banner Piring yang Belum Sampai ke Meja Anak-Anak

Piring yang Belum Sampai ke Meja Anak-Anak

Catatan Kritis atas Dugaan Korupsi Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis

Suara Numbei News Di negeri yang selalu mengagungkan masa depan, anak-anak sering kali hanya menjadi slogan.


Mereka disebut sebagai generasi emas, pewaris bangsa, dan harapan Indonesia 2045. Nama mereka hadir dalam pidato-pidato kenegaraan, dalam baliho-baliho pembangunan, dan dalam berbagai program yang diklaim berpihak kepada rakyat. Namun, di banyak ruang kelas yang jauh dari pusat kekuasaan, masa depan itu masih duduk di bangku kayu yang lapuk, membawa bekal seadanya, bahkan terkadang menahan lapar hingga lonceng pulang berbunyi.

Karena itu, ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkenalkan, banyak orang menaruh harapan. Program ini dipromosikan sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas gizi anak Indonesia sekaligus investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia bangsa.

Namun hari ini, harapan itu kembali diuji.

Publik dikejutkan oleh kabar bahwa mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, bersama sejumlah pejabat lainnya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG. Kabar itu bukan sekadar berita hukum. Ia adalah tamparan bagi nurani publik.

Sebab yang dipersoalkan bukan proyek gedung mewah, bukan pula pengadaan kendaraan dinas. Yang dipersoalkan adalah program yang seharusnya mengisi piring anak-anak Indonesia.

Lebih menyakitkan lagi, kasus ini muncul ketika masih banyak siswa di berbagai daerah yang belum pernah merasakan manfaat program tersebut.

Anak-anak di pelosok negeri masih bertanya-tanya kapan makanan bergizi yang dijanjikan negara akan tiba di sekolah mereka. Sebagian hanya mendengar cerita tentang MBG dari televisi, media sosial, atau pidato pejabat. Programnya ada, anggarannya ada, laporannya ada, tetapi makanannya belum sampai.

Di titik inilah pertanyaan moral harus diajukan.

Jika piring anak-anak masih kosong, lalu siapa yang lebih dahulu menikmati hasil dari program itu?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia Corruption Watch (ICW) mengungkap adanya dugaan penyimpangan dalam pengadaan yang berkaitan dengan program MBG. Dalam laporannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ICW menyebut bahwa "potensi kerugian negara yang kami hitung adalah Rp49,5 miliar", sebagaimana disampaikan Kepala Divisi Hukum dan Investigasi ICW, Wana Alamsyah kepada media. (Detik.com, 30 Mei 2026).

Angka Rp49,5 miliar mungkin hanya deretan statistik dalam laporan investigasi. Tetapi jika diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata, angka itu adalah ribuan porsi makanan yang seharusnya bisa dinikmati anak-anak sekolah. Angka itu adalah susu yang tidak diminum, telur yang tidak dimakan, dan gizi yang tidak pernah sampai kepada mereka yang berhak menerimanya.

Korupsi sering kali dibahas dalam bahasa hukum. Tetapi sesungguhnya korupsi adalah persoalan kemanusiaan.

Korupsi dalam program makan bergizi bukan sekadar pelanggaran administrasi atau penyalahgunaan kewenangan. Ia adalah pengkhianatan terhadap hak anak-anak. Ia adalah bentuk kekerasan yang dilakukan tanpa suara. Tidak ada jeritan yang terdengar, tidak ada darah yang terlihat, tetapi dampaknya merampas kesempatan anak untuk tumbuh sehat dan belajar dengan baik.

Dalam konteks itulah, dugaan korupsi MBG harus dibaca lebih jauh dari sekadar proses hukum yang sedang berlangsung.

Kasus ini memperlihatkan penyakit lama yang belum sembuh dalam birokrasi Indonesia: program yang baik sering kali dikalahkan oleh tata kelola yang buruk. Gagasan mulia kalah oleh kerakusan manusia. Niat membantu rakyat tersandung oleh hasrat memperkaya diri.

Padahal, sejak awal para pendiri bangsa telah mengingatkan bahwa kekuasaan bukanlah alat untuk menguasai rakyat, melainkan sarana untuk melayani mereka.

Bung Hatta pernah berkata:

"Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Tetapi tidak jujur itu sulit diperbaiki."

Kalimat itu terasa sangat relevan hari ini.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya efektivitas sebuah program, melainkan kejujuran negara di hadapan rakyatnya sendiri.

Rakyat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang diambil dari pajak benar-benar kembali kepada masyarakat. Mereka hanya ingin melihat anak-anak mendapatkan hak yang telah dijanjikan negara.

Jika pemerintah sungguh ingin menjadikan MBG sebagai tonggak pembangunan manusia Indonesia, maka yang harus dibangun terlebih dahulu bukan hanya dapur-dapur umum atau rantai distribusi pangan. Yang harus dibangun adalah integritas.

Tanpa integritas, program sebesar apa pun akan runtuh.

Tanpa integritas, angka-angka keberhasilan hanya menjadi kosmetik statistik.

Tanpa integritas, piring-piring anak-anak akan terus kosong meskipun laporan anggaran menunjukkan sebaliknya.

Kasus ini harus menjadi momentum untuk melakukan audit menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG. Publik berhak mengetahui ke mana anggaran mengalir, siapa yang menerima manfaat, dan mengapa masih banyak sekolah yang belum tersentuh program tersebut.

Karena sesungguhnya ukuran keberhasilan negara tidak terletak pada banyaknya pidato yang disampaikan, melainkan pada banyaknya anak yang bisa makan dengan layak.

Dan ketika sebuah program makan bergizi justru terseret dalam pusaran dugaan korupsi, maka yang hilang bukan hanya uang negara.

Yang hilang adalah kepercayaan.

Yang terluka adalah harapan.

Dan yang paling dirugikan adalah anak-anak yang hingga hari ini masih menunggu piring itu tiba di meja mereka.

Sementara para pejabat saling menjelaskan angka, prosedur, dan kewenangan, anak-anak hanya memahami satu hal yang sederhana: mereka lapar.

Maka sebelum negara berbicara tentang Indonesia Emas, ada pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu:

Sudahkah makanan yang dijanjikan itu benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkannya?

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama