banner Saatnya Gereja Harus Turun dari Mimbar

Saatnya Gereja Harus Turun dari Mimbar



Suara Numbei News - Dalam arus refleksi Masa Prapaskah 2026, Gereja kembali menggaungkan tema besar tentang gerakan misioner, doa, solidaritas, dan karya nyata kasih sebagai jalan menghadirkan pengharapan. Namun di balik keindahan narasi itu, ada pertanyaan yang tak boleh dihindari: sejauh mana semua ini sungguh menyentuh realitas konkret umat, dan bukan sekadar menjadi bahasa rohani yang berulang tanpa daya ubah?

Kita hidup di tengah kenyataan yang tidak sederhana. Kemiskinan struktural masih membelenggu banyak keluarga. Kaum muda berjalan tanpa arah, terhimpit antara harapan dan keputusasaan. Relasi sosial kian renggang, sementara kepercayaan terhadap institusi—termasuk Gereja—perlahan mengalami erosi. Dalam situasi seperti ini, APP seharusnya menjadi ruang profetis: tempat Gereja berbicara jujur, bertindak nyata, dan berdiri bersama mereka yang paling rapuh. Tetapi yang kerap terjadi justru sebaliknya—APP terjebak dalam lingkaran rutinitas yang nyaman, jauh dari denyut kehidupan umat yang sesungguhnya.

Doa, yang seharusnya menjadi sumber kekuatan dan keberanian, sering kali direduksi menjadi aktivitas simbolik. Ia diucapkan, tetapi tidak menggerakkan. Ia dirayakan, tetapi tidak mengubah. Padahal, dalam terang Alkitab, doa selalu memiliki dimensi praksis—ia menuntut keberanian untuk turun tangan, untuk hadir, dan untuk terlibat. Ketika doa kehilangan daya dorongnya, maka iman berisiko berubah menjadi pelarian halus dari tanggung jawab sosial.

Demikian pula dengan gerakan misioner. Kita kerap membicarakan misi dengan penuh semangat, tetapi lupa bahwa misi sejati dimulai dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Dalam semangat yang diingatkan oleh Paus Fransiskus melalui Evangelii Gaudium, Gereja dipanggil untuk menjadi “Gereja yang keluar”—bukan Gereja yang sibuk dengan dirinya sendiri. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa kita masih sering menjadi Gereja yang tertutup: sibuk dengan agenda internal, nyaman dengan liturgi yang rapi, tetapi lamban merespons jeritan umat di luar tembok gereja.

Kritik paling tajam perlu diarahkan pada cara kita memahami solidaritas. Solidaritas kerap direduksi menjadi kegiatan karitatif sesaat—membagi bantuan, mengumpulkan dana, lalu selesai. Tidak ada keberlanjutan, tidak ada relasi yang mendalam. Kita memberi, tetapi tidak sungguh mengenal. Kita membantu, tetapi tidak benar-benar berjalan bersama. Dalam terang Fratelli Tutti, solidaritas sejati adalah keberanian untuk “merasa bersama” dan “bertindak bersama.” Tanpa itu, solidaritas hanya menjadi kosmetik moral yang menenangkan hati, tetapi tidak mengubah struktur ketidakadilan.

Lebih jauh lagi, karya nyata kasih sering kali kehilangan roh profetisnya karena terjebak dalam formalitas. Program-program dirancang dengan baik, laporan disusun dengan rapi, tetapi perjumpaan yang otentik justru minim. Kita sibuk dengan apa yang tampak, tetapi lalai pada yang esensial. Di sinilah Gereja perlu berani bertanya: apakah kita sungguh hadir untuk umat, atau sekadar menjalankan program demi memenuhi kewajiban institusional?

Dalam konteks ini, peran imam menjadi sangat krusial—dan sekaligus sangat rentan terhadap kritik. Imam tidak bisa lagi hanya menjadi figur liturgis yang hadir di altar, tetapi absen di realitas. Imam dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Kristus yang hidup: dekat, mendengar, dan terlibat. Namun yang sering dirasakan umat adalah jarak—jarak emosional, jarak sosial, bahkan jarak eksistensial. Imam dikenal sebagai pemimpin, tetapi tidak selalu dirasakan sebagai sahabat. Ia dihormati, tetapi tidak selalu hadir.

Kritik ini bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk membangunkan. Sebab dalam banyak kasus, imam juga terjebak dalam sistem yang membatasi ruang geraknya: beban administratif, tuntutan struktural, dan ekspektasi institusional yang kadang menjauhkan dari panggilan dasarnya sebagai gembala. Namun justru di sinilah letak panggilan profetis itu—berani melampaui batas-batas formal demi menghadirkan kasih yang nyata.

Imam yang sungguh hadir adalah ia yang berani turun dari mimbar menuju jalanan kehidupan umat. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi menjadi kasih itu sendiri. Ia hadir di rumah-rumah sederhana, di tengah keluarga yang retak, di antara kaum muda yang kehilangan arah, dan di samping mereka yang berjuang dalam diam. Kehadirannya bukan sekadar fungsi, tetapi kesaksian.

Pada akhirnya, APP Masa Prapaskah 2026 menuntut lebih dari sekadar partisipasi—ia menuntut pertobatan. Pertobatan bukan hanya soal moral pribadi, tetapi juga pembaruan cara Gereja hadir di dunia. Kita dipanggil untuk meninggalkan kenyamanan, menanggalkan formalitas yang kosong, dan kembali pada inti Injil: kasih yang hidup, yang bergerak, dan yang berpihak.

Dunia hari ini tidak kekurangan kata-kata indah. Dunia justru merindukan kehadiran yang nyata—kehadiran yang berani menyentuh luka, menanggung beban, dan menyalakan harapan. Jika APP hanya berhenti pada slogan, maka ia akan kehilangan maknanya. Tetapi jika ia sungguh dihidupi sebagai gerakan iman yang radikal, maka dari sanalah harapan itu akan lahir—pelan, tetapi pasti.

Dan mungkin, di tengah dunia yang retak ini, Gereja dipanggil bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk tetap setia—menjadi nyala kecil yang tidak padam, bahkan ketika gelap terasa begitu dalam.



 

Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama