Di tengah ketatnya
aturan gereja yang membagi peran laki-laki dan perempuan secara tegas,
keberadaan sosok berdarah Meksiko ini seakan menjadi bukti bahwa identitas
gender tak selalu bisa dikotakkan dalam definisi yang kaku.
Ia tumbuh dan menjalani
hidup sebagai laki-laki, memenuhi ekspektasi gereja untuk menapaki jenjang
kepemimpinan spiritual yang selama ini hanya diperuntukkan bagi laki-laki.
Namun, ketika kebenaran
tentang identitasnya terungkap, Benítez dihadapkan pada dilema: tetap
mempertahankan dirinya apa adanya atau menyesuaikan diri dengan norma yang
berlaku. Perjalanannya sebagai seorang rohaniwan dalam institusi yang sangat
patriarkal menunjukkan kontradiksi antara ajaran konservatif dan kebutuhan
untuk beradaptasi dengan keberagaman manusia.
Identitas Interseks dan Konservatisme Gereja
Menjelang akhir film,
Kardinal Benítez mengungkapkan bahwa ia lahir dengan karakteristik biologis
yang secara medis dikategorikan sebagai perempuan, tetapi ia dibesarkan sebagai
laki-laki dan menjalani kehidupan sebagai seorang pendeta. Hal ini mencerminkan
bagaimana sistem sosial dan agama membentuk identitas seseorang sejak dini.
Jika menilik konsep
Judith Butler dalam Gender Trouble (1990), gender bukanlah esensi biologis,
melainkan konstruksi sosial yang dibentuk melalui norma dan praktik budaya.
Gereja, sebagai salah satu institusi yang paling berpengaruh dalam membentuk
norma gender, berperan dalam membentuk identitas Benítez sebagai laki-laki,
meskipun tubuhnya tidak sesuai dengan kategori biner yang diakui.
Ketika Benítez akhirnya
mengetahui kondisi tubuhnya setelah menjalani operasi usus buntu, ia mengalami
krisis eksistensial sehingga merasa seolah-olah hidupnya sebagai seorang
rohaniwan adalah sebuah dosa. Namun, Butler dalam Bodies That Matter (1993)
menunjukkan bahwa identitas gender tidak hanya dibentuk oleh tubuh biologis,
tetapi juga oleh diskursus kekuasaan yang menentukan siapa yang “valid” dalam
sistem sosial.
Paus sebelumnya yang
mengetahui kondisinya justru tetap mengangkatnya sebagai kardinal “in pectore”
atas tugasnya di daerah konflik–Kabul, Afghanistan. Hal ini menunjukkan bahwa
dalam beberapa kasus, gereja dapat lebih fleksibel daripada yang terlihat di
permukaan.
“Aku adalah
Ciptaan Tuhan”
Salah satu pernyataan
paling kuat dari Benítez di film ini adalah “I am what God made me”. Saat itu,
ia mengalami kebimbangan untuk menjalani operasi agar sesuai dengan norma
gender yang ada. Namun, pada akhirnya, ia memilih untuk tetap bertahan karena
tubuhnya merupakan pemberian Tuhan yang mulia.
Sepanjang hidupnya,
Benítez menjalani peran sebagai laki-laki demi memenuhi aturan gereja, karena
jabatan pendeta dan kardinal hanya diperuntukkan bagi pria. Berdasarkan
perspektif Butler, ini adalah contoh nyata bagaimana gender itu bukan sesuatu
yang kita punya sejak lahir, tapi sesuatu yang terus kita lakukan sesuai norma
sosial–dengan kata lain gender sebagai performativitas.
Tapi di titik tertentu,
Benítez mulai menyadari bahwa identitas interseksnya bukan sekadar “anomali”
yang harus disembunyikan, melainkan bagian dari keberagaman manusia yang juga
ciptaan Tuhan. Hal ini menggambarkan kalau tubuh tidak akan pernah bisa
dipisahkan dari aturan sosial yang mengaturnya. Selama ini, gereja punya
batasan ketat soal siapa yang boleh memimpin, dan Benítez—dengan identitas
interseksnya—menantang aturan itu secara langsung.
Menariknya, Benítez tak
lantas memilih untuk “menyesuaikan diri” dengan norma yang ada, misalnya dengan
menjalani operasi agar lebih sesuai dengan ekspektasi gender tertentu.
Sebaliknya, dia memilih untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Agensinya untuk
memilih itu pun menggambarkan bentuk subversion of identity—upaya membongkar
aturan yang selama ini dianggap mutlak.
Keputusan Benítez
dengan kalimat ikoniknya itu pun semakin menegaskan bahwa gender bukan sekadar
soal cocok atau tidaknya seseorang untuk dikategorikan sebagai laki-laki atau
perempuan, tapi bagaimana seseorang memahami, menjalani, dan mencari identitasnya
sendiri.
Gereja, Gender, dan Kepemimpinan
Benítez akhirnya
terpilih sebagai Paus, sebuah peristiwa yang sangat revolusioner dalam agama
Katolik. Selama berabad-abad, gereja menegaskan bahwa hanya laki-laki yang bisa
menjadi imam, apalagi menduduki posisi Paus. Namun, realitas Benítez sebagai
seorang interseks menantang batasan itu: seseorang yang memiliki karakteristik
biologis perempuan justru naik ke pucuk kepemimpinan gereja.
Hal ini tentu
menggambarkan pendapat Butler bahwa bahasa dan institusi berperan besar dalam
membentuk siapa yang diakui secara sosial. Gereja, sebagai institusi
patriarkal, selama ini memegang teguh struktur gender biner dalam hierarkinya.
Namun, Benítez menunjukkan bahwa batasan ini bukanlah sesuatu yang absolut. Ia
bisa dinegosiasikan, bahkan di ranah yang selama ini dianggap paling kaku dalam
mempertahankan norma gender tradisional.
![]() |
Poster Carlos Diehz sebagai Kardinal Benítez. (Sumber: Focus Features/X) |
Menariknya, Conclave tidak
memberikan jawaban pasti tentang bagaimana gereja akan menyikapi hal ini ke
depannya. Adegan terakhir menampilkan Kardinal Lawrence yang berdiri di dekat
jendela, menatap ke luar dengan guratan senyum samar.
Di saat yang sama, tiga
suster dengan jubah putih bersih berjalan keluar dengan bahagia. Bagi saya, ini
bisa diartikan sebagai simbol keterbukaan dan kemungkinan perubahan; sebuah
isyarat bahwa gereja, pelan tapi pasti, tengah bergerak menuju titik baru dalam
sejarahnya.
Ditambah lagi dengan
pernyataan Kardinal Lawrence sebelum prosesi pemilihan,
“Let us pray that God will grant us a Pope who doubts. Let Him grant us a Pope who sins and asks for forgiveness. And carries on.”
Pernyataan ini
menggambarkan bagaimana gereja, yang selama ini memegang teguh dogma, akhirnya
mengakui bahwa kepemimpinan spiritual tidaklah harus absolut dan tanpa cela.
Justru, seorang
pemimpin yang meragukan dan terus mencari kebenaran mungkin lebih relevan bagi
masa depan gereja. Ini adalah pengakuan bahwa keimanan tidak harus datang dalam
bentuk kepastian mutlak, tetapi juga bisa lahir dari kebimbangan dan refleksi
terus-menerus.
Dalam konteks gender,
ini menjadi semakin menarik. Butler berargumen bahwa gender bukanlah sesuatu
yang tetap, tetapi sesuatu yang terus dilakukan dan dinegosiasikan. Benítez,
yang sepanjang hidupnya menjalani peran sebagai laki-laki sesuai tuntutan
gereja, kini mendapati bahwa identitasnya lebih kompleks daripada sekadar
kategori biner.
Namun, ia memilih untuk
tetap mempertahankan eksistensinya sebagai seorang rohaniwan tanpa harus
menyesuaikan diri dengan standar biologis tertentu.
Antara Inklusivitas dan Status Quo
Kisah Benítez dalam Conclave
bisa dilihat sebagai simbol bagaimana agama menghadapi realitas gender di dunia
modern. Walaupun bukan seorang reformis radikal, tetapi kehadirannya sendiri
sudah cukup untuk mengguncang fondasi konservatisme gereja. Film ini membuat
saya bertanya-tanya: seberapa jauh gereja bersedia mengakomodasi realitas
gender yang lebih kompleks?
Di satu sisi,
pemilihannya sebagai Paus bisa dilihat sebagai langkah maju dalam penerimaan
keragaman identitas. Namun, di sisi lain, karena ia tetap mempertahankan
identitasnya sebagai laki-laki dan menolak operasi, hal ini juga bisa dianggap
sebagai bentuk kompromi yang tetap berpegang pada aturan gender tradisional
gereja.
Butler juga menunjukkan
bahwa sistem sosial sering kali tampak inklusif, tetapi tetap mempertahankan
hierarki yang sudah ada. Gereja mungkin menerima Benítez, tetapi tetap dalam
batasan yang tidak mengganggu fondasi patriarkalnya.
Akan tetapi, kisah
Kardinal Benítez tetap membuka perdebatan penting tentang hubungan antara agama
dan gender. Ia menunjukkan bahwa identitas gender tidak selalu hitam dan putih,
dan bahwa iman tidak selalu berseberangan dengan keragaman identitas.
Conclave memberikan
refleksi yang dalam tentang bagaimana institusi yang sangat konservatif menghadapi
tantangan zaman dan bagaimana individu di dalamnya menavigasi batasan-batasan
tradisional.
Apakah pemilihan
Benítez sebagai Paus akan menjadi awal dari gereja yang lebih inklusif, ataukah
ini hanya kasus pengecualian yang tidak akan mengubah sistem secara
fundamental? Ini adalah pertanyaan yang terus bergema di dunia nyata, ketika
banyak kelompok masih berjuang untuk pengakuan dalam institusi keagamaan yang
telah lama membatasi peran mereka.
Daftar Referensi
Butler, J. (1990). Gender trouble. Routledge.
_______. (1993). Bodies that matter. Routledge.