Yang Terhormat Para Penguasa Negeri,
Di meja-meja kekuasaan, kenaikan harga BBM mungkin
hanya terlihat sebagai angka. Sebuah keputusan yang lahir dari rapat panjang,
kajian ekonomi, dan pertimbangan fiskal yang rumit. Namun di rumah-rumah rakyat
kecil, angka itu berubah menjadi kecemasan yang nyata.
Ketika BBM naik, yang bergerak naik bukan hanya
jarum dispenser di SPBU. Yang ikut melambung adalah ongkos transportasi, harga
sembako, biaya pendidikan, biaya produksi petani, biaya melaut para nelayan,
hingga harga kebutuhan pokok yang setiap hari menjadi penopang hidup
masyarakat.
Mungkin bagi sebagian orang yang hidup di balik
tembok kantor yang megah, kenaikan beberapa ribu rupiah bukanlah persoalan
besar. Namun bagi mereka yang penghasilannya pas-pasan, setiap rupiah adalah
perjuangan. Setiap kenaikan harga adalah ancaman bagi keberlangsungan hidup
keluarga.
Di pasar tradisional, para ibu kini semakin lama
berdiri di depan lapak. Bukan karena banyak pilihan yang ingin dibeli,
melainkan karena mereka harus menghitung ulang kemampuan mereka untuk bertahan
hidup. Mereka belajar mengurangi, bukan karena ingin berhemat, tetapi karena
keadaan memaksa.
Sementara itu, para petani terus berkeringat di
bawah terik matahari. Mereka menghasilkan pangan untuk negeri ini, tetapi
sering kali menjadi kelompok pertama yang merasakan beratnya kenaikan biaya
produksi. Nelayan berangkat melaut dengan harapan mendapatkan tangkapan yang
cukup, tetapi harga bahan bakar yang terus meningkat membuat keuntungan mereka
semakin tipis.
Penguasa yang terhormat,
Rakyat tidak pernah menolak pembangunan. Rakyat juga
memahami bahwa negara menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Namun rakyat
berhak bertanya: mengapa setiap kali ada kesulitan, mereka selalu menjadi pihak
yang diminta memahami keadaan?
Mengapa rakyat terus diminta bersabar, sementara
kesabaran itu tidak pernah dibayar dengan kesejahteraan yang setara?
Bukankah tugas negara adalah melindungi yang lemah?
Bukankah kekuasaan diberikan agar mampu menghadirkan keadilan bagi mereka yang
paling rentan?
Jangan sampai kebijakan hanya pandai menjaga
keseimbangan angka-angka dalam laporan keuangan, tetapi gagal menjaga
keseimbangan kehidupan rakyat. Sebab negara bukan sekadar neraca dan statistik.
Negara adalah wajah-wajah yang setiap hari berjuang agar anak-anak mereka tetap
bisa makan, sekolah, dan bermimpi tentang masa depan.
Kenaikan BBM mungkin dapat dijelaskan dengan teori
ekonomi. Namun rasa lapar tidak bisa dijelaskan dengan grafik. Kesulitan hidup
tidak bisa diselesaikan dengan pidato. Dan kegelisahan rakyat tidak akan reda
hanya karena konferensi pers.
Yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar penjelasan,
melainkan keberpihakan.
Turunlah dari menara kebijakan. Dengarkan suara
sopir yang pendapatannya semakin tergerus. Dengarkan petani yang biaya
produksinya melonjak. Dengarkan pedagang kecil yang harus menghadapi pembeli
yang semakin sulit menjangkau harga barang.
Sebab di balik setiap kebijakan terdapat manusia.
Dan di balik setiap angka terdapat kehidupan.
Sejarah telah berkali-kali mengajarkan bahwa sebuah
bangsa tidak runtuh karena kekurangan sumber daya. Bangsa runtuh ketika
penguasanya berhenti mendengar suara rakyat.
Maka sebelum memutuskan sesuatu yang menyentuh perut
jutaan warga negara, dengarkanlah jeritan yang tak terdengar dari
kampung-kampung, dari pasar-pasar, dari sawah-sawah, dari perahu-perahu nelayan
yang berlayar dalam gelap.
Karena sesungguhnya, yang sedang diuji bukan hanya
kesabaran rakyat.
Yang sedang diuji adalah nurani kekuasaan.
Jika kenaikan BBM adalah beban yang harus dipikul
bersama, maka pastikan penderitaan tidak hanya ditanggung oleh mereka yang
paling lemah.
Sebab keadilan bukanlah ketika semua orang
menanggung beban yang sama, melainkan ketika negara memastikan bahwa mereka
yang paling kecil tidak tertindas oleh beban yang terlalu besar.
Salam hormat,
Seorang Warga yang Masih Percaya Bahwa Kekuasaan
Harus Mendengar Rakyat
