Sebelumnya,
Dokter Icha menjalani perawatan intensif setelah mengalami tekanan psikologis
akibat dugaan intimidasi saat bertugas sebagai dokter jaga di Rumah Sakit (RS)
Leona Kefamenanu, TTU. Peristiwa itu disebut terjadi ketika ia tengah
menjalankan tugasnya di rumah sakit. Kasus yang menimpa korban sempat menjadi
perhatian publik dan menuai sorotan berbagai pihak.
1. Isi pesan dari keluarga duka
Viktor
dalam pesannya menyampaikan ayah almarhumah, Gabriel Pakaenoni, yang
menyampaikan soal kepergian putri mereka. Ia menyebut penyebab kematiannya akan
disampaikan lebih lanjut.
"Dokter
Icha telah berpulang ke Rumah Bapa di Surga. Sebab meninggalnya dokter Icha
akan disampaikan setelah penanganan medis dilakukan. Terima kasih atas atensi
dan dukungan teman-teman semua dalam bersama menjaga dan melindungi paramedis
di rumah sakit dalam menjalankan tugas pelayanan kemanusiaannya," kata
Viktor.
Sebelumnya,
Viktor menyampaikan peristiwa intimidasi terjadi ketika dr. Icha menangani
seorang pasien anak yang dirujuk akibat gigitan ular pada 13 Juni 2026 lalu
sekitar pukul 12.50 WITA. Anak tersebut merupakan ponakan dari Therensius
Lazakar, anggota DPRD TTU.
Mereka
mempertanyakan penanganan yang Icha lakukan. Sementara Icha sudah menjelaskan
prosedur penanganan sudah dilakukan sesuai standar operasional prosedur di
bawah konsultasi dengan dokter spesialis.
2. Alami trauma berat usai kejadian
Situasi
kemudian memanas ketika Therensius dan Norbertus Tubani yang juga anggota DPRD
TTU saat itu mendesak Icha untuk memberikan anti venom atau serum anti bisa
ular. Sementara Icha sudah menjelaskan bahwa pasien belum masuk kategori
pemberian anti venom sedangkan stok obat pun tidak tersedia di rumah sakit
tersebut.
Ia
menjelaskan dalam situasi itu, Dokter Icha menerima bentakan dan perlakuan yang
dianggap sebagai intimidasi saat menjalankan tugas sehingga ia mengalami
tekanan psikologis yang berat.
"Pasca
kejadian itu dr. Icha mengalami trauma hingga depresi dan sempat menjalani
perawatan intensif. Dia mengaku sangat ketakutan," jelas dia.
3. Bantah memaki dan mengancam

Keluarga dokter Icha saat bertemu dengan pimpinan DPRD Kabupaten TTU (Dok Istimewa)
Sementara
Therensius dan Norbertus dalam keterangan pers mereka membenarkan sempat
mengeluarkan nada tinggi karena panik. Namun keduanya membantah mengintimidasi
dokter jaga tersebut.
"Kami
akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi. Tetapi itu
terjadi karena kami panik melihat kondisi pasien yang menurut kami belum
tertangani secara maksimal. Sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi
dokter ataupun tenaga kesehatan," ujarnya dalam keterangan pers, Minggu
(21/6/2026).
Lebih
lanjut, ia mengaku tak melontarkan makian maupun ancaman, agar permintaan
mereka dipenuhi. Mereka mengaku telah menyampaikan terima kasih atas perawatan
dari pihak rumah sakit sekaligus meminta maaf kepada direksi rumah sakit, dr.
Icha, dan seluruh tenaga medis yang bertugas di IGD *** CNN Indonesia
