Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti
Nonet'ek mengatakan angin monsun timur didominasi udara kering dan angin
kencang, yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
"Waspadai angin kencang yang sifatnya kering
karena berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah NTT,"
kata Sti Nonet'ek dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7).
Menurutnya, potensi angin kencang pada 29 Juli
terjadi di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua.
Sedangkan, pada 30 Juli, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kota
Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, dan Alor.
Kemudian pada 31 Juli, angin kencang diprakirakan
masih berpotensi terjadi di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan
(TTS), Rote Ndao, Sabu Raijua, dan Alor.
Selain itu, BMKG mencatat tingkat kemudahan terbakar
vegetasi di NTT berada pada level yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan peta Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang
diperbarui pada 29 Juli 2026, hampir seluruh wilayah NTT didominasi warna merah
yang menunjukkan kategori sangat mudah terbakar.
Kondisi tersebut tersebar di sebagian besar Pulau
Timor, Flores, Sumba, Alor, Lembata, Adonara, Solor, Rote Ndao, Sabu Raijua
hingga sejumlah pulau kecil lainnya.
Hal ini menunjukkan vegetasi di wilayah tersebut
sangat kering sehingga api akan lebih mudah muncul dan cepat menjalar apabila
dipicu oleh pembakaran lahan, pembakaran sampah, puntung rokok, maupun sumber
api lainnya.
Karena itu, masyarakat dihimbau tidak membuka lahan
dengan cara membakar dan membakar sampah di ruang terbuka, serta lebih
berhati-hati saat beraktivitas di kawasan hutan maupun lahan kering selama
musim kemarau. (PO/E-4)
