Di lokasi, tim
menemukan seekor buaya muara dan memutuskan untuk menangkapnya
menggunakan snar bite dan harpoon. Snar bite merupakan
alat terbuat dari kawat sling yang berfungsi sebagai perangkap sedangkan harpoon terbuat
dari gagang dan mata tombak yang tersambung pada sebuah tali kecil.
“Buaya jantan yang
ditangkap itu panjangnya 2,4 meter dan diamankan di kandang penampungan
sementara,” jelas Arief Mahmud, Kepala BBKSDA NTT,
melalui keterangan tertulisnya, Rabu (26/2/2025).
Menurut Arief, sejak 2019 hingga Februari 2025, sudah terjadi 59 konflik. Sebanyak
31 orang meninggal dan 28 orang terluka hingga cacat.
Kejadian terbanyak di
Kabupaten Kupang (18 kasus), Malaka (9 kasus), Sumba Timur dan Sumba Barat Daya
(7 kasus), Lembata (6 kasus), Timor Tengah Selatan (5 kasus), Belu dan Rote
Ndao (2 kasus), serta Ende, Sikka dan Kota Kupang (1 kasus).
“Serangan buaya
biasanya terjadi saat warga mancing, atau ketika mandi dan mencuci,” jelasnya.
Terbaru, mengutip
situs BBKSDA NTT, konflik kembali terjadi pada 28 Februari 2025. Yafet Maak, warga Desa
Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, diserang buaya saat memanah
ikan di Danau Tuadale. Korban selamat dan dirawat di Rumah Sakit Ben Boi
Kupang.
Laporan kemunculan buaya muara
Sejak awal 2025, pihak
balai telah menerima lima laporan kemunculan buaya muara.
“Pada musim hujan,
ketika air sungai meluap, biasanya buaya bergerak ke daratan atau hulu. Situasi
ini harus diwaspadai, terutama masyarakat yang beraktivitas di sungai maupun
dekat muara,” terang Arief.
Masyarakat diminta
menghindari wilayah yang sudah dipasang papan peringatan bahaya buaya, serta
tidak menurunkan anggota tubuh saat berperahu. Jika terpaksa melakukan
aktivitas mandi dan mencuci di sungai, usahakan membangun pagar pembatas.
“Segera lapor ke
pemerintah atau kepolisian setempat saat melihat kemunculan buaya,” paparnya.
Pendidikan lingkungan
Yuvensius Stefanus
Nonga, Deputi Walhi NTT, mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah-langkah
pencegahan agar konflik tidak terus berulang.
“Pemetaan wilayah
antara habitat buaya dan tempat tinggal manusia serta titik-titik akses
masyarakat ke pesisir harus ada,” jelasnya, beberapa waktu lalu.
Menurut Yuven, secara
teknis harus ada kebijakan daerah yang melindungi habitat buaya. Peraturan ini
bertujuan memastikan perlindungan ruang hidup satwa, selain menjauhkannya dari
konflik dengan manusia.
“Pastikan juga tidak
ada aktivitas yang mengancam habitat buaya, serta ada pendidikan lingkungan
bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa liar,” jelasnya.
![]() |
|
Buaya muara mudah beradaptasi
Mengapa buaya menyerang
manusia? Berdasarkan keterangan IUCN Crocodile
Specialist Group, insiden serangan buaya terhadap manusia dapat terjadi
karena :
- Buaya mencari makan: Semua jenis buaya bersifat oportunis. Bertambah besar tubuhnya maka bertambah besar pula mangsanya dan ukuran tubuh manusia sesuai kriteria tersebut.
- Mempertahan wilayah teritorial: Berbagai jenis buaya, termasuk buaya muara, memiliki wilayah jelajah dan akan mempertahankan area tersebut terhadap para pengganggu, termasuk kehadiran manusia.
- Mempertahankan sarang atau anak: Sifat protektif ini dilakukan untuk melindungi telurnya dari serangan predator.
- Salah target: Kejadian ini bisa terjadi saat buaya bermaksud menyerang anjing atau binatang lain yang berada dekat manusia. Atau, nelayan yang hendak memeriksa jaring diserang dikarenakan buaya tertarik dengan ikan di jaring tersebut.
- Bentuk pertahanan diri: Sebagaimana umumnya satwa liar, buaya juga akan mempertahankan diri dalam kondisi terancam.
Buaya muara [Crocodylus porosus] tersebar
luas di perairan Indonesia, mulai Sumatera hingga Papua. Jenis ini merupakan
predator puncak yang mudah beradaptasi. Pada individu dewasa warna tubuhnya
lebih gelap ketimbang remaja. Bagian ventral tubuhnya berwarna kuning gading
kecuali bagian ekor yaitu abu-abu.
Ukuran individu jantan
mencapai 5-6 meter, sedangkan betina kisaran 2,5-3 meter. Kematangan seksual
biasanya pada umur 10 tahun. Buaya muara biasa ditemukan di air keruh yang
dalam dan gelap. Ia memangsa amfibi, krustasea, reptil kecil, hinga ikan.
Mengutip Australia
Zoo, saat musim kawin, yang biasanya terjadi pada musim hujan, buaya jantan
besar akan keliling untuk melindungi wilayah teritorinya dari ancaman jantan
lain. Antara 4-6 minggu setelah masa kawin, betina akan bertelur 40-60 butir di
sarangnya. *** mongabay.co.id