banner Relevansi “Dusta di Balik Narasi Kebenaran Kekuasaan” dengan Kepemimpinan Negeri Ini

Relevansi “Dusta di Balik Narasi Kebenaran Kekuasaan” dengan Kepemimpinan Negeri Ini

Ketika dunia bergerak ke era modern, kebohongan tidak lenyap, ia hanya berganti wajah. Mitos dewa digantikan propaganda sistematis; kesakralan simbolik bergeser menjadi rasionalitas administratif. (Gambar: ChatGPT Image)


Suara Numbei News - Sejak awal peradaban politik, kekuasaan hampir selalu memiliki kecenderungan yang sama: membangun narasi tentang dirinya sendiri. Narasi itu biasanya tampil dalam bentuk bahasa yang meyakinkan—pembangunan, stabilitas, kemajuan, kesejahteraan rakyat. Kata-kata tersebut terdengar luhur dan menjanjikan. Namun sejarah mengajarkan bahwa di balik kata-kata yang indah itu, sering tersembunyi ruang gelap yang jarang diperlihatkan kepada publik. Kekuasaan tidak hanya memerintah melalui kebijakan, tetapi juga melalui penguasaan cerita tentang realitas.

Dalam filsafat politik modern, Michel Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan tidak sekadar memaksa atau menindas secara langsung. Kekuasaan juga bekerja melalui produksi pengetahuan dan wacana. Artinya, mereka yang memegang kekuasaan memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang dianggap benar, rasional, dan dapat diterima oleh masyarakat. Kebenaran kemudian tidak lagi berdiri sebagai sesuatu yang sepenuhnya objektif, tetapi sering kali menjadi hasil dari proses politik yang panjang.

Dalam konteks kepemimpinan di negeri ini, refleksi tersebut terasa sangat relevan. Negara modern sering membangun legitimasi melalui statistik, laporan keberhasilan, pidato politik, dan citra media. Program pembangunan dipresentasikan sebagai bukti keberhasilan pemerintahan, sementara kritik sering diposisikan sebagai sikap pesimistis atau bahkan dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas nasional. Dalam situasi seperti ini, narasi kekuasaan perlahan berubah menjadi kebenaran resmi yang jarang dipertanyakan secara mendalam.

Padahal realitas sosial sering kali jauh lebih kompleks daripada cerita yang disampaikan oleh kekuasaan. Di balik angka pertumbuhan ekonomi, misalnya, masih ada persoalan kesenjangan sosial, pengangguran, serta ketidakmerataan pembangunan di berbagai daerah. Di balik klaim keberhasilan pendidikan, masih terdapat sekolah-sekolah yang kekurangan fasilitas dan tenaga pengajar. Narasi keberhasilan negara sering berdiri di atas panggung yang terang, sementara realitas masyarakat kadang tersembunyi di balik tirai yang gelap.

Pemikir politik seperti Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam politik modern bukan hanya kebohongan itu sendiri, tetapi ketika kebohongan tersebut terus diulang hingga masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan fakta dan propaganda. Ketika narasi kekuasaan disebarkan secara masif melalui institusi, media, dan simbol-simbol politik, masyarakat perlahan dapat terbiasa menerima cerita tersebut tanpa mempertanyakan kebenaran di baliknya.

Sejarah Indonesia memberikan pelajaran penting tentang bagaimana narasi kekuasaan dapat berubah dari satu zaman ke zaman lain. Pada masa Sukarno, negara membangun narasi besar tentang revolusi, persatuan nasional, dan perjuangan melawan imperialisme. Narasi tersebut berhasil membangkitkan semangat nasionalisme, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan dinamika politik yang kompleks.

Pada periode berikutnya, di bawah kepemimpinan Suharto, negara mengembangkan narasi yang berbeda: stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Narasi ini berhasil menciptakan citra kemajuan dan ketertiban, tetapi sejarah kemudian menunjukkan bahwa stabilitas tersebut juga disertai dengan pembatasan kebebasan politik dan dominasi kekuasaan yang sangat kuat. Ketika krisis ekonomi dan tekanan sosial semakin besar, narasi stabilitas itu akhirnya runtuh dalam peristiwa besar yang dikenal sebagai Reformasi 1998.

Peristiwa tersebut menunjukkan satu pelajaran penting: narasi kekuasaan tidak pernah benar-benar permanen. Selama masyarakat masih memiliki ingatan kolektif dan keberanian untuk bertanya, setiap cerita resmi suatu hari akan diuji oleh realitas sejarah.

Di era demokrasi saat ini, tantangan justru menjadi lebih kompleks. Kekuasaan tidak lagi hanya memanfaatkan propaganda negara seperti pada masa otoritarianisme, tetapi juga memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial untuk membangun citra politik. Narasi keberhasilan dapat disebarkan secara cepat, sementara kritik sering tenggelam dalam kebisingan informasi yang tak terkendali. Dalam situasi seperti ini, batas antara fakta dan opini sering menjadi kabur.

Karena itu, relevansi refleksi tentang “dusta di balik narasi kekuasaan” bagi pemimpin negeri ini terletak pada kesadaran etis dalam menggunakan kekuasaan. Pemimpin yang hanya berfokus pada pencitraan akan cenderung membangun cerita yang indah tetapi rapuh. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki integritas akan berani mengakui kekurangan, membuka ruang kritik, dan menghadapi kenyataan sosial tanpa menutupinya dengan retorika.

Seorang pemimpin sejati tidak hanya bertanggung jawab atas kebijakan yang dibuat, tetapi juga atas kejujuran narasi yang disampaikan kepada rakyatnya. Sebab ketika kekuasaan terlalu lama hidup dalam cerita yang dibuatnya sendiri, ia berisiko kehilangan kemampuan untuk memahami realitas masyarakat yang sebenarnya.

Dalam perspektif filosofis, kekuasaan seharusnya tidak menjadi alat untuk menutup kebenaran, melainkan sarana untuk memperjuangkan keadilan. Pemimpin yang besar bukanlah mereka yang berhasil menciptakan citra tanpa cacat, tetapi mereka yang berani mengakui bahwa negara selalu berada dalam proses belajar dan memperbaiki diri.

Pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau stabilitas politik, tetapi juga oleh kejujuran moral dalam kehidupan publiknya. Ketika pemimpin dan rakyat sama-sama berani melihat realitas tanpa topeng propaganda, maka demokrasi akan tumbuh dengan lebih sehat.

Sebab sejarah selalu memiliki cara yang tenang tetapi pasti untuk mengoreksi kekuasaan. Narasi yang dibangun oleh penguasa mungkin dapat bertahan selama bertahun-tahun, tetapi pada akhirnya kebenaran akan menemukan jalannya sendiri melalui ingatan rakyat dan catatan sejarah.

Dan di situlah letak pelajaran paling mendalam dari perjalanan politik manusia:
kekuasaan dapat menulis cerita tentang dirinya, tetapi sejarah pada akhirnya akan menulis kebenaran yang sesungguhnya.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama