banner Di Mata Felisha, Dunia Masih Sesederhana Pelukan dan Tawa Keluarga

Di Mata Felisha, Dunia Masih Sesederhana Pelukan dan Tawa Keluarga



Suara Numbei NewsDi tanah sederhana bernama Harekain, pada 09 Mei 2022, lahirlah seorang anak perempuan kecil yang kemudian dipanggil dunia dengan nama lembut: Felisha Ferryni Mau. Sebuah nama yang tumbuh bersama cahaya pagi, bersama doa-doa seorang ibu, dan harapan panjang seorang ayah tentang masa depan.

Felisha hadir bukan sekadar sebagai anak sulung dalam keluarga kecil itu, tetapi sebagai awal dari sebuah cerita tentang cinta yang belajar bertumbuh. Di usianya yang masih belia, ia telah menjadi matahari kecil di rumah kami — menghadirkan hangat bahkan pada hari-hari yang letih.

Di belakang langkah kecil Felisha, tumbuh pula dua jiwa mungil lainnya: Felin dan Fidel. Mereka bertiga seperti tiga nada dalam satu lagu kehidupan; berbeda suara, tetapi saling melengkapi. Kadang rumah itu riuh oleh tangis dan tawa, oleh rebutan mainan dan pelukan sederhana, namun justru di sanalah cinta menemukan bentuknya yang paling jujur.

Saat ulang tahun Felisha dirayakan, lilin kecil menyala di atas kue sederhana. Cahaya itu tampak biasa bagi banyak orang, tetapi bagi keluarganya, nyala kecil itu seperti lambang perjalanan hidup: bahwa manusia bertumbuh bukan karena usia semata, melainkan karena cinta yang terus dijaga di sekelilingnya.



Felisha berdiri di depan lilin itu dengan mata bening seorang anak kecil — mata yang belum mengenal tipu dunia. Di sampingnya, Felin tertawa polos, sementara Fidel memandang dengan rasa ingin tahu yang suci. Pada momen itu, waktu seperti berhenti sejenak untuk mengajarkan sesuatu kepada orang-orang dewasa: bahwa kebahagiaan sejati ternyata sangat sederhana.

Bukan rumah besar.
Bukan pesta mewah.
Bukan pula hadiah yang mahal.

Melainkan tentang seseorang yang pulang dan masih menemukan keluarganya tertawa bersama.

Dalam kepolosannya, Felisha mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan untuk menjadi paling tinggi, melainkan perjalanan untuk belajar saling menjaga. Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa banyak yang dimiliki, tetapi karena seberapa besar cinta yang ia tinggalkan di hati orang lain.

Dan mungkin, itulah arti paling dalam dari seorang anak sulung.

Ia lahir lebih dulu bukan untuk menjadi paling sempurna, tetapi untuk belajar menjadi pelindung pertama bagi adik-adiknya. Menjadi tangan kecil yang suatu hari akan menggenggam Felin dan Fidel ketika dunia terasa terlalu besar bagi mereka.

Malam ulang tahun itu akhirnya bukan hanya perayaan tentang bertambahnya usia Felisha. Ia menjadi semacam doa yang hidup — bahwa tiga anak kecil ini akan tumbuh seperti akar yang saling menguatkan, seperti pohon yang tetap berdiri meski diterpa musim.

Karena keluarga, sejatinya, bukan sekadar hubungan darah.
Keluarga adalah tempat di mana cinta belajar pulang, berulang kali, tanpa pernah lelah.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama