Kita hidup di tengah kenyataan yang tidak sederhana.
Kemiskinan struktural masih membelenggu banyak keluarga. Kaum muda berjalan
tanpa arah, terhimpit antara harapan dan keputusasaan. Relasi sosial kian
renggang, sementara kepercayaan terhadap institusi—termasuk Gereja—perlahan
mengalami erosi. Dalam situasi seperti ini, APP seharusnya menjadi ruang
profetis: tempat Gereja berbicara jujur, bertindak nyata, dan berdiri bersama
mereka yang paling rapuh. Tetapi yang kerap terjadi justru sebaliknya—APP
terjebak dalam lingkaran rutinitas yang nyaman, jauh dari denyut kehidupan umat
yang sesungguhnya.
Doa, yang seharusnya menjadi sumber kekuatan dan
keberanian, sering kali direduksi menjadi aktivitas simbolik. Ia diucapkan,
tetapi tidak menggerakkan. Ia dirayakan, tetapi tidak mengubah. Padahal, dalam
terang Alkitab, doa selalu memiliki dimensi praksis—ia menuntut keberanian
untuk turun tangan, untuk hadir, dan untuk terlibat. Ketika doa kehilangan daya
dorongnya, maka iman berisiko berubah menjadi pelarian halus dari tanggung
jawab sosial.
Demikian pula dengan gerakan misioner. Kita kerap
membicarakan misi dengan penuh semangat, tetapi lupa bahwa misi sejati dimulai
dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Dalam semangat yang diingatkan
oleh Paus Fransiskus melalui Evangelii Gaudium, Gereja dipanggil untuk menjadi
“Gereja yang keluar”—bukan Gereja yang sibuk dengan dirinya sendiri. Namun
realitas di lapangan menunjukkan bahwa kita masih sering menjadi Gereja yang
tertutup: sibuk dengan agenda internal, nyaman dengan liturgi yang rapi, tetapi
lamban merespons jeritan umat di luar tembok gereja.
Kritik paling tajam perlu diarahkan pada cara kita
memahami solidaritas. Solidaritas kerap direduksi menjadi kegiatan karitatif
sesaat—membagi bantuan, mengumpulkan dana, lalu selesai. Tidak ada
keberlanjutan, tidak ada relasi yang mendalam. Kita memberi, tetapi tidak
sungguh mengenal. Kita membantu, tetapi tidak benar-benar berjalan bersama.
Dalam terang Fratelli Tutti, solidaritas sejati adalah keberanian untuk “merasa
bersama” dan “bertindak bersama.” Tanpa itu, solidaritas hanya menjadi kosmetik
moral yang menenangkan hati, tetapi tidak mengubah struktur ketidakadilan.
Lebih jauh lagi, karya nyata kasih sering kali
kehilangan roh profetisnya karena terjebak dalam formalitas. Program-program
dirancang dengan baik, laporan disusun dengan rapi, tetapi perjumpaan yang
otentik justru minim. Kita sibuk dengan apa yang tampak, tetapi lalai pada yang
esensial. Di sinilah Gereja perlu berani bertanya: apakah kita sungguh hadir
untuk umat, atau sekadar menjalankan program demi memenuhi kewajiban
institusional?
Dalam konteks ini, peran imam menjadi sangat
krusial—dan sekaligus sangat rentan terhadap kritik. Imam tidak bisa lagi hanya
menjadi figur liturgis yang hadir di altar, tetapi absen di realitas. Imam
dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Kristus yang hidup: dekat, mendengar,
dan terlibat. Namun yang sering dirasakan umat adalah jarak—jarak emosional,
jarak sosial, bahkan jarak eksistensial. Imam dikenal sebagai pemimpin, tetapi
tidak selalu dirasakan sebagai sahabat. Ia dihormati, tetapi tidak selalu hadir.
Kritik ini bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk
membangunkan. Sebab dalam banyak kasus, imam juga terjebak dalam sistem yang
membatasi ruang geraknya: beban administratif, tuntutan struktural, dan
ekspektasi institusional yang kadang menjauhkan dari panggilan dasarnya sebagai
gembala. Namun justru di sinilah letak panggilan profetis itu—berani melampaui
batas-batas formal demi menghadirkan kasih yang nyata.
Imam yang sungguh hadir adalah ia yang berani turun
dari mimbar menuju jalanan kehidupan umat. Ia tidak hanya berbicara tentang
kasih, tetapi menjadi kasih itu sendiri. Ia hadir di rumah-rumah sederhana, di
tengah keluarga yang retak, di antara kaum muda yang kehilangan arah, dan di
samping mereka yang berjuang dalam diam. Kehadirannya bukan sekadar fungsi,
tetapi kesaksian.
Pada akhirnya, APP Masa Prapaskah 2026 menuntut
lebih dari sekadar partisipasi—ia menuntut pertobatan. Pertobatan bukan hanya
soal moral pribadi, tetapi juga pembaruan cara Gereja hadir di dunia. Kita
dipanggil untuk meninggalkan kenyamanan, menanggalkan formalitas yang kosong,
dan kembali pada inti Injil: kasih yang hidup, yang bergerak, dan yang
berpihak.
Dunia hari ini tidak kekurangan kata-kata indah.
Dunia justru merindukan kehadiran yang nyata—kehadiran yang berani menyentuh
luka, menanggung beban, dan menyalakan harapan. Jika APP hanya berhenti pada
slogan, maka ia akan kehilangan maknanya. Tetapi jika ia sungguh dihidupi
sebagai gerakan iman yang radikal, maka dari sanalah harapan itu akan
lahir—pelan, tetapi pasti.
Dan mungkin, di tengah dunia yang retak ini, Gereja
dipanggil bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk tetap setia—menjadi nyala
kecil yang tidak padam, bahkan ketika gelap terasa begitu dalam.
