Gerhana bulan total terjadi ketika Bumi berada tepat
di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangan Bumi menutupi Bulan sepenuhnya.
Saat fase totalitas, Bulan tidak menghilang, melainkan berubah warna menjadi
merah tembaga atau jingga pekat.
Perubahan warna tersebut terjadi karena atmosfer
Bumi membiaskan cahaya Matahari dan hanya menyisakan spektrum merah yang
mencapai permukaan Bulan. Inilah yang membuat fenomena ini dijuluki Blood Moon.
Berdasarkan jadwal astronomi, fase gerhana total di
wilayah WITA dimulai pukul 19.04 WITA, dengan puncak gerhana pada pukul 19.33
WITA, dan berakhir pukul 20.03 WITA. Sementara seluruh rangkaian gerhana
diperkirakan selesai pada pukul 22.24 WITA.
Dengan durasi totalitas sekitar 59 menit, masyarakat
memiliki waktu cukup panjang untuk menyaksikan Bulan yang tampak memerah
sepenuhnya di langit malam.
Fenomena ini aman diamati secara langsung dengan
mata telanjang tanpa alat pelindung khusus, berbeda dengan gerhana matahari.
Pengamatan dapat dilakukan dengan melihat ke arah timur saat Bulan mulai terbit
hingga berada lebih tinggi di langit.
Untuk mendapatkan pemandangan optimal, masyarakat
disarankan memilih lokasi terbuka dan minim polusi cahaya. Penggunaan teleskop
atau binokular juga dapat membantu melihat detail permukaan Bulan yang berubah
warna dengan lebih jelas.
Selain menjadi fenomena langka, gerhana bulan total
kali ini disebut sebagai gerhana terakhir yang dapat diamati jelas dari Indonesia
sebelum peristiwa serupa diperkirakan terjadi kembali pada 31 Desember 2028.
Gerhana ini juga bertepatan dengan fase bulan purnama yang dikenal sebagai
“Worm Moon”. *** rri.co.id
