![]() |
| Salah aktivitas upacara adat Hamis Batar di Salah Satu Rumah Adat di Kampung Numbei |
Di Numbei, adat Wesei Wehali tidak hidup sebagai
sekadar simbol atau upacara yang dipanggil hanya pada waktu-waktu tertentu. Ia
hadir seperti napas yang mengalir pelan dalam kehidupan sehari-hari. Ia
bersemayam dalam cara orang menyapa sesama, dalam cara orang menghormati yang
tua, dan dalam cara masyarakat menjaga tanah yang diwariskan oleh para leluhur.
Bagi masyarakat Numbei, adat adalah ingatan yang
dijaga bersama. Ia adalah cara manusia mengingat dari mana mereka berasal,
sekaligus pengingat ke mana mereka harus melangkah. Dalam Wesei Wehali, manusia
diajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang
keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur yang telah lebih dahulu pulang
ke pangkuan bumi.
![]() |
| Salah aktivitas upacara adat Hamis Batar di Salah Satu Rumah Adat di Kampung Numbei |
Rumah adat, batu-batu tua, dan tanah tempat upacara
dilakukan bukanlah benda mati. Mereka adalah saksi yang diam, yang menyimpan
cerita tentang perjalanan panjang sebuah komunitas. Setiap ritual adat yang
dilakukan bukan hanya untuk menjaga tradisi, tetapi untuk memperbarui janji
manusia kepada tanahnya—janji untuk hidup dengan hormat, dengan kebersamaan,
dan dengan kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta
kehidupan.
Di Numbei, anak-anak tidak hanya belajar dari buku,
tetapi juga dari cerita yang disampaikan di beranda rumah pada malam hari.
Mereka mendengar kisah tentang leluhur, tentang asal-usul kampung, dan tentang
nilai-nilai hidup yang diwariskan melalui adat Wesei Wehali. Dari cerita-cerita
itu mereka memahami bahwa budaya bukanlah sesuatu yang harus disimpan dalam
museum, melainkan sesuatu yang harus dihidupi dalam sikap dan perilaku
sehari-hari.
Melestarikan adat bagi masyarakat Numbei bukanlah
pekerjaan besar yang penuh kemegahan. Ia justru hidup dalam hal-hal sederhana:
ketika orang tua mengajarkan tata krama kepada anak-anaknya, ketika masyarakat
berkumpul dalam musyawarah adat, atau ketika sebuah upacara kecil dilakukan
dengan penuh hormat kepada leluhur.
Dalam pandangan filosofis masyarakat Numbei, adat
adalah akar yang menahan pohon kehidupan agar tidak tumbang oleh angin zaman.
Tanpa akar itu, manusia bisa saja hidup, tetapi ia akan kehilangan arah. Adat
Wesei Wehali menjadi penuntun yang menjaga agar kehidupan tetap berada dalam
jalan yang seimbang—antara tradisi dan perubahan, antara masa lalu dan masa
depan.
Zaman memang terus berubah. Jalan-jalan baru dibuka,
teknologi masuk ke kampung-kampung, dan generasi muda mulai mengenal dunia yang
lebih luas. Namun di Numbei, perubahan itu tidak serta-merta memutus hubungan
dengan akar budaya. Justru di tengah perubahan itulah masyarakat semakin menyadari
pentingnya menjaga adat sebagai identitas yang memberi makna pada keberadaan
mereka.
Karena bagi masyarakat Numbei, adat bukanlah sesuatu
yang menahan langkah manusia. Sebaliknya, adat adalah kompas yang menuntun
perjalanan hidup. Ia mengingatkan bahwa sejauh apa pun manusia pergi, selalu
ada tanah asal yang memanggilnya pulang.
Dan di tanah itulah, di Kampung Numbei yang
sederhana, adat Wesei Wehali terus hidup—tidak dengan suara yang keras, tetapi
dengan kesetiaan yang sunyi. Ia hidup dalam ingatan orang-orangnya, dalam
doa-doa yang diucapkan pelan, dan dalam keyakinan bahwa budaya yang dijaga
dengan hati tidak akan pernah benar-benar hilang.
Seperti tanah yang setia menumbuhkan benih, demikian
pula Numbei menjaga adatnya. Pelan, tenang, namun penuh makna.
Sebab bagi masyarakat kampung ini, melestarikan adat
bukan hanya tentang menjaga masa lalu—melainkan tentang menjaga arah kehidupan
agar tetap berakar pada kebijaksanaan leluhur. 🌿

