Tapi ada yang keliru di
sana.
Cendekiawan bukan hanya
mereka yang memiliki gelar akademik. Bukan hanya mereka yang mengutip
teori-teori besar, atau yang namanya tertera dalam daftar pustaka. Ada jenis
cendekiawan lain—yang tak selalu disadari keberadaannya. Mereka tidak mengisi
forum akademik, tetapi mereka adalah denyut kehidupan di jalanan, di pabrik, di
sawah, di pasar, di tempat-tempat di mana kerja dan pikiran bertemu dalam
bentuk yang paling konkret.
Mereka adalah
cendekiawan rakyat.
Dari Pabrik ke Pasar, dari Sawah ke Jalanan
Di sebuah warung kopi
kecil di pinggir jalan, seorang sopir truk berbicara tentang kenaikan harga
bahan bakar dan dampaknya terhadap ongkos hidup. Ia memahami bagaimana
kebijakan subsidi bisa mengubah keseimbangan ekonomi, bukan dari buku, tapi
dari aspal jalanan yang setiap hari dilaluinya.
Di sebuah pasar
tradisional, seorang pedagang tahu bahwa impor besar-besaran dari negara
tetangga telah membuat harga dagangannya anjlok. Ia tidak perlu membaca laporan
ekonomi untuk memahami bahwa sistem perdagangan yang berlaku lebih
menguntungkan segelintir orang dan menyulitkan mereka yang berdiri di bawah.
Di sebuah pabrik yang
baru saja melakukan PHK massal, seorang buruh berbicara tentang hak-hak pekerja
dengan ketajaman analisis yang bisa menandingi diskusi akademik. Ia memahami
dengan jelas bagaimana hukum ketenagakerjaan sering kali lebih berpihak pada
pemodal dibandingkan pekerja.
Mereka semua berpikir.
Mereka semua memahami realitas yang ada, tidak dari teori, tetapi dari
pengalaman langsung.
Inilah yang sering kali
luput dari perhatian: bahwa pengetahuan tidak hanya lahir di ruang kelas. Ia
juga lahir di jalanan, di tengah kerja, di dalam kehidupan yang dijalani dengan
penuh kesadaran.
Antara Intelektual dan Cendekiawan
Di Indonesia, kata
“intelektual” sering kali terdengar elitis. Ia diasosiasikan dengan seseorang
yang duduk di menara gading, yang berbicara dalam bahasa yang hanya dipahami
oleh segelintir orang.
Tapi dalam sejarahnya,
seorang cendekiawan tidak selalu seperti itu.
Tan Malaka adalah
seorang cendekiawan, meskipun hidupnya lebih banyak dihabiskan dalam pelarian.
Ki Hadjar Dewantara adalah seorang cendekiawan, meskipun perjuangannya lebih
banyak dilakukan di luar ruang akademik. Wiji Thukul adalah seorang
cendekiawan, meskipun puisinya tidak pernah diterbitkan dalam jurnal ilmiah.
Yang membedakan seorang
cendekiawan dengan sekadar intelektual adalah keberpihakan.
Seorang intelektual
bisa memahami persoalan, tetapi seorang cendekiawan bertindak. Seorang
intelektual bisa menulis tentang ketimpangan sosial, tetapi seorang cendekiawan
turun langsung ke lapangan, berdialog dengan rakyat, mengorganisir perubahan.
Dan jika kita mau
jujur, banyak dari mereka yang disebut “cendekiawan” hari ini justru semakin
jauh dari rakyat.
Mereka berbicara
tentang kemiskinan dari balik podium seminar, tetapi jarang benar-benar
berbincang dengan mereka yang hidup dalam kemiskinan. Mereka menulis tentang
demokrasi, tetapi tidak pernah benar-benar mengalami bagaimana demokrasi dirusak
di tingkat akar rumput.
Sebaliknya, seorang
petani yang memahami bagaimana harga panen ditentukan oleh permainan kartel
bisa lebih tajam dalam menganalisis sistem ekonomi dibandingkan seorang ekonom
yang hanya melihat angka di atas kertas.
Seorang buruh yang tahu
bagaimana kontrak kerja dibuat untuk mengeksploitasi bisa lebih tajam dalam
membaca hukum ketenagakerjaan dibandingkan seorang sarjana hukum yang belum
pernah bekerja sehari pun di pabrik.
Inilah cendekiawan
rakyat—mereka yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengalami kenyataan.
