banner Ketika Pintu Sakramen Terasa Berat: Sajak tentang Derma, Kuasa, dan Kerinduan Akan Kasih yang Tulus (Sebuah Sajak Jalan Setapak)

Ketika Pintu Sakramen Terasa Berat: Sajak tentang Derma, Kuasa, dan Kerinduan Akan Kasih yang Tulus (Sebuah Sajak Jalan Setapak)



I. Jalan yang Pernah Suci

Di depan gereja tua itu
jalan berdebu pernah menjadi saksi
langkah-langkah kecil umat
yang datang dengan hati terbuka,
tanpa cemas, tanpa hitungan.

Anak-anak digendong menuju baptisan,
pasangan muda berbisik janji di depan altar,
orang sakit memanggil penguatan terakhir
dengan mata yang pasrah pada rahmat.

Semua percaya:
pintu itu adalah pintu kasih—
bukan pintu transaksi.

 

II. Ketika Angka Mulai Bicara

Namun angin berubah arah.
Bisik doa bercampur dengan desah kekhawatiran.
Derma tak lagi sekadar ungkapan syukur,
melainkan syarat yang tak tertulis
namun terasa tegas.

Pastor,
ketika pelayanan diukur dari tebalnya amplop,
apa yang tersisa dari sabda tentang kemurahan?
Bukankah engkau berdiri di altar
bukan sebagai bendahara rahmat,
melainkan pelayan misteri ilahi?

Sakramen bukan komoditas.
Ia bukan barang yang bisa ditahan
ketika angka tak memenuhi harapan.
Rahmat tak tunduk pada kurs rupiah.

 

III. Wajah-Wajah di Bangku Belakang

Lihatlah mereka—
ibu penjual sayur dengan tangan pecah-pecah,
bapak buruh dengan upah yang selalu kurang,
anak muda yang menabung receh
untuk sekadar membeli lilin kecil.

Mereka datang membawa iman,
bukan laporan keuangan.

Jika pintu sakramen tertutup
karena derma dianggap tak layak,
ke mana mereka harus menaruh harap?
Apakah Tuhan kini hanya hadir
bagi yang mampu membayar?

 

IV. Panggilan yang Terlupa

Pastor,
jubahmu adalah tanda pengabdian,
bukan simbol kuasa untuk menunda berkat.

Engkau ditahbiskan
untuk membasuh kaki yang lelah,
bukan menimbang layak tidaknya
hati yang ingin dikuatkan.

Pelayanan bukanlah kontrak dagang.
Ia panggilan untuk memberi,
bahkan ketika balasan tak seberapa.

Sebab kasih sejati
tak pernah memungut biaya
untuk sekadar menjadi kasih.

Masih ada jalan kecil di samping gereja—
sunyi, sederhana,
tak banyak dilalui.

Di sanalah nurani berjalan pelan,
mengingatkan dengan lembut
bahwa gereja dibangun dari iman umat,
bukan dari ketakutan mereka.

Dan jika suatu hari
engkau kembali menapaki jalan itu, Pastor,
menanggalkan tuntutan berlebih
dan memeluk kembali semangat pelayanan,

umat tak akan menyimpan dendam.
Mereka akan tetap datang,
dengan doa yang sama,
dengan hati yang sama—

karena rahmat,
pada akhirnya,
tak pernah lahir dari paksaan,
melainkan dari kasih
yang bebas dan tulus


.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama