Di
tempat itulah Gladi TKA digelar pada 10–11 Maret 2026.
Laptop-laptop
terbuka. Kabel listrik menjulur seadanya. Guru berdiri di samping siswa,
memantau layar satu per satu. Ada yang membungkuk membantu siswa yang kebingungan.
Ada yang memastikan jaringan tetap tersambung. Semua berlangsung di ruang
terbuka yang lebih mirip pondok kebun daripada laboratorium sekolah.
Namun
wajah para siswa tetap serius.
Mata mereka fokus pada layar.
Jari mereka mengetik jawaban dengan hati-hati.
Di
tempat sederhana itu, anak-anak desa sedang menguji masa depan mereka.
Ironisnya,
di saat yang sama, negeri ini sering berbicara tentang transformasi digital
pendidikan. Di layar televisi dan podium konferensi, kata-kata seperti digitalisasi
sekolah, smart classroom, dan revolusi pendidikan terdengar begitu megah.
Tetapi
di sudut kecil negeri ini, di SMPN Kateri, revolusi itu masih berlangsung di
bawah atap seng.
Para
siswa tidak protes. Mereka tidak mengeluh tentang meja kayu yang kasar atau
jaringan yang kadang putus. Mereka hanya ingin satu hal sederhana: belajar dan
mengikuti ujian seperti siswa lain di negeri ini.
Guru-guru
pun melakukan hal yang sama. Tanpa fasilitas lengkap, mereka tetap berdiri di
samping murid-muridnya, memastikan gladi ujian berjalan. Mereka tahu, jika
mereka menyerah pada keterbatasan, maka masa depan anak-anak ini juga ikut
menyerah.
Namun
kisah ini menyimpan pertanyaan yang seharusnya menggema sampai ke ruang-ruang
kekuasaan.
Jika
negara mampu membangun gedung-gedung megah, jalan tol yang panjang, dan
berbagai proyek besar yang bernilai triliunan rupiah, mengapa masih ada sekolah
yang harus menggelar simulasi ujian digital di pondok sederhana?
Gladi
TKA di SMPN Kateri bukan sekadar kegiatan sekolah.
Ia adalah potret kecil tentang ketimpangan yang masih nyata.
Anak-anak
desa ini sedang belajar tentang komputer, internet, dan masa depan digital.
Tetapi mereka melakukannya dengan fasilitas yang bahkan belum sepenuhnya
digital.
Ironi
itu terasa begitu nyata.
Namun
justru dari tempat seperti inilah lahir ketangguhan. Anak-anak SMPN Kateri
mungkin tidak memiliki laboratorium komputer yang modern, tetapi mereka
memiliki sesuatu yang sering hilang di tempat lain: daya juang.
Mereka
membuktikan bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan gedung mewah untuk
tumbuh. Tetapi satu hal juga harus diingat: semangat saja tidak cukup jika
negara terus menunda pemerataan fasilitas pendidikan.
Gladi
TKA di bawah atap seng ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar simulasi ujian.
Ia berubah menjadi sebuah pesan diam dari anak-anak desa kepada pemerintah:
Kami siap menghadapi masa depan digital.
Pertanyaannya, apakah negara juga siap menyediakan jalannya?

