Rockygerungnism: Filsafat dan Logika

Rockygerungnism: Filsafat dan Logika



Suara Numbei News - Siapa yang tidak tahu akan sosok Roger (Rocky Gerung) bagi pecinta filsafat di Indonesia. Kita semua tahu bahwa sosok filsuf satu itu memang terkenal dengan pikirannya yang radikal, dan memang sudah seperti itu seharusnya filsafat berjalan. Saya pun tertarik dengan filsafat dikarenakan sosok Roger. Sebagai seorang Penikmat Jalan Setapak yang kagum dengan cara berpikir beliau, maka saya ciptakan artikel ini sebagai upaya agar para pembaca tertarik untuk belajar filsafat, dan bisa dimulai dengan membaca artikel ini terlebih dahulu agar memudahkan sebelum menyelam lebih dalam.

Kita mulai dahulu dengan dasar dari filsafat. Roger mengklaim bahwa filsafat bukanlah suatu permenungan, tetapi aktivitas akal untuk mendalami ilmu pengetahuan dan mencari dasar dari kedalaman. Jika berbicara dasar, maka kita berbicara tentang hakekat dari suatu hal yang bersifat universal. Filsafat akan selalu aktif oleh kuriositas atau rasa ingin tahu yang tidak dihidupkan menggunakan mikroskop, survei atau doktrin, melainkan nalar.

Filsafat selalu diawali dengan adanya masalah, yang terkadang tidak dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Berfilsafat menurut Roger artinya menemui masalah itu dan dipandang secara seksama, sampai ia berbekas dalam pikiran. Bekas itu memang mampu menyiksa rasa aman kita, tetapi dia membangkitkan rasa ingin tahu kita atau kuriositas. Ketika hal itu terjadi, maka di situ adalah permulaan dari filsafat.

Rasa ingin tadi bisa kita sebut juga dengan pikiran yang berbinar, yang selanjutnya diperlukan sistematika untuk mengatur cara memikirkan masalah itu. Sistematika bersahabt dengan kuriositas, di mana mereka tidak dapat dipisahkan dan diperlukan dalam perburuan filsafat. Perburuan tersebut akan melahirkan refleksi dan argumentasi. Kenapa disebut bersahabat, karena sistematika tanpa kuriositas hanya akan menjadi barang mati, dan kuriositas tanpa sistematika akan membuat kita stress dan frustasi.

Sistematika yang dimaksud Roger artinya menghemat jalan pikiran, efesien dalam menerangkan pikiran dan memilih cara yang mudah untuk memami yang sulit. Hasil dari hal ini adalah kita akan mempersoalkan diri kita sendiri dengan risiko ‘diusir’ dari kebenaran. Berbicara tentang filsafat, maka ada tiga hal mendasar dari filsafat: tentang realitas (being), pengetahuan (knowledge), dan tindakan (moral). Hal ini wajib hukumnya diketahui.

Being di sini adalah segala soal mengenai hakekat: mengenai keberadaan kita dan dunia. Pertanyaan yang bisa diajukan berarti, apa artinya keberadaan kita dan juga dunia? Lalu bagaimana strukturnya? “Being” dalam filsafat masuk pada pembahasan “metafisika” atau lebih akrab disebut dengan “ontologi” dalam cabang filsafat. Lalu ada “knowledge: yang mengkaji soal arti dari mengetahui dan batas dari pengetahuan. Pembahasan dari “knowledge” sendiri disebut sebagai “Epistemologi”

Lalu yang terakhir tentang tindakan atau moral, yang dibahas dalam filsafat moral. Roger memberikan contoh, tindakan pacarmu bernilai atau tidak, diuraikan dengan alasan bukan dengan ayat. Tiga bidang tadi menjadi persoalan yang selalu mengalir sepanjang 25 abad. Sejarah filsafat merupakan sejarah tentang perdebatan terkait tiga hal itu, layaknya cinta segitiga.

Filsafat dapat dipelajari melalui pikiran filsuf. Kita bisa mulai dengan mengidolakannya, atau berpura-pura mengidolakannya. Seperti saya yang mengidolakan sosok Bertrand Russell dan Friedrich Nietzsche. Roger mengatakan kalian wajib memiliki kamus “istilah filsafat” agar tidak panik dalam membaca peta filsafat jika kalian sudah basah dan sekaligus saja nyemplung, apalagi sambil mendengarkan lagu blues.

Berfilsafat artinya berdiskusi dengan konsep, tidak hanya sekedar mengutip istilah dari para filsuf, karena filsafat adalah aktivitas pikiran, bukan sekedar comot-comot kutipan filsuf, ntah itu Plato, Karl Marx, dll. Walaupun begitu, kalian dapat memotivasi diri kalian yang ingin menyelami filsafat dengan berbagai macam dalil para filsuf, contonya Sokrates: Hidup yang tak diuji, tak layak untuk dijalani” demikian pula romans.

Filsafat menurut Roger hanya membuka percakapan tentang hal-hal mendasar kehidupan, bukan sebagai petunjuk hidup. Kalau petunjuk hidup, kita bisa tanya om Mario. Kalian menjeadi seorang yang kritis, determinis, nihilis, revolusiner, dll adalah soal kualitas pertemuan kalian dengan filsafat. Filsafat juga bukan ilmu untuk membahagaiakan orang, atau membuat kita merasa paham tentang kehidupan, layaknya motivator. Tetapi filsafat adalah interupsi terhadap kemapanan dan kenyamanan kita, karena bisa saja hal tersebut palsu, layaknya hasil otopsi.

Bagian terpenting adalah, mulailah dengan memikirkan kenapa berpikir itu harus berfilsafat, bahkan ketika kita berpikir kenapa itu tak penting, maka pikirkan pula hal itu. Walaupun demikian, filsafat bukanlah arogansi, melainkan kritik, bahkan kritik terhadap arogansi akal yang bisa saja digerogoti oleh bias akal. Dengan cara macam itu filsafat menunda kepastian. Hasil dari penundaan itu kita bisa sebut dengan “the not-yet” yang mampu mengbuka ruang kemungkinan-kemungkinan padam manusia. Jadi filsafat adalah metode, yaitu metode berpikir lebih dari biasa.

Selanjutnya mari kita masuk pada bidang logika. Dalam filsafat, logika disebut sebagai filsafat praktis, karena penerapannya yang mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Logika beranjak dari Roger bukanlah suatu hapalan, melaikan urusan ketetapatan prosedur penalaran. Logika bukanlah motif bernalar atau moralitas personal. Maka dari itu kata “dungu” yang sering diucapkan Roger merupakan ungkapan khusus bagi cara berpikir bukan orangnya. Kedunguan ini ada ketika kita sedang bernalar dan terjadi karena prosedur bernalar kita “diintervensi” oleh “logical fallacy” (kesesatan berpikir). Hal ini bisa terjadi karena prosedur bernalar kita kurang ketat. Maka dari itu sesat nalar dicari di dalam prosedur, bukan diada-adakan dari luar.

Menurut Roger, tidak ada pikiran yang separuh logis, karena pikiran memiliki prosedur, maka salah prosedur akan salah secara keseluruhan. Maka dari itu, Roger selalu memberikan nilai A atau hanya E, karena salah bernalar itu fatal layaknya matematika. Roger juga menyindir, dengan memberikan pernyataan bahwa logika itu dampak dalam kalimat efessien. Bukan dalam banyaknya referensi atau artikel comotan. Logika merupakan aktivitas pikiran yang otonom, dan tidak memerlukan dukungan dari gerombolan orang untuk menjadi logis.

Logika juga tidak dibela dengan referensi, melaikan logika menilai dirnya sendiri, apakah ia lurus atau bengkok. Cara untuk melatih logika menurut Roger adalah dengan: bukan pemuja kekuasaan, bukan pemaksa kebenaran dan bukan pengumpul pdf comotan. Menurut Roger, logika yang buruk, terutama oleh seorang pemimpin, sama saja sudah melanggar konstitusi, karena ada perintah di dalamnya yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa”

Kata “logis” juga bisa kita pakai ketika tidak ada kontradiksi. Jadi logika adalah aktivitas menghindari kontradiksi. Tetapi dalam dielaktika, justru kita memerlukan kontradiksi untuk menghasilkan pikiran baru. Dengan cara itu pula kita dapat menumbukan sikap kritis. Roger juga berpikir bahwa “logika” dalam pengertian umum disebut juga sebagai “pengawas” kebohongan, dikarenakan logika merupakan mata nalar, yang digunakan untuk menemukan kontradiksi aau “logical fallacies”.

Roger juga menegaskan bahwa fallacies ada di dalam penalaran, bukan dalam pelataran. Maka dari itu ketika seseorang berdebat lalu ia mengalihkan debat ke arah kebencian personal, tidak dapat disebut sebagai fallacies. Belajar logika berarti belajar untuk menggelengkan kepala apda tumpukan kutipan, bukan asal mengangguk dan belajar mengutip. Roger juga menegaskan bahwa warganegara harus belajar tentang dasar-dasar logika dan demokrasi, guna mencegah kepicikan dan menjadi hoaxer. Logika itu bukan ilmu untuk membangun infrastruktur, tetapi membangun infrastruktur rasio yang tanpanya pemimpin hanya mampu membangun hoax.

Jadi saya bisa katakan bahwa logika merupakan alat berpikir dalam filsafat, dan filsafat adalah metodenya. Layaknya senjata sebagai salah satu alat perang, namun terdapat metode dalam menembak beragam, namun tetap diarahkan untuk tepat sasaran, atau dalam filsafat adalah logis dan menyeluruh.

Yang saya lakukan sekarang juga sebenarnya tidak berfilsafat atau mungkin menurut kalian berfilsafat? Baiknya kita diskusikan di kolom komentar, karena saya hanya sekedar mengutip tweet Roger, lalu saya berusaha kemas agar lebih mudah dipahami bagi para pembaca, walaupun mungkin masih terdapat kebingungan di dalamnya. Nah kalau kita kembali di awal, maka di situlah letak berfilsafat kita, ketika kita mulai berusaha memahami yang sulit dengan sistematika, dan itu adalah ilmu logika.

Semoga artikel ini mampu membuat pikiran kita semua berbinar dan kritis. Agar mampu terhindar dari berbagai macam kebijaksanaan yang dikemas dengan kedunnguan yang membuat kita patuh dan krisis nalar. Yang terpenting, cara membaca filsafat itu bukan dengan membaca buku filsafat, melainkan membaca pikiran filosofis.

 


Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama