Di
negeri bernama Indonesia, kebaikan sering diumumkan lebih keras daripada
dilaksanakan. Spanduk lebih rapi dari dapur. Janji lebih harum dari lauk yang
tersaji.
Program
Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dengan gegap gempita. Ia dielu-elukan sebagai
penolong generasi, sebagai fondasi karakter, sebagai bukti negara hadir di sela
perut yang kosong. Piring-piring dibagikan, kamera dinyalakan, pidato
dilantangkan.
Namun
siapa yang berani bertanya:
apakah yang dibagikan itu benar-benar gizi,
atau sekadar citra yang digoreng hangat-hangat?
Kita
diajari bahwa makan bersama membentuk disiplin. Bahwa antre rapi menumbuhkan
karakter. Tapi karakter tak pernah tumbuh dari nasi yang tak layak. Ia tak lahir
dari dapur yang dikerjakan tergesa-gesa demi laporan serapan anggaran.
Karakter
tidak dibangun oleh proyek.
Ia dibangun oleh keteladanan.
Dan keteladanan dimulai dari kejujuran.
Ironinya,
ketika kritik muncul, yang tersinggung bukan nurani—melainkan reputasi.
Seolah-olah mempertanyakan mutu makanan sama dengan meragukan cinta pada
bangsa. Seolah-olah mengoreksi adalah bentuk pembangkangan.
Padahal
yang dipertaruhkan bukan gengsi pejabat.
Yang dipertaruhkan adalah tubuh anak-anak.
Jika
koperasi dilibatkan, bagus. Jika ekonomi lokal digerakkan, mulia. Tapi koperasi
tanpa pengawasan hanyalah perantara baru dalam rantai lama: proyekisme. Kita
terlalu sering melihat niat baik berubah bentuk menjadi ladang pembagian peran.
Piring
itu seharusnya sunyi dan bersih.
Bukan riuh oleh tepuk tangan.
Bukan berat oleh kepentingan.
Pemerintah
gemar berkata: ini demi masa depan.
Tetapi masa depan tidak tumbuh dari tergesa-gesa.
Ia tumbuh dari keseriusan yang konsisten.
Anak-anak
tidak butuh seremoni.
Mereka butuh makanan yang layak.
Mereka tidak butuh slogan tentang karakter.
Mereka butuh contoh integritas dari orang dewasa.
Jika
piring itu kotor, jangan salahkan yang mengkritik.
Jika lauknya bermasalah, jangan salahkan yang bersuara.
Karena
cinta pada negeri bukan berarti diam.
Kadang cinta justru berbentuk sindiran paling keras.
Negara
yang kuat bukan yang anti-kritik.
Negara yang kuat adalah yang berani bercermin.
Dan
hari ini, cermin itu ada di atas meja makan sekolah—
di dalam piring sederhana yang seharusnya berisi gizi,
bukan ambisi.
