Pernyataan itu mungkin terdengar modern. Terdengar
internasional. Bahkan bagi sebagian kalangan, terdengar visioner.
Namun di luar ruang diplomasi yang penuh senyum dan
tepuk tangan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar bagaimana
cara mengucapkan bonjour.
Apakah Indonesia sedang membangun pendidikan yang
kuat, atau sedang sibuk membangun citra pendidikan yang terlihat modern di mata
dunia?
Sebab pada saat Presiden berbicara tentang Bahasa
Prancis di Paris, masih ada jutaan anak Indonesia yang sedang berbicara dengan
bahasa yang berbeda: bahasa keterbatasan.
Bahasa ruang kelas yang bocor saat hujan.
Bahasa bangku sekolah yang lapuk dimakan usia.
Bahasa guru honorer yang bertahun-tahun mengajar
dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang layak.
Bahasa murid-murid di pelosok yang harus berjalan
jauh melewati sungai, bukit, dan jalan rusak hanya untuk sampai ke sekolah.
Dan ironisnya, bahasa itulah yang sering kali tidak
didengar negara.
Dalam laporan berbagai lembaga pendidikan, Indonesia
masih menghadapi persoalan serius dalam kualitas literasi dan numerasi peserta
didik. Berbagai evaluasi pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan
memahami informasi dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum
selesai. Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan yang wajar:
Mengapa negara tampak lebih bersemangat menambah
bahasa baru daripada menuntaskan persoalan lama?
Tentu tidak ada yang salah dengan Bahasa Prancis.
Tidak ada yang salah dengan Bahasa Portugis.
Tidak ada yang salah dengan penguasaan bahasa asing.
Bahasa adalah jendela dunia.
Bahasa adalah alat diplomasi.
Bahasa adalah pintu ilmu pengetahuan.
Tetapi pendidikan bukan sekadar soal membuka
jendela.
Pendidikan pertama-tama adalah memastikan rumahnya
berdiri kokoh.
Dan sampai hari ini, rumah pendidikan Indonesia
masih menyimpan terlalu banyak retakan.
Yang menarik, ini bukan pertama kalinya Presiden
Prabowo berbicara soal bahasa asing.
Pada Oktober 2025, ketika menerima Presiden Brasil, Luiz
Inácio Lula da Silva, Prabowo juga menyampaikan bahwa Bahasa Portugis akan mulai
diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia sebagai bagian dari penguatan hubungan
Indonesia dan Brasil.
Beberapa bulan kemudian, saat bertemu Macron di
Paris, yang muncul adalah Bahasa Prancis. Bahkan Prabowo secara terbuka
mengatakan bahwa semua tingkatan sekolah Indonesia harus mempelajari bahasa
tersebut.
Publik tentu berhak bertanya.
Apakah arah pendidikan nasional sedang disusun
berdasarkan kebutuhan jangka panjang bangsa?
Ataukah sedang bergerak mengikuti arah hubungan
diplomatik yang sedang hangat?
Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap kerja
sama internasional. Justru sebaliknya. Kerja sama internasional penting. Dunia
semakin terhubung. Anak-anak Indonesia harus mampu bersaing secara global.
Tetapi kebijakan pendidikan tidak boleh lahir hanya
karena momentum politik dan diplomasi.
Pendidikan adalah investasi puluhan tahun.
Diplomasi bisa berubah dalam satu pertemuan.
Pendidikan menentukan nasib generasi.
Karena itu kritik yang muncul dari berbagai kalangan
bukan sesuatu yang mengherankan.
Bahkan sejumlah anggota DPR meminta pemerintah
menjelaskan arah dan manfaat kebijakan tersebut secara lebih rinci. Mereka
menilai pembelajaran bahasa asing memang penting, tetapi harus memiliki peta
jalan yang jelas serta mempertimbangkan kesiapan sekolah dan kebutuhan
pendidikan nasional.
Kegelisahan yang sama juga terlihat di ruang publik.
Dalam berbagai forum diskusi dan media sosial,
banyak warga mempertanyakan urgensi kebijakan tersebut. Sebagian menilai
pemerintah terlalu cepat berbicara tentang bahasa asing sementara kemampuan
dasar pendidikan nasional masih menghadapi banyak tantangan.
Tentu media sosial bukan ukuran kebenaran.
Namun suara publik tetap penting untuk didengar.
Karena pendidikan bukan milik penguasa.
Pendidikan adalah milik rakyat.
Yang lebih menyedihkan, di tengah antusiasme
terhadap bahasa asing, kita justru sedang kehilangan bahasa yang lahir dari
tanah kita sendiri.
Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah.
Bahasa-bahasa itu menyimpan sejarah.
Menyimpan doa-doa leluhur.
Menyimpan cara sebuah komunitas memahami kehidupan.
Namun setiap tahun, sebagian bahasa daerah
kehilangan penutur.
Anak-anak semakin jarang menggunakannya.
Sekolah tidak lagi memberi ruang yang cukup.
Dan perlahan-lahan bahasa itu menghilang tanpa
upacara.
Kita sibuk mengajarkan kata bonjour.
Tetapi lupa menjaga sapaan yang diwariskan nenek
moyang.
Kita bersemangat mempelajari bahasa dari seberang
lautan.
Tetapi membiarkan bahasa kampung sendiri perlahan
tenggelam dalam sunyi.
Tidak ada bangsa besar yang dibangun hanya dengan
kemampuan berbicara dalam banyak bahasa asing.
Bangsa besar dibangun oleh pendidikan yang kuat.
Oleh guru yang dihormati.
Oleh sekolah yang layak.
Oleh perpustakaan yang hidup.
Oleh murid yang tidak putus sekolah karena
kemiskinan.
Dan sampai hari ini, itulah pekerjaan besar yang
masih menunggu diselesaikan.
Karena itu, sebelum negara terlalu jauh berbicara
tentang Bahasa Prancis, Portugis, Mandarin, atau bahasa-bahasa dunia lainnya,
ada satu bahasa yang mungkin lebih mendesak untuk dipahami terlebih dahulu.
Bahasa yang setiap hari diucapkan rakyat dari ruang
kelas sederhana di pelosok negeri.
Bahasa yang tidak terdengar di forum-forum
internasional.
Bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah.
Bahasa itu sederhana:
“Perbaiki dulu pendidikan kami.”
Referensi:
Detik Edu – Prabowo Instruksikan Belajar Bahasa Prancis di
Semua Tingkatan Sekolah
Detik News – Di Depan Macron, Prabowo Instruksikan Sekolah di
RI Ajarkan Bahasa Prancis
Liputan6 – DPR Singgung Manfaat dan Roadmap Bahasa Prancis di
Sekolah
IDN Times – Prabowo Instruksikan Sekolah Wajib Belajar Bahasa
Prancis
