Koordinator Lapangan Koalisi Nakes NTT, dr.
Syebenheser Hetingwati, menegaskan bahwa aksi tersebut bukan sekadar mengenang
kepergian Dokter Icha, tetapi juga sebagai bentuk perjuangan agar tidak ada
lagi tenaga kesehatan yang mengalami intimidasi saat menjalankan tugas
pelayanan kepada masyarakat.
"Kami hadir bukan hanya untuk mengenang Dokter
Icha, tetapi memastikan kejadian seperti ini tidak pernah terulang. Tenaga
kesehatan harus mendapatkan perlindungan ketika memberikan pelayanan kepada
masyarakat," ujar Syeben dalam orasinya.
Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah
NTT itu juga mendesak Kepolisian Republik Indonesia, khususnya Polda NTT, agar
segera menuntaskan proses hukum terhadap tiga anggota DPRD TTU dan seorang
aparatur sipil negara (ASN) yang berprofesi sebagai dokter hewan di Dinas
Peternakan TTU.
Keempat orang tersebut diketahui telah dilaporkan
oleh keluarga Dokter Icha kepada Polda NTT.
"Kami meminta tiga anggota DPRD TTU dan satu
ASN dokter hewan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Tenaga kesehatan
wajib mendapatkan perlindungan. Saya meminta mereka dihukum maksimal apabila
terbukti bersalah menurut hukum," tegas Syeben yang disambut sorakan
peserta aksi.
Menurutnya, kasus yang menimpa Dokter Icha harus
menjadi momentum lahirnya perlindungan hukum yang lebih kuat bagi tenaga
kesehatan di Indonesia, khususnya di Provinsi NTT.
Ia mengingatkan bahwa NTT hingga kini masih
mengalami kekurangan dokter dan tenaga kesehatan di berbagai daerah. Kondisi
tersebut, kata dia, akan semakin memburuk apabila para tenaga medis merasa
tidak aman saat menjalankan profesinya.
"Dokter di NTT masih sangat minim. Jangan
sampai tenaga kesehatan yang mengabdi justru merasa tidak aman ketika
menjalankan tugas kemanusiaannya. Negara harus hadir melindungi mereka,"
ujarnya.
Selain mendesak aparat penegak hukum, Koalisi Nakes
NTT juga meminta partai politik segera mengambil langkah etik terhadap kadernya
yang sedang menjalani proses hukum.
Mereka memberikan tenggat waktu satu hingga dua
pekan kepada partai politik untuk menonaktifkan sementara dua anggota DPRD TTU
yang masih aktif, yakni Therensius Lazakar dari Partai Golkar dan Norbertus
Tubani dari PKB, sebagai bentuk komitmen menjaga objektivitas proses hukum.
"Kalau dalam satu atau dua minggu tidak ada
langkah dari partai, kami akan kembali dengan massa yang jauh lebih besar.
Perjuangan ini tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan," kata
Syeben.
Koalisi Nakes NTT menegaskan akan terus mengawal
penanganan kasus Dokter Icha hingga tuntas. Mereka mendesak aparat penegak hukum
mempercepat penyelidikan terhadap seluruh pihak yang telah dilaporkan,
sekaligus meminta pimpinan partai politik dan DPRD TTU mengambil langkah tegas
melalui mekanisme etik dan kelembagaan demi menjaga kepercayaan publik.
Sebelumnya, dua anggota DPRD TTU yang diduga
terlibat dalam kasus dugaan intimidasi terhadap Dokter Icha, yakni Veronika
Lake dan Therensius Lazakar, telah dinonaktifkan dari jabatannya. Sementara
itu, Norbertus Tubani hingga kini masih belum dinonaktifkan oleh partainya.
Kasus ini terus menjadi perhatian luas masyarakat
karena dinilai menyangkut perlindungan terhadap tenaga kesehatan yang
menjalankan tugas pelayanan publik. Koalisi Nakes NTT berharap proses hukum
berjalan secara transparan, profesional, dan memberikan rasa keadilan bagi
seluruh pihak.
Sumber: Kompas Regional.
