banner Bukan Laboratorium, Tapi Pondok Seng: Kisah Gladi TKA SMPN Kateri Kabupaten Malaka yang Menggugat Negeri

Bukan Laboratorium, Tapi Pondok Seng: Kisah Gladi TKA SMPN Kateri Kabupaten Malaka yang Menggugat Negeri



Suara Numbei News - Senin pagi, 10 Maret 2026, udara desa di wilayah Kabupaten Malaka masih segar ketika beberapa siswa dari SMPN Kateri di Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur duduk rapi di depan laptop yang tersusun di atas meja kayu panjang. Tidak ada ruangan laboratorium komputer yang megah. Tidak ada dinding beton atau pendingin ruangan. Yang ada hanya sebuah pondok sederhana beratap seng, dikelilingi pepohonan dan tanah yang masih basah oleh embun pagi.

Di tempat itulah Gladi TKA digelar pada 10–11 Maret 2026.

Laptop-laptop terbuka. Kabel listrik menjulur seadanya. Guru berdiri di samping siswa, memantau layar satu per satu. Ada yang membungkuk membantu siswa yang kebingungan. Ada yang memastikan jaringan tetap tersambung. Semua berlangsung di ruang terbuka yang lebih mirip pondok kebun daripada laboratorium sekolah.

Namun wajah para siswa tetap serius.
Mata mereka fokus pada layar.
Jari mereka mengetik jawaban dengan hati-hati.

Di tempat sederhana itu, anak-anak desa sedang menguji masa depan mereka.

Ironisnya, di saat yang sama, negeri ini sering berbicara tentang transformasi digital pendidikan. Di layar televisi dan podium konferensi, kata-kata seperti digitalisasi sekolah, smart classroom, dan revolusi pendidikan terdengar begitu megah.



Tetapi di sudut kecil negeri ini, di SMPN Kateri, revolusi itu masih berlangsung di bawah atap seng.

Para siswa tidak protes. Mereka tidak mengeluh tentang meja kayu yang kasar atau jaringan yang kadang putus. Mereka hanya ingin satu hal sederhana: belajar dan mengikuti ujian seperti siswa lain di negeri ini.

Guru-guru pun melakukan hal yang sama. Tanpa fasilitas lengkap, mereka tetap berdiri di samping murid-muridnya, memastikan gladi ujian berjalan. Mereka tahu, jika mereka menyerah pada keterbatasan, maka masa depan anak-anak ini juga ikut menyerah.

Namun kisah ini menyimpan pertanyaan yang seharusnya menggema sampai ke ruang-ruang kekuasaan.

Jika negara mampu membangun gedung-gedung megah, jalan tol yang panjang, dan berbagai proyek besar yang bernilai triliunan rupiah, mengapa masih ada sekolah yang harus menggelar simulasi ujian digital di pondok sederhana?

Gladi TKA di SMPN Kateri bukan sekadar kegiatan sekolah.
Ia adalah potret kecil tentang ketimpangan yang masih nyata.

Anak-anak desa ini sedang belajar tentang komputer, internet, dan masa depan digital. Tetapi mereka melakukannya dengan fasilitas yang bahkan belum sepenuhnya digital.

Ironi itu terasa begitu nyata.

Namun justru dari tempat seperti inilah lahir ketangguhan. Anak-anak SMPN Kateri mungkin tidak memiliki laboratorium komputer yang modern, tetapi mereka memiliki sesuatu yang sering hilang di tempat lain: daya juang.

Mereka membuktikan bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan gedung mewah untuk tumbuh. Tetapi satu hal juga harus diingat: semangat saja tidak cukup jika negara terus menunda pemerataan fasilitas pendidikan.

Gladi TKA di bawah atap seng ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar simulasi ujian. Ia berubah menjadi sebuah pesan diam dari anak-anak desa kepada pemerintah:

Kami siap menghadapi masa depan digital.
Pertanyaannya, apakah negara juga siap menyediakan jalannya?

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama