banner Katedral Ruteng dalam Pusaran Tanda Tanya: Keuangan Gelap dan Sosok di Balik Layar

Katedral Ruteng dalam Pusaran Tanda Tanya: Keuangan Gelap dan Sosok di Balik Layar

Persoalan serius tengah membayangi Paroki Katedral Ruteng, Keuskupan Ruteng. (Dok. Obor Timur/ Gordi Jamat)


Suara Numbei News - Persoalan serius tengah membayangi Paroki Katedral RutengKeuskupan Ruteng. Sejumlah umat, pengurus gereja, dan sumber internal mengungkapkan dugaan ketertutupan pengelolaan keuangan paroki yang disebut berlangsung sejak Pastor Paroki berinisial AL memimpin. Situasi ini memicu keresahan mendalam, terutama setelah munculnya sosok perempuan muda berinisial A yang disebut memiliki akses luas terhadap keuangan gereja, meskipun tidak memiliki status resmi dalam struktur kepegawaian paroki.

Informasi ini diperoleh Obor Timur melalui serangkaian wawancara dengan sumber terpercaya yang dilakukan pada Senin sore, 2 Februari 2026, serta Kamis sore, 5 Februari 2026. Demi keamanan, identitas narasumber sengaja dirahasiakan.

Menurut salah satu narasumber yang diwawancarai pada 2 Februari 2026, situasi di Katedral mulai berubah sejak Pastor AL mulai bertugas sekitar satu tahun lalu. Pada awal kedatangannya, Pastor AL disebut menyampaikan bahwa dirinya diutus untuk membenahi kebocoran keuangan yang diduga terjadi sebelumnya.

"Dia bilang waktu pertama masuk, dia datang karena ada kebocoran keuangan di katedral sejak dulu. Dia mau benahi semuanya. Tapi yang terjadi sekarang justru kami tidak lagi dilibatkan dalam proses keuangan," ujar sumber tersebut.

Perubahan yang paling mencolok, menurut sumber itu, adalah munculnya seorang perempuan berinisial A yang awalnya diduga hanya membantu urusan pribadi Pastor AL. Namun, dalam waktu singkat, perempuan tersebut disebut mulai terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan paroki, termasuk menangani kolekte dan bahkan memegang akses ke brankas.

"Awalnya kami pikir dia keluarga Romo, karena sering di kamar Romo. Tapi ternyata bukan. Lama-lama dia yang hitung uang, urus kolekte, bahkan sandi brankas hanya dia yang tahu. Kami bendahara saja tidak tahu sandi itu," ungkapnya.

Kondisi ini memicu kegelisahan di kalangan pengurus dan karyawan paroki, terutama karena perempuan tersebut tidak memiliki Surat Keputusan (SK) sebagai pegawai sekretariat. Selain itu, seorang pria berinisial I yang diketahui bukan beragama Katolik juga disebut terlibat dalam pengurusan uang kolekte, meskipun tidak memiliki jabatan resmi.

Kejadian yang paling menghebohkan terjadi pada malam Natal, 24 Desember 2025. Saat itu, uang kolekte yang dikumpulkan oleh umat melalui petugas dari Legio Maria dibawa ke pastoran untuk disimpan. Namun, alih-alih diterima bendahara resmi, uang tersebut justru diterima oleh perempuan berinisial A dan pria berinisial I.

Salah satu anggota Legio Maria yang terlibat langsung dalam proses tersebut mengungkapkan keganjilannya melalui pesan yang kemudian dibagikan kepada Obor Timur.

"Sampai di pastoran, ada satu orang laki-laki yang saya tidak kenal ikut urus uang kolekte. Dia pegang alat pengikat dan kunci kamar penyimpanan uang. Saya kaget, karena selama ini yang urus itu bendahara. Saya tanya dalam hati, apakah ada pegawai baru bagian keuangan?" tulisnya.

Keesokan harinya, keganjilan lain kembali ditemukan. Menurut kesaksian narasumber yang diwawancarai pada 2 Februari 2026, jumlah uang kolekte yang sebelumnya memenuhi karung terlihat berkurang secara signifikan.

"Waktu malam itu uangnya penuh sampai tidak bisa ditekan lagi. Tapi besok pagi, waktu kami buka, jumlahnya tinggal setengah. Klem pengikatnya juga berubah posisi. Itu kami lihat sendiri," ungkap narasumber tersebut.

Ia menambahkan bahwa dirinya menyaksikan langsung kondisi uang yang sebelumnya penuh dan kemudian berkurang.

"Saya ada waktu itu. Saya lihat sendiri karungnya penuh. Tapi besoknya sudah berkurang jauh. Itu yang membuat kami sangat khawatir," katanya.

Selain persoalan kolekte, narasumber juga mengungkapkan perubahan mekanisme keuangan paroki secara keseluruhan. Sebelumnya, seluruh uang kolekte dicatat, dihitung, dan dikelola oleh bendahara resmi. Namun kini, proses tersebut disebut berlangsung tertutup dan terpusat di kamar Pastor AL.

"Sekarang kalau ada kolekte dari KBG, langsung dibawa ke kamar Romo. Dibuka di situ, tidak ada saksi. Kami hanya lihat laporan, tapi tidak pernah ikut hitung," ujarnya.

Situasi ini membuat sejumlah pengurus merasa kehilangan fungsi dan tanggung jawab mereka.

"Padahal kami bendahara resmi, tapi tidak dilibatkan. Semua dipegang oleh dia dan perempuan itu," lanjutnya.

Selain itu, beberapa narasumber juga mengungkapkan ketidaknyamanan mereka terkait kedekatan pribadi antara Pastor AL dan perempuan berinisial A. Perempuan tersebut disebut sering keluar masuk kamar Pastor AL, bahkan hingga larut malam.

"Saya lihat sendiri dia sering masuk kamar Romo sampai tengah malam. Itu membuat saya tidak nyaman, akhirnya saya memilih keluar dari pastoran," ujar narasumber dalam wawancara 2 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa perempuan tersebut tidak memiliki hubungan keluarga dengan Pastor AL, tetapi tetap memiliki akses penuh terhadap ruang pribadi dan keuangan paroki.

Dalam wawancara terpisah pada Kamis, 5 Februari 2026, narasumber lain juga mengungkapkan bahwa hingga kini tidak pernah ada penjelasan resmi mengenai status perempuan A maupun pria I.

"Sampai hari ini tidak ada penjelasan siapa mereka, apa tugas mereka, dan kenapa mereka bisa pegang uang gereja," ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa keputusan untuk memberi mereka peran disebut dilakukan tanpa melalui mekanisme rapat resmi pengurus.

"Kami dengar mereka bahkan mau dimasukkan sebagai karyawan. Tapi tidak pernah dibahas dalam rapat pleno. Itu yang membuat kami makin bingung," katanya.

Situasi ini telah dilaporkan kepada pihak Keuskupan Ruteng. Menurut narasumber, tim audit internal disebut telah mulai mengumpulkan informasi terkait dugaan kejanggalan tersebut.

"Dari keuskupan sudah mulai cari tahu. Mereka minta bukti dan keterangan dari kami," ungkapnya.

Para narasumber menegaskan bahwa mereka menyampaikan informasi ini bukan untuk menyerang pribadi siapa pun, melainkan demi transparansi dan menjaga integritas gereja.

"Kami hanya ingin semuanya transparan. Ini uang umat, harus dikelola dengan benar dan terbuka,"tegas narasumber.

Hingga berita ini diterbitkan, Pastor Paroki Katedral Ruteng berinisial AL belum memberikan klarifikasi resmi terkait berbagai dugaan tersebut, termasuk status perempuan berinisial A dan pria berinisial I, serta mekanisme pengelolaan keuangan paroki yang dipertanyakan umat dan pengurus internal.

Obor Timur masih berupaya menghubungi Pastor AL dan pihak Keuskupan Ruteng untuk memperoleh penjelasan dan klarifikasi resmi guna menjaga keberimbangan informasi.*** obortimur.com



 

 

 



Suara Numbei

Setapak Rai Numbei adalah sebuah situs online yang berisi berita, artikel dan opini. Menciptakan perusahaan media massa yang profesional dan terpercaya untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami dan menyikapi segala bentuk informasi dan perkembangan teknologi.

Posting Komentar

Silahkan berkomentar hindari isu SARA

Lebih baru Lebih lama