Ketika Ilmu Terpisah dari Kehidupan
Ada yang berubah dalam
dunia akademik kita.
Dulu, para pemikir
besar tidak hanya berbicara kepada sesama akademisi, tetapi juga kepada
masyarakat luas. Soekarno menulis dengan bahasa yang bisa dipahami buruh dan
petani. Hatta berbicara tentang ekonomi rakyat dengan cara yang membumi.
Tapi hari ini, banyak
intelektual justru semakin menjauh dari rakyat. Mereka menulis dalam bahasa
yang sulit dimengerti, menerbitkan karya-karya yang hanya dibaca oleh sesama
akademisi, dan jarang turun langsung untuk memahami realitas yang terjadi.
Mungkin ini sebabnya mengapa
masyarakat semakin tidak peduli dengan dunia akademik.
Ilmu yang seharusnya
menjadi alat untuk memahami dan mengubah dunia justru menjadi sesuatu yang
eksklusif, hanya untuk mereka yang memiliki akses ke universitas.
Padahal, ilmu seharusnya
hidup di tengah masyarakat. Ia bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh
segelintir orang, tetapi sesuatu yang bisa diakses dan dipahami oleh siapa
saja.
Dan inilah peran
penting cendekiawan rakyat: menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan,
mengubah teori menjadi tindakan, menjadikan ilmu sebagai bagian dari perjuangan
sosial.
Cendekiawan Tanpa Gelar
Ada mitos bahwa
seseorang hanya bisa disebut cendekiawan jika memiliki gelar akademik. Tapi
sejarah membuktikan bahwa gelar bukanlah syarat utama untuk menjadi seorang
pemikir.
Sartre, salah satu
filsuf terbesar abad ke-20, lebih dikenal karena esainya di surat kabar
dibandingkan karya akademiknya. Antonio Gramsci, yang pemikirannya masih
berpengaruh hingga hari ini, menulis sebagian besar gagasannya di penjara.
Di Indonesia, Pramoedya
Ananta Toer tidak pernah menyelesaikan pendidikan formalnya, tetapi tulisannya
lebih tajam dalam menganalisis sejarah bangsa dibandingkan banyak sejarawan
akademik.
Cendekiawan tidak
didefinisikan oleh gelar, tetapi oleh gagasan dan keberpihakan.
Dan jika kita mau
melihat lebih dekat, cendekiawan seperti ini ada di mana-mana.
Mereka adalah petani
yang memahami bagaimana kebijakan agraria tidak berpihak pada rakyat kecil.
Mereka adalah nelayan yang tahu bagaimana industri besar merusak ekosistem
laut. Mereka adalah pekerja informal yang memahami bahwa hukum ketenagakerjaan
tidak pernah benar-benar melindungi mereka.
Mereka mungkin tidak
menulis di jurnal ilmiah, tetapi pemikiran mereka tajam. Mereka mungkin tidak
berbicara dalam seminar, tetapi mereka memahami persoalan dengan cara yang jauh
lebih konkret.
Dan justru dari
merekalah, kita bisa belajar.
Menjadi Cendekiawan Rakyat
Pertanyaannya, apakah
kita masih bisa membangun jembatan antara dunia akademik dan realitas sosial?
Apakah kita masih bisa
membuat ilmu kembali hidup di tengah masyarakat?
Tugas cendekiawan bukan
hanya menulis dan berpikir, tetapi juga mendengar dan berbicara kepada mereka
yang selama ini suaranya tidak terdengar.
Jika kita ingin melihat
perubahan nyata, kita harus mulai melihat ke bawah—bukan dalam arti
merendahkan, tetapi dalam arti memahami bahwa kebijaksanaan sering kali lahir
dari mereka yang selama ini dianggap tidak berpendidikan.
Negeri ini tidak
kekurangan intelektual. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak cendekiawan
rakyat—mereka yang berpikir, tetapi juga bertindak. Mereka yang membaca, tetapi
juga mengalami. Mereka yang tidak hanya berbicara kepada sesama akademisi,
tetapi juga kepada buruh, petani, nelayan, dan mereka yang selama ini hanya
menjadi objek kebijakan, bukan subjek pemikiran.
Karena jika ilmu hanya
berputar di dalam lingkaran akademik, ia akan mati. Tetapi jika ilmu dihidupkan
oleh rakyat, ia akan menjadi kekuatan yang mengubah dunia.