaya kepura-puraan modern. Di kota-kota, senyum bisa menjadi topeng, bahasa menjadi strategi. Sirih pinang menolak itu. Bibir yang memerah adalah tanda kehadiran yang tak bisa disembunyikan. Orang yang mengunyah sirih pinang tidak bisa berpura-pura netral. Ia sudah terlibat. Dalam filsafat Timor, perjumpaan sejati selalu menuntut keterlibatan, bukan sekadar kehadiran fisik.

Simbol-simbol sirih pinang adalah kritik diam terhadap logika modern. Daun sirih mengajarkan bahwa kekuatan bukan pada menekan, melainkan membungkus. Pinang yang keras menolak relativisme kosong—hidup perlu prinsip. Kapur mengingatkan bahwa perbedaan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan konflik. Dan tembakau, yang tidak selalu hadir, menegaskan bahwa keintiman tidak bisa diwajibkan; ia tumbuh dalam waktu dan keheningan.

Modernitas sering mengklaim diri netral dan universal. Namun bagi orang Timor, hidup selalu kontekstual dan relasional. Masalah tanah, belis, dan perdamaian antarmarga tidak bisa diselesaikan dengan prosedur semata. Ia membutuhkan duduk bersama, mengunyah sirih pinang, dan mendengar cerita satu sama lain. Hukum tanpa relasi adalah dingin; relasi tanpa kebijaksanaan adalah rapuh. Sirih pinang menjaga keseimbangan itu.

Ironisnya, ketika Timor berusaha “mengejar ketertinggalan”, sirih pinang justru disingkirkan ke sudut rumah, dipanggil hanya saat upacara. Kita lupa bahwa yang disebut modern bukan soal meninggalkan tradisi, melainkan soal apakah manusia tetap dimanusiakan di tengah perubahan. Modernitas yang memutus akar budaya melahirkan manusia cepat, tetapi dangkal.

Krisis zaman ini bukan kekurangan teknologi, melainkan kelebihan kebisingan. Semua ingin bicara, sedikit yang mau mendengar. Sirih pinang menawarkan politik keheningan—sebuah etika untuk menunda bicara agar makna tidak mati. Dalam konteks ini, orang Timor tidak sedang menolak modernitas, tetapi mengajarinya untuk belajar rendah hati.

Sirih pinang adalah kritik sosial yang tidak berteriak. Ia tidak menentang gawai, jalan, atau kemajuan. Ia hanya bertanya: apakah di tengah semua itu, kita masih bersedia duduk bersama? Apakah kita masih mau mengunyah waktu, menanggung pahit, dan membiarkan kata-kata matang sebelum dilepaskan?

Jika modernitas adalah tentang masa depan, maka orang Timor mengingatkan: masa depan tanpa kebijaksanaan masa lalu hanya akan mempercepat kehampaan. Sirih pinang mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan diukur dari seberapa cepat kita sampai, tetapi dari seberapa utuh kita tetap menjadi manusia.

Mungkin dunia tidak perlu menjadi Timor. Tetapi dunia perlu belajar dari Timor—bahwa peradaban tidak dibangun oleh kecepatan, melainkan oleh kesediaan untuk duduk, mengunyah sirih pinang, dan mengakui sesama sebagai saudara sebelum sebagai pesaing.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama