banner Sebelum Mengajarkan Bahasa Prancis, Sudahkah Kita Menuntaskan Bahasa Kemiskinan?

Sebelum Mengajarkan Bahasa Prancis, Sudahkah Kita Menuntaskan Bahasa Kemiskinan?



Suara Numbei News - Ada sesuatu yang mengusik dalam pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat menerima kunjungan Presiden Emmanuel Macron di Paris. Dalam pernyataan resmi itu, Prabowo mengatakan bahwa dirinya telah menginstruksikan agar seluruh tingkatan sekolah di Indonesia mempelajari Bahasa Prancis. Ia menyebut langkah tersebut penting untuk menghadapi perkembangan dunia di masa depan.

Pernyataan itu mungkin terdengar modern. Terdengar internasional. Bahkan bagi sebagian kalangan, terdengar visioner.

Namun di luar ruang diplomasi yang penuh senyum dan tepuk tangan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar bagaimana cara mengucapkan bonjour.

Apakah Indonesia sedang membangun pendidikan yang kuat, atau sedang sibuk membangun citra pendidikan yang terlihat modern di mata dunia?

Sebab pada saat Presiden berbicara tentang Bahasa Prancis di Paris, masih ada jutaan anak Indonesia yang sedang berbicara dengan bahasa yang berbeda: bahasa keterbatasan.

Bahasa ruang kelas yang bocor saat hujan.

Bahasa bangku sekolah yang lapuk dimakan usia.

Bahasa guru honorer yang bertahun-tahun mengajar dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang layak.

Bahasa murid-murid di pelosok yang harus berjalan jauh melewati sungai, bukit, dan jalan rusak hanya untuk sampai ke sekolah.

Dan ironisnya, bahasa itulah yang sering kali tidak didengar negara.

Dalam laporan berbagai lembaga pendidikan, Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam kualitas literasi dan numerasi peserta didik. Berbagai evaluasi pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan memahami informasi dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan yang wajar:

Mengapa negara tampak lebih bersemangat menambah bahasa baru daripada menuntaskan persoalan lama?

Tentu tidak ada yang salah dengan Bahasa Prancis.

Tidak ada yang salah dengan Bahasa Portugis.

Tidak ada yang salah dengan penguasaan bahasa asing.

Bahasa adalah jendela dunia.

Bahasa adalah alat diplomasi.

Bahasa adalah pintu ilmu pengetahuan.

Tetapi pendidikan bukan sekadar soal membuka jendela.

Pendidikan pertama-tama adalah memastikan rumahnya berdiri kokoh.

Dan sampai hari ini, rumah pendidikan Indonesia masih menyimpan terlalu banyak retakan.

Yang menarik, ini bukan pertama kalinya Presiden Prabowo berbicara soal bahasa asing.

Pada Oktober 2025, ketika menerima Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, Prabowo juga menyampaikan bahwa Bahasa Portugis akan mulai diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia sebagai bagian dari penguatan hubungan Indonesia dan Brasil.

Beberapa bulan kemudian, saat bertemu Macron di Paris, yang muncul adalah Bahasa Prancis. Bahkan Prabowo secara terbuka mengatakan bahwa semua tingkatan sekolah Indonesia harus mempelajari bahasa tersebut.

Publik tentu berhak bertanya.

Apakah arah pendidikan nasional sedang disusun berdasarkan kebutuhan jangka panjang bangsa?

Ataukah sedang bergerak mengikuti arah hubungan diplomatik yang sedang hangat?

Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap kerja sama internasional. Justru sebaliknya. Kerja sama internasional penting. Dunia semakin terhubung. Anak-anak Indonesia harus mampu bersaing secara global.

Tetapi kebijakan pendidikan tidak boleh lahir hanya karena momentum politik dan diplomasi.

Pendidikan adalah investasi puluhan tahun.

Diplomasi bisa berubah dalam satu pertemuan.

Pendidikan menentukan nasib generasi.

Karena itu kritik yang muncul dari berbagai kalangan bukan sesuatu yang mengherankan.

Bahkan sejumlah anggota DPR meminta pemerintah menjelaskan arah dan manfaat kebijakan tersebut secara lebih rinci. Mereka menilai pembelajaran bahasa asing memang penting, tetapi harus memiliki peta jalan yang jelas serta mempertimbangkan kesiapan sekolah dan kebutuhan pendidikan nasional.

Kegelisahan yang sama juga terlihat di ruang publik.

Dalam berbagai forum diskusi dan media sosial, banyak warga mempertanyakan urgensi kebijakan tersebut. Sebagian menilai pemerintah terlalu cepat berbicara tentang bahasa asing sementara kemampuan dasar pendidikan nasional masih menghadapi banyak tantangan.

Tentu media sosial bukan ukuran kebenaran.

Namun suara publik tetap penting untuk didengar.

Karena pendidikan bukan milik penguasa.

Pendidikan adalah milik rakyat.

Yang lebih menyedihkan, di tengah antusiasme terhadap bahasa asing, kita justru sedang kehilangan bahasa yang lahir dari tanah kita sendiri.

Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah.

Bahasa-bahasa itu menyimpan sejarah.

Menyimpan doa-doa leluhur.

Menyimpan cara sebuah komunitas memahami kehidupan.

Namun setiap tahun, sebagian bahasa daerah kehilangan penutur.

Anak-anak semakin jarang menggunakannya.

Sekolah tidak lagi memberi ruang yang cukup.

Dan perlahan-lahan bahasa itu menghilang tanpa upacara.

Kita sibuk mengajarkan kata bonjour.

Tetapi lupa menjaga sapaan yang diwariskan nenek moyang.

Kita bersemangat mempelajari bahasa dari seberang lautan.

Tetapi membiarkan bahasa kampung sendiri perlahan tenggelam dalam sunyi.

Tidak ada bangsa besar yang dibangun hanya dengan kemampuan berbicara dalam banyak bahasa asing.

Bangsa besar dibangun oleh pendidikan yang kuat.

Oleh guru yang dihormati.

Oleh sekolah yang layak.

Oleh perpustakaan yang hidup.

Oleh murid yang tidak putus sekolah karena kemiskinan.

Dan sampai hari ini, itulah pekerjaan besar yang masih menunggu diselesaikan.

Karena itu, sebelum negara terlalu jauh berbicara tentang Bahasa Prancis, Portugis, Mandarin, atau bahasa-bahasa dunia lainnya, ada satu bahasa yang mungkin lebih mendesak untuk dipahami terlebih dahulu.

Bahasa yang setiap hari diucapkan rakyat dari ruang kelas sederhana di pelosok negeri.

Bahasa yang tidak terdengar di forum-forum internasional.

Bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah.

Bahasa itu sederhana:

“Perbaiki dulu pendidikan kami.”

Referensi:

Detik Edu – Prabowo Instruksikan Belajar Bahasa Prancis di Semua Tingkatan Sekolah

Detik News – Di Depan Macron, Prabowo Instruksikan Sekolah di RI Ajarkan Bahasa Prancis

Liputan6 – DPR Singgung Manfaat dan Roadmap Bahasa Prancis di Sekolah

IDN Times – Prabowo Instruksikan Sekolah Wajib Belajar Bahasa Prancis

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama