![]() |
| Peserta didik, Pengawas dan Panitia Ujian SMP Negeri Kateri Kabupaten Malaka foto bersama usai kegiatan ujian sebagai ungkapan syukur karena kegiatan ini berjalan dengan lancar dan aman |
Mereka tidak sedang piknik. Mereka sedang mengikuti Tes
Kemampuan Akademik (TKA)—ujian yang seharusnya berlangsung di ruang kelas
dengan fasilitas memadai. Namun kenyataan berkata lain. Di wilayah Kateri,
sinyal adalah barang mewah. Dan kebun Om Toni menjadi “ruang kelas darurat”
karena hanya di sanalah jaringan bisa diajak bekerja sama.
Hari Senin, 06 April 2026, anak-anak ini berhadapan
dengan angka-angka dalam ujian Matematika dan menjawab Survei Karakter. Dengan
serius, mereka menatap layar, meski sesekali angin dan suara dedaunan ikut
mengganggu konsentrasi. Lalu pada Selasa, 07 April 2026, mereka kembali duduk
di tempat yang sama—melanjutkan ujian Bahasa Indonesia dan Survei Lingkungan
Belajar. Ironi terasa begitu dekat: mereka menjawab tentang “lingkungan
belajar” justru di tempat yang jauh dari standar layak.
Hujan sempat turun, perlahan namun pasti. Tanah
menjadi lembab, udara dingin merayap, tapi mereka tetap bertahan. Tidak ada
yang menyerah, tidak ada yang pulang. Karena bagi mereka, kesempatan mengikuti
ujian ini bukan sesuatu yang bisa disia-siakan. Mereka tahu, masa depan tidak
selalu menunggu kesiapan—kadang harus diperjuangkan dalam keterbatasan.
Di sela ujian, ada tawa. Ada pose-pose sederhana
untuk kamera. Ada tangan-tangan kecil yang terangkat dengan gaya penuh percaya
diri. Seolah ingin berkata: “Kami kuat, kami bisa.” Tapi di balik itu semua,
ada pertanyaan yang menggantung di udara, lebih berat dari awan yang menaungi
mereka.
Mengapa untuk mendapatkan pendidikan yang layak,
mereka harus sejauh ini berjuang?
Mengapa teknologi yang diagungkan itu tidak benar-benar hadir untuk semua?
Mengapa kebun warga bisa menjadi solusi, sementara fasilitas resmi justru tidak
mampu menjawab kebutuhan?
Ini bukan sekadar kisah haru yang bisa disukai lalu
dilupakan. Ini adalah potret nyata ketimpangan. Di satu sisi, dunia berbicara
tentang digitalisasi pendidikan, kecerdasan buatan, dan masa depan global. Di
sisi lain, anak-anak Kateri masih mencari sinyal di tengah pepohonan, bertaruh
dengan hujan dan angin demi bisa “ikut sistem”.
Kebun Om Toni hari itu bukan hanya tempat ujian. Ia
berubah menjadi simbol—tentang kegigihan, tentang solidaritas, tentang
bagaimana masyarakat saling menopang ketika sistem tidak hadir sepenuhnya.
Guru-guru tetap mendampingi, orang tua ikut menguatkan, dan anak-anak tetap
belajar. Mereka tidak menunggu sempurna untuk bergerak. Mereka bergerak di
tengah ketidaksempurnaan.
Namun, semangat sebesar apa pun tidak boleh
dijadikan alasan untuk membiarkan keadaan ini terus berlangsung. Ketabahan
mereka bukan untuk dieksploitasi menjadi cerita inspiratif semata, tetapi harus
menjadi alarm keras bagi siapa pun yang memiliki tanggung jawab.
Sebab pendidikan bukan tentang siapa yang paling
kuat bertahan dalam keterbatasan, melainkan tentang siapa yang paling berhak
mendapatkan kesempatan yang setara.
Hari itu, ujian memang berjalan aman dan lancar.
Tidak ada kendala besar yang menghentikan proses. Tapi kelancaran ini menyimpan
paradoks: ketika sesuatu yang seharusnya normal justru terasa luar biasa karena
dilakukan dalam kondisi yang tidak semestinya.
Kateri telah memberi pelajaran yang lebih besar dari
sekadar soal Matematika atau Bahasa Indonesia. Mereka mengajarkan arti
perjuangan yang sebenarnya—tanpa panggung, tanpa sorotan berlebihan, hanya
dengan tekad yang diam-diam menguat.
Dan kini, pertanyaan itu kembali mengetuk:
Jika anak-anak ini bisa berjuang sejauh ini untuk masa depan mereka, lalu
sejauh apa kita—terutama mereka yang berwenang—bersedia melangkah untuk
memastikan mereka tidak perlu lagi belajar di kebun hanya demi sinyal?


