banner Menunggu di Layar Info GTK: Jeritan Sunyi Guru tentang Tunjangan yang Tak Serentak (Rintihan Hati Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa)

Menunggu di Layar Info GTK: Jeritan Sunyi Guru tentang Tunjangan yang Tak Serentak (Rintihan Hati Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa)



Di ruang-ruang kelas yang sederhana,
kami mengajarkan anak-anak tentang kepastian:
bahwa kerja keras akan berbuah hasil,
bahwa kejujuran akan dihargai,
bahwa negara hadir untuk melindungi warganya.

Namun setiap bulan, ketika kami membuka layar Info GTK,
pelajaran itu seperti berbalik menampar kami sendiri.

Ada yang datanya hijau, ada yang merah.
Ada yang cair, ada yang tertahan.
Ada yang menerima, ada yang hanya menunggu.
Semua terjadi dalam satu profesi yang sama,
dalam satu sistem negara yang sama.

Padahal hukum negeri ini sudah jelas.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru yang memiliki sertifikat pendidik berhak menerima tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok sebagai bentuk pengakuan atas profesionalitasnya.
Kemudian Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2009 kembali menegaskan bahwa tunjangan profesi adalah bagian dari kebijakan peningkatan kesejahteraan guru.

Namun di antara bunyi pasal dan realitas lapangan,
terdapat jurang yang terlalu lebar.

Negara membangun sistem digital bernama Dapodik dan Info GTK,
mengklaimnya sebagai simbol modernisasi birokrasi pendidikan.
Tetapi bagi banyak guru, sistem itu sering terasa seperti labirin administratif:
rumit, lambat, dan penuh ketidakpastian.

Kesalahan kecil dalam data bisa membuat tunjangan tertunda berbulan-bulan.
Validasi yang tak kunjung sinkron membuat guru terjebak dalam antrean digital yang tak terlihat.
Yang lebih menyakitkan: pencairan sering tidak serentak.

Di satu daerah guru sudah menerima,
di daerah lain guru masih menunggu dengan wajah yang sama letihnya.
Bukan karena mereka tidak bekerja.
Bukan karena mereka tidak mengajar.
Tetapi karena sistem belum mampu berjalan dengan adil.

Ironisnya, negara terus menuntut guru menjadi profesional.
Guru harus menyiapkan administrasi rapi,
mencapai target kurikulum,
mengikuti pelatihan,
mengisi data,
melaporkan kinerja.

Namun ketika tiba giliran negara memenuhi hak guru,
yang datang justru notifikasi yang samar:
“data belum valid.”

Padahal bagi sebagian guru di pelosok,
tunjangan profesi bukan sekadar penghargaan.
Ia adalah napas ekonomi keluarga.
Ia adalah uang sekolah anak.
Ia adalah beras di dapur yang harus tetap ada.

Ketika pencairannya terlambat atau tidak serentak,
yang terdampak bukan hanya guru,
tetapi seluruh lingkaran kehidupan di sekitarnya.

Di sinilah kritik ini perlu disampaikan secara jujur:
negara terlalu sering menuntut dedikasi guru, tetapi lambat membenahi sistem yang melayani mereka.

Birokrasi pendidikan tampak rajin membuat regulasi,
namun sering lalai memastikan sistem berjalan dengan adil dan efisien.

Modernisasi tidak cukup dengan aplikasi.
Digitalisasi tidak cukup dengan portal daring.
Jika sistem tetap membuat guru menunggu tanpa kepastian,
maka teknologi hanya berubah menjadi birokrasi lama yang diberi wajah baru.

Kami tidak menulis ini untuk menolak aturan.
Kami tidak menulis ini untuk menuntut keistimewaan.

Kami hanya mengingatkan bahwa keadilan bagi guru bukan sekadar soal anggaran, tetapi soal martabat profesi.

Sebab bangsa yang serius membangun pendidikan
tidak akan membiarkan para gurunya
terus hidup dalam ketidakpastian administratif.

Negara mungkin bisa menunda sistem.
Negara mungkin bisa menunda anggaran.
Tetapi satu hal yang tidak boleh ditunda terlalu lama adalah
kepercayaan guru kepada negara.

Karena ketika kepercayaan itu perlahan terkikis,
yang runtuh bukan hanya kesejahteraan guru—
melainkan fondasi moral pendidikan itu sendiri.

Dan pada hari itu,
kelas-kelas mungkin masih berjalan,
pelajaran masih disampaikan,
anak-anak masih membaca buku.

Tetapi di dalam hati para guru,
akan selalu ada pertanyaan sunyi:

apakah negara benar-benar menghargai mereka yang setiap hari membangun masa depannya?

 



Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama