![]() |
| 23 WNI yang diselamatkan dari perairan Pulau Pangkor, Malaysia. (Foto: Bernama) |
Sebuah perahu kayu kecil yang membawa puluhan warga
negara Indonesia perlahan tenggelam di perairan Pulau Pangkor, Perak, Malaysia.
Ombak gelap menelan tubuh-tubuh lelah yang selama ini membawa harapan keluarga
di pundaknya. Hingga hari ini, sebelas orang ditemukan meninggal dunia. Tiga
lainnya masih hilang, entah di mana. Mungkin masih terapung di tengah laut.
Mungkin telah diam selamanya di dasar samudra. (Kompas TV)
Tetapi sesungguhnya, yang tenggelam malam itu bukan
hanya sebuah perahu.
Yang tenggelam adalah harapan seorang ibu tua yang
menunggu anaknya pulang membawa uang untuk membeli beras. Yang tenggelam adalah
mimpi seorang ayah untuk membangun rumah sederhana bagi keluarganya. Yang
tenggelam adalah cita-cita anak-anak kecil yang mungkin selama ini percaya
bahwa ayah mereka akan kembali membawa masa depan yang lebih baik.
Kita sering membaca berita seperti ini sambil lalu.
“11 meninggal.”
“3 hilang.”
“23 selamat.”
Lalu selesai.
Padahal di balik angka-angka itu ada manusia-manusia
yang pernah tertawa, pernah bermimpi, pernah memeluk anaknya sebelum berangkat
meninggalkan rumah. Ada yang mungkin berpamitan sambil berkata, “Tunggu bapak
pulang.” Ada yang berjanji akan membawa uang sekolah untuk anaknya. Ada yang
mungkin berangkat diam-diam karena tidak tega melihat ibunya menangis.
Tetapi laut tidak pernah memberi jaminan.
Dan kemiskinan sering kali membuat manusia rela
berdamai dengan maut.
Mereka berangkat bukan karena ingin kaya raya.
Mereka pergi karena hidup di kampung halaman terlalu sempit bagi harapan
mereka. Lapangan pekerjaan tidak cukup. Upah terlalu kecil. Harga kebutuhan
hidup terus naik. Sementara anak-anak tetap harus makan, tetap harus sekolah,
tetap harus hidup.
Maka banyak orang kecil akhirnya memilih jalan yang
paling berbahaya: menyeberang laut menuju negeri orang dengan segala risiko.
Kita boleh menyebut mereka pekerja ilegal. Kita
boleh menyebut mereka melanggar aturan. Tetapi sebelum menghakimi, pernahkah
kita mencoba bertanya: seputus asa apa seseorang hingga rela naik perahu kecil
di tengah malam, mempertaruhkan nyawanya di lautan asing?
Tidak ada manusia yang ingin mati di laut.
Tidak ada ibu yang rela kehilangan anaknya.
Tidak ada anak yang rela menjadi yatim hanya karena
ayahnya mencari nafkah.
Namun kenyataan hidup sering kali lebih kejam
daripada ombak.
Bayangkan malam itu.
Langit gelap. Angin kencang. Laut berguncang hebat.
Di atas perahu kecil itu mungkin ada seorang ibu
yang terus berdoa sambil menggenggam tas lusuh berisi pakaian seadanya. Mungkin
ada seorang ayah yang memeluk anaknya agar tidak jatuh ke laut. Mungkin ada
yang menangis diam-diam karena ketakutan. Mungkin ada yang mulai sadar bahwa
mereka tidak akan sampai tujuan.
Lalu perahu itu tenggelam.
Orang-orang berteriak meminta tolong.
Tubuh-tubuh berjatuhan ke laut gelap.
Sebagian berenang tanpa tahu arah. Sebagian saling
berpegangan agar tidak hanyut. Sebagian mungkin memanggil nama Tuhan untuk
terakhir kalinya.
Dan di saat yang sama, jauh di kampung halaman, ada
keluarga yang tidur tanpa tahu bahwa orang yang mereka cintai sedang berjuang
melawan maut.
Betapa menyakitkannya membayangkan seorang anak
kecil yang terus menunggu ayahnya pulang, sementara jasad sang ayah mungkin
sedang terombang-ambing di laut.
Betapa hancurnya hati seorang ibu ketika menerima
kabar bahwa anak yang selama ini menjadi harapan keluarga ditemukan tak
bernyawa di negeri orang.
Betapa sunyinya rumah-rumah kecil itu nanti.
Tidak ada lagi suara tawa.
Tidak ada lagi langkah kaki yang pulang membawa
harapan.
Yang tersisa hanyalah foto usang, pakaian terakhir,
dan kenangan yang akan terus hidup bersama air mata.
Tragedi ini harus menjadi tamparan keras bagi kita
semua.
Karena kapal yang tenggelam itu sejatinya sedang
membawa pesan tentang kegagalan sosial yang begitu besar. Ketika rakyat kecil
merasa bahwa satu-satunya cara bertahan hidup adalah meninggalkan tanah air
dengan jalur berbahaya, maka ada yang salah dengan keadaan negeri ini.
Orang-orang miskin tidak butuh pidato panjang
tentang nasionalisme.
Mereka butuh pekerjaan.
Mereka butuh kehidupan yang layak.
Mereka butuh alasan untuk percaya bahwa masa depan
bisa ditemukan di negeri sendiri, tanpa harus menyerahkan nyawa kepada ombak.
Ironisnya, setiap kali tragedi seperti ini terjadi,
kita hanya ramai beberapa hari. Setelah itu semuanya kembali sunyi. Laut
kembali tenang. Berita berganti. Publik lupa.
Padahal bagi keluarga korban, luka itu tidak pernah
selesai.
Ada anak-anak yang akan tumbuh tanpa ayah.
Ada istri yang harus bertahan sendiri.
Ada orang tua yang akan menunggu anaknya pulang
sampai akhir hayat, meski tahu kemungkinan itu nyaris tidak ada.
Dan mungkin yang paling menyakitkan adalah kenyataan
bahwa sebagian korban bahkan tidak akan dikenang lama. Mereka hanyalah orang
kecil. Tidak terkenal. Tidak punya jabatan. Tidak punya kekuasaan.
Tetapi bukankah justru orang-orang kecil itulah yang
selama ini menopang negeri ini dengan keringat dan penderitaan mereka?
Laut Malaysia malam itu tidak hanya menelan manusia.
Ia menelan mimpi-mimpi sederhana yang tak pernah
sempat pulang.
Ia menelan harapan-harapan kecil yang sebenarnya
hanya ingin hidup layak.
Dan ketika kita membaca berita ini hari ini, semoga
kita tidak hanya merasa sedih sesaat.
Semoga kita masih punya hati untuk benar-benar
peduli.
Karena di balik setiap jenazah yang ditemukan, ada
satu keluarga yang dunianya ikut tenggelam.
