banner Ketika Sunyi Menjadi Sabda di Hadapan Salib

Ketika Sunyi Menjadi Sabda di Hadapan Salib



Suara Numbei News - Sore itu, Jumat Agung 2026 datang tanpa banyak suara. Langit tidak benar-benar gelap, tetapi juga tidak sepenuhnya terang—seolah menahan sesuatu yang tak terucap. Di sebuah gereja kecil, orang-orang datang perlahan, melangkah tanpa tergesa, membawa keheningan masing-masing. Bangku-bangku kayu terisi, doa-doa mengalir dalam diam, dan di depan altar tergantung salib—tempat Yesus Kristus diam, tanpa kata, namun penuh makna.

Di tengah suasana itu, seorang anak duduk tanpa banyak mengerti. Ia hanya menatap salib itu lama, mencoba memahami sesuatu yang terasa besar namun tak mampu dijelaskan. Ia melihat orang-orang berlutut dengan khusyuk, sebagian memejamkan mata, sebagian menunduk dalam-dalam, seolah sedang berbicara dengan keheningan itu sendiri. Sementara ia hanya diam—merasa asing, namun perlahan tersentuh oleh suasana yang tak biasa.

Waktu berjalan pelan, dan tanpa ia sadari, pikirannya mulai dipenuhi oleh hal-hal sederhana: kata-kata yang pernah ia ucapkan dengan kasar, sikap acuh yang pernah ia tunjukkan, dan wajah-wajah yang mungkin pernah ia lukai tanpa sengaja. Tiba-tiba, salib itu tidak lagi terasa jauh. Ia bukan sekadar simbol, tetapi seperti cermin—yang memantulkan sisi dirinya yang belum ia mengerti. Dalam diamnya, Yesus Kristus seakan berbicara tanpa suara: bahwa cinta tetap ada, bahkan ketika disakiti.



Di luar gereja, dunia terus bergerak cepat—kendaraan melintas, layar-layar menyala, dan hidup berjalan tanpa jeda. Namun di dalam ruang sunyi itu, waktu terasa berhenti. Anak itu mulai menyadari bahwa keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang untuk melihat lebih dalam. Ia tidak lagi berusaha mengerti semuanya. Ia hanya merasakan—bahwa cinta tidak selalu hadir dalam kekuatan yang besar, tetapi sering kali dalam kesederhanaan yang terluka namun tetap bertahan.

Saat senja turun dan orang-orang mulai beranjak pulang, ia berdiri dan melangkah perlahan. Ia mendekati salib itu, menunduk sejenak tanpa kata-kata panjang. Dalam hatinya, hanya ada satu keinginan sederhana: menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit. Ia mengerti bahwa mengikuti Yesus Kristus bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang berani belajar mengasihi—meski sering gagal, meski jatuh berulang kali.

Dan mungkin, di situlah makna Jumat Agung yang sesungguhnya. Bukan pada besarnya perayaan, bukan pula pada panjangnya doa, tetapi pada keberanian kecil untuk berubah. Dalam sunyi, manusia diajak pulang—bukan ke tempat, tetapi ke hati yang lebih jujur.

Selamat merayakan Jumat Agung 2026.
Semoga dalam keheningan yang sederhana, kita menemukan kembali arti cinta—yang tidak hanya dikenang, tetapi dihidupi dalam setiap langkah kecil kehidupan.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama