Unggahan di platform Truth Social itu muncul di
tengah konflik terbuka Trump dengan Paus Leo XIV, yang mengkritik perang
AS-Israel terhadap Iran sebagai hal tidak manusiawi.
Gambar tersebut memperlihatkan Trump mengenakan
jubah putih dengan tangan seolah menyembuhkan seseorang, dengan latar
simbol-simbol AS seperti Patung Liberty dan pesawat tempur.
Unggahan itu memicu kritik luas, termasuk dari
kalangan konservatif religius yang selama ini menjadi basis pendukung Trump.
"Ini penistaan yang menjijikkan. Iman bukan
alat," tulis tokoh Partai Republik Brilyn Hollyhand, sebagaimana dikutip
dari Reuters pada Selasa (14/4).
Trump kemudian membantah bahwa gambar itu
dimaksudkan sebagai sosok Yesus.
"Itu maksud seharusnya saya sebagai dokter yang
menyembuhkan orang," katanya kepada wartawan di Gedung Putih.
Namun, sejumlah pakar menilai visual tersebut jelas
mengambil referensi ikonografi Yesus sebagai penyembuh, termasuk penggunaan
cahaya yang identik dengan simbol keilahian.
Di tengah kontroversi itu, Trump juga menegaskan
tidak akan meminta maaf kepada Paus Leo.
"Tidak ada yang perlu saya minta maafkan. Dia
salah," kata Trump.
Ia menilai Paus pertama dari AS itu keliru karena
menentang kebijakan AS terhadap Iran.
"Paus Leo mengatakan hal-hal yang keliru. Ia
sangat menentang langkah saya terkait Iran, padahal Iran tidak boleh memiliki
senjata nuklir," kata Trump.
Sebelumnya, pada Minggu (12/4) Trump bahkan menyebut
Paus Leo "lemah terhadap kejahatan" dan "buruk dalam kebijakan
luar negeri" dalam unggahan Truth Social.
Merespons itu, Paus Leo mengatakan dirinya tak takut
pada pemerintahan Trump maupun mundur dari sikapnya menentang perang. Hal ini
ia sampaikan saat dalam penerbangan menuju Aljazair, untuk perjalanan apostolik
pertamanya pada Senin (13/4).
Ketegangan ini memperdalam hubungan yang memang
sudah renggang antara Trump dan Vatikan, terutama terkait isu perang Iran dan
kebijakan imigrasi.

