Setiap hari, para siswa di sekolah tersebut harus
mengikuti proses belajar mengajar di sebuah bangunan darurat yang jauh dari
kata layak.
Bangunan tempat mereka menimba ilmu masih
menggunakan konstruksi kayu, beratapkan daun gewang, berdinding bebak hanya
pada bagian tertentu, serta berlantai tanah liat.
Pantauan POS-KUPANG.COM pada Rabu (29/7/2026) menunjukkan,
bangunan darurat tersebut tampak telah miring dan terbuka karena belum memiliki
dinding permanen.
Sejumlah tiang kayu kusam masih menjadi penyangga
utama bangunan yang digunakan sebagai ruang belajar para siswa setiap hari.
Kondisi atap bangunan juga terlihat memprihatinkan.
Daun gewang yang selama ini menjadi pelindung dari panas dan hujan tampak sudah
berlubang di sejumlah bagian.
Ketika hujan turun, air berpotensi langsung masuk ke
dalam ruang belajar dan mengganggu proses pembelajaran.
Sebaliknya, saat matahari terik, panas dengan mudah
menerobos ke dalam ruangan karena minimnya perlindungan bangunan.
Di dalam ruang belajar tersebut, meja, kursi, dan
papan tulis yang digunakan para siswa juga sudah tampak kusam.
Dengan fasilitas yang serba terbatas, para siswa
biasa tetap duduk di bangku dan meja kayu sederhana untuk mengikuti pelajaran
yang diberikan oleh guru.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata tentang
keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang masih dihadapi anak-anak di
wilayah pelosok Kabupaten Malaka.
Di tengah kondisi ruang belajar yang sederhana dan
serba terbatas, para siswa tetap berusaha mengikuti kegiatan belajar mengajar
dengan mengenakan seragam sekolah serta membawa perlengkapan pendidikan
masing-masing.
Semangat para siswa untuk tetap bersekolah seolah
menjadi kontras dengan kondisi bangunan yang mereka tempati.
Di tempat yang jauh dari pusat pemerintahan daerah
itu, proses pendidikan tetap berjalan meski harus berlangsung dalam ruang
darurat yang belum memberikan rasa nyaman dan perlindungan sebagaimana mestinya
bagi anak-anak usia sekolah.
SDN Nunfutu 1 berada di Desa Wekeke, Kecamatan
Rinhat, salah satu wilayah di Kabupaten Malaka yang memiliki akses cukup jauh
dari pusat pemerintahan kabupaten.
Sekolah tersebut berjarak sekitar 80 kilometer dari
Kota Betun yang menjadi pusat Ibu Kota Kabupaten Malaka.
Jarak yang cukup jauh tersebut sekaligus
menggambarkan tantangan akses pembangunan dan pemerataan fasilitas pendidikan
di wilayah tersebut.
Di tengah keterbatasan itu, anak-anak SDN Nunfutu 1
tetap datang ke sekolah dan belajar setiap hari, menyimpan harapan agar suatu
saat mereka dapat menikmati ruang kelas yang lebih layak, aman, dan nyaman
untuk menuntut ilmu. (ito). *** poskupang.com
